Oleh: M. Risfan Sihaloho
Pengerajin Anyaman Kata di Gerakan Rakyat Menulis (GERAM)
Akhir-akhir ini, rakyat sering dijejali serangkaian kebijakan yang kian terasa menjauh dari semangat pro-rakyat. Bersamaan dengan itu, di panggung politik, elit-elit yang seharusnya menjadi teladan justru memperlihatkan sikap dingin, seolah kehilangan empati. Bahkan perilaku konyol mereka sering melukai nurani rakyat, menambah bara di dada yang sejak lama terpendam.
Namun sejarah selalu mengajarkan bahwa kesabaran rakyat ada batasnya. Rakyat bisa diam, rakyat bisa bertahan, tapi bukan berarti mereka pasrah. Saat rasa ketidakadilan menumpuk, ketika ruang hidup terhimpit, dan suara hati diabaikan, rakyat akan bangkit dengan caranya sendiri. Dan ketika itu terjadi, energi perubahan yang lahir dari amarah kolektif sulit terbendung.
Ya. Sekarang luka itu sudah menganga. Kekecewaan sudah membuncah. Bara sudah menyala. Dan jika bara itu menyatu dengan massa rakyat, ia akan menjelma menjadi api besar yang tak seorang pun bisa padamkan. Inilah amarah yang tak bisa dibeli dengan janji. Inilah gelombang yang tak bisa dihentikan dengan barikade. Inilah suara yang tak bisa diredam dengan intimidasi.
Kemarahan massa juga bisa diibaratkan seperti gelombang air bah. Awalnya ia hanyalah riak kecil—keluhan di warung kopi, obrolan getir di media sosial, atau keluh kesah di jalanan. Tapi riak itu bisa berubah, menjelma menjadi gelombang besar. Gelombang yang menyapu bersih apa saja yang dianggap mengkhianati amanat rakyat. Gelombang yang menuntut perubahan, bahkan dengan risiko benturan.
Mirip Dong-chul
Tekait perilaku psikologis massa rakyat ini, penulis teringat dengan kisah Dong-chul (diperankan Ma Dong-seok) dalam film “Unstoppable” (2018). Dalam film itu Dong-chul digambarkan sebagai sosok sederhana yang awalnya memilih diam, bersabar, bahkan menahan diri meski selalu dipandang remeh.
Namun, ketika keluarganya diganggu dan martabatnya diinjak, kesabarannya meledak. Dari situlah muncul kekuatan dahsyat yang membuatnya tak terbendung. Ia berubah menjadi badai yang menggilas siapa pun yang mencoba menghalang dan menantangnya.
Narasi itu selaras dengan amuk rakyat. Seperti Dong-chul, rakyat bisa lama menahan sakit, bersabar meski terus disakiti, bahkan berusaha tetap memaklumi. Tetapi, ketika garis kesabaran terlewati, ketika martabat diinjak, rakyat akan bangkit dengan amarah kolektif yang jauh lebih kuat daripada sekadar keluh kesah. Dan ketika rakyat sudah bergerak, seperti Dong-chul yang tak bisa dihentikan, mereka menjadi gelombang perubahan yang “unstoppable”.
Hikmah yang bisa dipetik dari film laga itu adalah: jangan pernah meremehkan kesabaran orang biasa. Jangan anggap enteng suara kecil rakyat. Luka kecil yang diabaikan bisa menjelma jadi amarah besar. Dan ketika amarah itu menyatu, ia bisa melahirkan energi sosial yang bergerak liar, melampaui sekat-sekat politik dan ideologi.
Penutup
Peristiwa tragis dan miris beberapa hari belakangan ini semestinya menjadi pelajaran bangsa ini. Sudah saatnya para elit dan pemangku kekuasan di negeri mau introspeksi diri. Rakyat yang murka bukanlah musuh negara, melainkan pengingat keras bahwa negara telah melenceng dari jalannya. Mereka cuma menuntut keadilan, kepastian, dan martabat yang seharusnya menjadi hak setiap warga.
Wahai para elit, dengarlah baik-baik jeritan dan teriakan rakyat. Kalian boleh punya pasukan, senjata, dan kursi kekuasaan.Tapi rakyat punya sesuatu yang lebih besar: kemarahan dan keberanian untuk melawan.
Sadarlah. Sejarah tak pernah berpihak pada penguasa yang menutup mata dari penderitaan rakyatnya. Sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani berdiri, berteriak, dan melawan ketidakadilan.
Ketika rakyat bergerak, mereka adalah gelombang besar dan kobaran api “unstopable”. Seperti air bah, sulit dibendung. Ibarat kobaran api, musykil tuk dipadamkan. (*)