TAJDID.ID~Banyumas || Pendidikan bagi Muhammadiyah bukan sekadar proses pengajaran, melainkan jalan pencerahan. Spirit itulah yang terus dihidupkan secara konsisten di SMP Muhammadiyah Purwojati melalui kebijakan pemakaian batik bebas dan sepatu bebas setiap hari Rabu bagi seluruh peserta didik. Sebuah kebijakan sederhana, namun sarat makna ideologis dan kultural.
Kebijakan tersebut bukan sekadar variasi seragam, tetapi ikhtiar dakwah kultural yang berakar kuat pada gagasan KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan yang membebaskan dan memuliakan manusia. Sekolah tidak hanya mentransfer ilmu, melainkan membangun kesadaran, kepekaan sosial, serta menumbuhkan kecintaan pada nilai-nilai kebajikan yang hidup di tengah masyarakat.
Sejak awal, pendidikan Muhammadiyah tidak diarahkan untuk mencetak kepatuhan administratif belaka. KH. Ahmad Dahlan merintis sekolah sebagai ruang pembebasan dari kebodohan dan ketakutan untuk berpikir, sekaligus menjembatani iman dengan realitas kehidupan. Karena itu, setiap kebijakan sekolah sejatinya adalah pernyataan ideologis, bukan semata keputusan teknis.
Di SMP Muhammadiyah Purwojati, kebijakan batik bebas menjadi simbol dakwah kultural. Islam Berkemajuan tidak menafikan budaya, melainkan menyaring, memuliakan, dan mengarahkannya. Agama harus hadir dalam kehidupan nyata, menyapa keseharian, dan memberi makna pada realitas sosial, dan menguatkan identitas kebangsaan.
Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., menegaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter yang menyenangkan dan menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.
“Batik bebas kami maknai sebagai upaya menumbuhkan kesadaran bahwa Islam tidak bertentangan dengan budaya, sekaligus membangun karakter dan kepercayaan diri peserta didik,” ujar Sekretaris PCM Baturraden tersebut.
Dampak kebijakan ini dirasakan langsung oleh para siswa. Mufida Aulia Zahra, siswi kelas 8 yang mengaku lebih percaya diri dan nyaman mengikuti pembelajaran setiap hari Rabu. “Kalau pakai batik bebas rasanya lebih santai, tapi tetap sopan. Kami jadi lebih berani tampil dan tidak merasa dibeda-bedakan,” tuturnya.
Sementara itu, kebijakan sepatu bebas ditempatkan dalam bingkai adab dan kesetaraan. Spiritnya sejalan dengan keteladanan KH. AR Fakhruddin yang menekankan kesederhanaan dan empati. Melalui kebijakan ini, siswa diajak memahami bahwa setiap anak datang dari latar belakang yang beragam, dan sekolah adalah ruang bersama yang memuliakan semuanya tanpa kecuali.
Vicky Gonzales, siswa kelas 7B mengaku merasa senang dan bahagia dengan kebijakan penggunaan batik dan sepatu bebas setiap hari Rabu. Menurutnya, suasana sekolah menjadi lebih menyenangkan dan tidak kaku, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri tanpa meninggalkan nilai kerapian dan kebersamaan.
Setiap hari Rabu, suasana sekolah pun menjadi lebih cair dan dialogis, dihiasi ragam motif batik yang dikenakan siswa. Di ruang inilah pendidikan berkemajuan menemukan wujudnya: membahagiakan, memerdekakan, sekaligus mendisiplinkan.
Melalui ikhtiar sederhana namun bermakna ini, SMP Muhammadiyah Purwojati menegaskan kembali pesan para pendiri Muhammadiyah: bahwa pendidikan adalah dakwah paling sunyi namun paling berpengaruh. Dan dari ruang kelas yang ramah serta memuliakan manusia inilah peradaban Islam Berkemajuan terus ditumbuhkan (*)
✒️ Tarqum Aziz, JurnalisMu Banyumas Raya







