Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Hidup dan perjuangan selalu menuntut pilihan: kapan harus tegas, kapan harus lunak. Yang terlalu keras mudah patah, yang terlalu lembut mudah dilumat. Bukan sekadar prinsip pribadi, tetapi pelajaran sejarah bagi organisasi, pergerakan, dan bangsa.
Sejak awal abad ke-20, Kyai Ahmad Dahlan menegakkan Muhammadiyah dengan keteguhan yang tak tergoyahkan, sambil tetap luwes menyesuaikan diri dengan realitas sosial-politik kolonial. Beliau memulai pendidikan dan dakwah yang modern, namun tetap menjaga nilai agama dan budaya lokal. Keteguhan itu tidak menutup pintu musyawarah; keluwesan itu tidak mengurangi prinsip. Inilah keseimbangan yang menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
Perjuangan membangun bangsa pun mencatat pelajaran serupa. Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo, saat merumuskan dasar negara, menampilkan keteguhan yang berpadu dengan fleksibilitas. Mereka menegakkan prinsip tanpa menyingkirkan persatuan. Terlalu keras akan memecah, terlalu lembut akan mengorbankan idealisme. Titik tengah inilah yang menjaga keberlanjutan bangsa.
Kisah Buya Hamka pun memberi pelajaran penting. Sebagai ulama, sastrawan, dan intelektual, beliau tegas dalam mempertahankan prinsip keislaman dan keadilan sosial, namun tetap luwes menyesuaikan diri dengan realitas politik dan dinamika masyarakat. Saat menghadapi kekuasaan yang kaku atau rezim yang otoriter, Buya Hamka mampu menyampaikan kritik tanpa kehilangan keberanian atau integritas. Ia mencontohkan bahwa keteguhan dan keluwesan bukan lawan, tapi sahabat dalam perjalanan pergerakan dan dakwah.
Kini, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru menjelang Muktamar ke-49 di Sumatera Utara 2027. Banyak kader masih terjebak pada rasa cinta yang salah kaprah: loyalitas tanpa pemahaman, atau kritik yang terlalu lembut hingga aspirasi tersedak. Banyak pula yang hadir karena kepentingan sesaat, bukan karena pemahaman kaderisasi yang mendalam. Sejarah mengingatkan, organisasi yang kehilangan keseimbangan akan mudah patah atau dilumat oleh zaman.
Persaudaraan dan solidaritas tetap menjadi ujian. Terlalu menuntut menimbulkan konflik internal, terlalu mengalah memunculkan ketergantungan. Titik keseimbangan—keteguhan yang berpadu dengan keluwesan—adalah yang menjaga marwah Muhammadiyah. Kritik yang muncul dari nurani, fakta, dan keberanian menegakkan kebenaran akan menjadi cahaya bagi keputusan strategis Muktamar, bukan sekadar bunyi kosong.
Era digital menambah dimensi baru. Aspirasi kader, kritik, dan perdebatan kini mengalir melalui media sosial, konten kreator, dan saluran publik lain. Hukum keseimbangan tetap berlaku: terlalu keras mudah dipatahkan, terlalu lembut mudah diabaikan. Hanya yang tepat, yang lahir dari prinsip, nurani, dan strategi, yang akan mampu menavigasi Muhammadiyah menghadapi tantangan zaman.
Bangsa ini, seperti organisasi dan pergerakan Islam, membutuhkan keseimbangan itu. Titik di mana keteguhan berpadu dengan keluwesan, keberanian berpadu dengan kebijaksanaan. Titik itulah yang memungkinkan manusia, organisasi, dan bangsa bertahan, berkembang, dan tetap menjaga martabatnya—meski zaman berubah dan tantangan berganti.
Jangan terlalu keras, nanti mudah dipatahkan.
Jangan terlalu lembut, nanti mudah dilumatkan.
Di keseimbangan itulah kita menemukan kekuatan sejati—kekuatan yang diwariskan oleh Kyai Ahmad Dahlan, Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikusumo, Buya Hamka, dan para tokoh pergerakan Islam bagi bangsa dan Muhammadiyah, yang akan menuntun Muktamar 49 Sumatera Utara 2027 menjadi tonggak sejarah penuh hikmah. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








