TAJDID.ID~Medan || Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menggelar kuliah umum menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman Sp.S, M.Kes mengangkat tema “Dokter Islami” di Auditorium Kampus Jl. Gedung Arca No.53, Teladan Barat, Medan, Selasa (6/1).
Kuliah Umum dibuka langsung oleh Rektor Prof. Dr. Agussani, MAP dan dihadiri Wakil Rektor II, Prof. Dr. Akrim, M.Pd, Dekan FKIK dr. Siti Masliana Siregar, Sp.THT-KL., Subsp.Rino(K), para wakil dekan dan seratusan mahasiswa FKIK.
Prof. Agussani mengungkapkan, kedokteran Islami menjadi komitmen UMSU dalam menyelenggarakan pendidikan di Fakultas Kedokteran. Para mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu kedokteran, tapi juga mengikuti berbagai aktifitas yang mengasah mental spiritual yang disebut dengan nine golden habbit.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman mengajak para mahasiswa FKIK untuk mensyukuri nikmat karena tidak semua memiliki kesempatan menempuh pendidikan kedokteran, meski memiliki kemampuan. Setelah kuliah, selanjutnya dia berharap para mahasiswa bisa sukses mengikuti wisuda.
Namun ada satu hal yang harus direnungkan menjadi dokter sesungguhnya tergantung pertanyaan (to be), niatnya untuk menjadi orang yang mempraktekan ilmunya agar bermanfaat atau (to have) mendapatkan apa. “Banyak dokter yang disorot karena niatnya bukan to be tapi to have,” katanya.
Dalam kesempatan itu , dr. Agus Taufiqurahman berpesan agar mahasiswa kedokteran terus mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat cepat. Dokter Islami jangan disalahpahami dengan kembali ke zaman kuno.
Menurutnya, fakta saat ini harus dimaknai serius karena perubahan cepat dan dahsyat terjadi fi funia kedokteran yang menuntut kualitas pelayanan kesehatan semakin tinggi.
“Mutu layanan kesehatan makin tinggi, hanya yang mrmiliki keunggulan yang mampu bertahan. Belajar terus karena perubahan terus berlangsung dan dokter Islami artinya menjadi dokter yang menguasai lmu kedokteran mutakhir,” ungkap dr. Agus Taufiqurrahman. (*)




