Oleh: M. Risfan Sihaloho
Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya. (QS al~Baqarah: 42)
Ayat di atas sesungguhnya begitu sederhana, cukup lugas, dan sangat tegas, betapa Allah SWT melarang manusia untuk mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.
Namun entah mengapa, sebagian manusia justru menjadikannya sekadar hiasan dinding, bukan panduan sikap. Nyatanya, sepanjang sejarah, tidak sedikit manusia justru hobi bermain di wilayah yang Tuhan sendiri sudah wanti-wanti, yakni zona abu-abu. Sebuah wilayah nyaman bagi mereka yang enggan jelas jadi siapa.
Sejak awal peradaban, panggung kehidupan manusia di permukaan bumi memang tidak pernah sepi dan luput dari kisah klasik, yakni pertarungan abadi antara dua kutub: hitam dan putih, adil dan zalim, benar dan salah.
Ini duel abadi, episode tanpa jeda, season tanpa akhir, yang terus diperankan manusia. Dengan freewill dimilikinya, manusia diberi kebebasan penuh untuk memilih posisi dan peran; menopang kebaikan atau melayani keburukan.
Mau jadi pembela kebenaran? Bisa. Mau jadi kaki tangan kebatilan? Juga bisa. Bahkan mau jadi penonton, komentator, atau pengkhianat? Sama-sama tersedia.
Namun pada zaman ketika absurditas menjadi rutinitas, semakin banyak manusia kehilangan jati diri. Sebagiannya bahkan dengan sukarela merendahkan harga dirinya sendiri demi sedikit rasa aman atau setumpuk keuntungan sesaat.
Dan lahirlah kelas sosial paling ramai peminat di era modern: “Kaum Abu-Abu”.
Mereka ini unik. Jika hitam cenderung pekat dan putih konsisten terang, si abu-abu hidup di ruang yang fleksibel. Di sana, semua bisa dikompromikan. Prinsip? Dapat dinego. Keberpihakan? Tergantung angin bertiup ke arah mana dan tergantung siapa yang menang hari ini. Integritas? Hanya jargon yang dipajang saat konferensi pers.
Ciri-cirinya kaum abu-abu sederhana: Berkepala dua. Pasang kaki di mana-mana. Bicara ma’ruf, membela munkar. Di atas mimbar tampak suci, di ruang gelap penuh transaksi. Siang jadi penjaga idealisme, malam jadi calo kezaliman.
Kaum abu-abu ini bukan sekadar oportunis; mereka adalah seniman dalam mencampur hitam dan putih menjadi campuran warna yang tampak netral padahal berbahaya. Mereka tampak moderat, padahal seringkali hanya pengecut yang memoles kepentingan pribadi dengan jargon kebijaksanaan.
Fenomena ini semakin berbahaya ketika sikap abu-abu justru dipuji sebagai kedewasaan, dilabeli sebagai moderasi, bahkan dijual sebagai kebijaksanaan. Padahal seringkali itu bukan kedewasaan—melainkan sesungguhnya bentuk ketakutan. Bukan moderasi—melainkan keengganan menentukan sikap. Bukan kebijaksanaan, melainkan kepengecutan yang dibalut kata-kata halus.
Padahal, tidak semua nilai bisa dibuat “tengah-tengah”. Tidak semua bentuk kezaliman bisa ditoleransi atas nama pragmatisme. Tidak semua kebenaran bisa dicampur seperti cat tembok demi kenyamanan publik. Tidak semua nilai patut dikompromikan. Kebenaran bukanlah karet gelang yang bisa direnggangkan sesuai kepentingan.
Parahnya lagi, sering kaum abu-abu suka berdalil, “Realita tidak sesederhana hitam dan putih.”
Benar. Hidup memang kompleks. Tapi kompleksitas bukan alasan untuk memelihara kezaliman atau menari di atas dua perahu sambil memuji diri sebagai bijak bestari. Kompleksitas bukan tiket bebas nilai. Benar tetap benar, sekalipun diucapkan sendirian. Salah tetap salah, sekalipun didukung kerumunan.
Epilog
Pada akhirnya, hitam tetap hitam, putih tetap putih. Tapi zona abu-abu akan terus menggoda mereka yang ingin menikmati keuntungan tanpa keberanian. Ingin terlihat baik tanpa memikul risiko. Ingin dianggap cerdas padahal hanya sedang melarikan diri dari kejelasan moral.
Lantas, sejumlah pertanyaannya sederhana layak diajukan: Di tengah perseteruan abadi antara hitam dan putih ini, kita memilih berdiri di mana? Di panggung besar pertarungan nilai ini, kita memilih peran apa? Pembela kebenaran? Pengepul kebatilan? Atau penikmat nyaman wilayah abu-abu?.
Jawabannya: terserah Anda. Namun yang pasti sejarah tidak pernah menulis nama mereka yang tidak jelas posisi. Dan kebenaran tidak pernah membutuhkan pembela yang separuh hati dan kompromistis. (*)








