TAJDID.ID~Gayo Lues || Semangat kemanusiaan mendorong Tim SDIT Muhammadiyah Manggeng PEDULI Kabupaten Aceh Barat Daya menembus medan berat menuju wilayah terdampak banjir bandang di Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues. Pada Sabtu, 3 Januari 2026, tim yang terdiri dari sembilan orang guru dan pengelola SDIT Muhammadiyah Manggeng berangkat menggunakan dua unit mobil dengan membawa bantuan kemanusiaan berupa sembako, pakaian layak pakai, Al-Qur’an, serta kebutuhan pokok lainnya.
Perjalanan menuju lokasi bencana bukan perkara mudah. Tim harus menempuh waktu sekitar tujuh jam melalui jalur Terangun–Blangpidie untuk mencapai Rikit Gaib. Sepanjang perjalanan, masih tampak jelas dampak bencana alam: beberapa titik badan jalan longsor, ruas jalan yang tergerus derasnya aliran sungai, serta jembatan penghubung antar desa yang terputus, menyisakan keterisolasian bagi warga setempat.
Salah satu desa dengan dampak terparah adalah Desa Tungel Baru, Kecamatan Rikit Gaib. Desa ini dihantam banjir bandang dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter. Sejumlah rumah warga hanyut dan rusak berat. Hingga kini, lumpur setinggi hampir satu meter masih mengendap di dalam rumah-rumah, memaksa warga mengungsi ke sekolah maupun ke rumah tetangga yang masih dapat dihuni. Hamparan sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan warga berubah menjadi lahan tertutup lumpur tebal, kayu-kayu besar, dan sisa material banjir.
Saat menyalurkan bantuan secara langsung, tim mendengar kesaksian warga yang menggambarkan detik-detik mencekam saat banjir datang. Warga mengaku banjir menerjang sekitar pukul 04.00 dini hari. Kondisi yang serba cepat membuat mereka tidak sempat menyelamatkan harta benda dan memilih berlari ke wilayah yang lebih tinggi demi menyelamatkan nyawa.
Marsidar (38), warga Desa Penomon Yaya, Kecamatan Rikit Gaib, menuturkan bahwa banjir yang melanda wilayahnya pada 26 November 2026 datang secara tiba-tiba dari arah pegunungan di depan rumahnya, lalu disusul arus deras dari arah berlawanan.
“Kejadiannya sangat cepat, kami seperti dikepung banjir dan sangat ketakutan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia menceritakan bahwa selama dua hari keluarganya terisolasi tanpa akses bantuan. Pada hari ketiga, mereka memilih berjalan kaki menuju Blangkejeren selama sekitar delapan jam.
“Kami memilih jalan kaki ke Blangkejeren daripada harus mati di sini,” katanya mengenang masa-masa sulit tersebut.
Di Desa Tungel Baru, kesedihan serupa juga dirasakan Nurjanah (55). Ia tak kuasa menahan tangis saat menceritakan rumahnya yang hanyut terbawa arus banjir. Tak satu pun harta benda berhasil diselamatkan. Saat ini, ia terpaksa menumpang di rumah tetangga. Kepada Tim SDIT Muhammadiyah Manggeng PEDULI, Nurjanah berharap adanya perhatian serius berupa bantuan pembangunan rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Selain menyalurkan bantuan langsung kepada warga terdampak, Tim SDIT Muhammadiyah Manggeng PEDULI juga menyerahkan bantuan logistik dan uang tunai ke Posko Bencana Alam Muhammadiyah Gayo Lues yang berlokasi di Masjid At-Taqwa, Kota Blangkejeren. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Sekolah SDIT Muhammadiyah Manggeng, Risa Muliana, S.Pd.I., kepada Ketua LAZISMU Gayo Lues, Dedy M. Yasin, dengan didampingi unsur PDM, MDMC, dan BKM Masjid At-Taqwa Gayo Lues.
Menurut Dedy M. Yasin, LAZISMU bersama pengurus ‘Aisyiyah PDA Gayo Lues berencana melanjutkan pendistribusian bantuan ke sejumlah titik terdampak lainnya, di antaranya Desa Cane Toa dan Desa Aeh Bobo, pada hari berikutnya.
Aksi kemanusiaan ini menjadi wujud nyata solidaritas dan kepedulian Persyarikatan Muhammadiyah terhadap warga yang tertimpa musibah, sekaligus pengingat bahwa di tengah keterbatasan dan medan yang sulit, nilai kemanusiaan harus terus diperjuangkan. (*)
Kontributor: Ustazah Nadya Pebrianti








