Oeh: Muhammad Fijri Nurfadilah
Ketua Advokasi dan Kebijakan Publik PD IPM Garut
Di jalanan ibu kota, suara rakyat berkumpul menjadi riuh. Mereka datang bukan untuk sekadar berteriak, melainkan untuk menagih janji bahwa demokrasi bukan milik segelintir orang di kursi empuk, melainkan milik semua yang hidup di tanah air ini.
Namun, sejarah kembali menulis dengan tinta yang pahit. Di tengah lautan manusia yang berdiri dengan keberanian, satu nyawa melayang seorang pengemudi ojek online, yang tubuhnya terhempas di bawah roda mobil Brimob. Ia tak menyerukan aspirasinya dengan penuh kekuatan.
Demokrasi dan Luka yang Terbuka
Kita sering mendengar bahwa demokrasi adalah ruang dialog. Tapi mengapa di jalan-jalan itu, suara rakyat justru dijawab dengan gas air mata, dengan sirine, dengan kendaraan yang tak lagi peduli arah? Demokrasi, yang seharusnya tumbuh dari kesadaran akan nilai manusia, justru terjebak dalam labirin kekerasan.
Socrates pernah berkata, “Keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Maka, apakah adil ketika suara rakyat ditempatkan sebagai ancaman, bukan aspirasi? Apakah adil ketika aparat lebih sibuk menjaga bangunan, bukan menjaga manusia?
Nyawa ialah Harga yang Tak Terganti
Seorang driver ojol yang jatuh itu mengajarkan kita betapa rapuhnya hidup di tengah sistem yang abai. Ia bukan sekadar statistik korban, ia seorang anak, mungkin ayah, mungkin suami yang mimpinya diputus bukan oleh takdir murni, melainkan oleh kelalaian.
Dalam filsafat, ada gagasan bahwa hidup manusia adalah nilai tertinggi. Karena dari kehidupanlah lahir cinta, harapan, dan masa depan. Hilangnya satu nyawa seharusnya cukup untuk mengguncang nurani sebuah bangsa.
Dari Jalanan Menuju Hati Nurani
Tragedi ini adalah cermin yang retak. Ia memperlihatkan bahwa kita belum sungguh-sungguh belajar: bahwa rakyat bukan musuh, bahwa aksi bukan ancaman, bahwa keamanan tidak boleh menelan korban.
Jika demokrasi ingin tetap bernyawa, ia harus berakar pada kemanusiaan. Polisi tidak boleh hanya menjadi tangan besi, tapi juga harus menjadi telinga yang mendengar, mata yang jernih, dan hati yang penuh kasih. Sebab tugas mereka bukan menjaga gedung, melainkan menjaga kehidupan.
Jejak yang Tak Boleh Hilang
Di jalanan itu, seorang driver ojol telah meninggalkan jejaknya. Ia pergi membawa pesan bahwa kelalaian bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi pengkhianatan pada nilai kemanusiaan.
Mungkin tubuhnya telah tiada, tapi suaranya menyatu dengan gema rakyat bahwa tak ada demokrasi tanpa penghormatan pada nyawa. Tak ada keadilan tanpa keberpihakan pada manusia. Dan tak ada bangsa yang benar-benar hidup jika rakyatnya bisa mati sia-sia di jalanan
Menanggapi hal ini Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) memandang dengan penuh duka atas peristiwa yang merenggut nyawa seorang pengemudi ojek online dalam kericuhan demonstrasi di sekitar gedung DPR. Bagi kami, tragedi ini bukan hanya soal kelalaian aparat, tetapi juga potret buram bagaimana nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi kerap terabaikan.
Kami percaya, pelajar harus tumbuh dengan kesadaran kritis bahwa setiap nyawa adalah suci, setiap manusia adalah amanah, dan setiap bentuk kekuasaan sejatinya ditujukan untuk menjaga kehidupan, bukan menghilangkannya.
Demokrasi tidak boleh dilumuri darah rakyat kecil. Aksi massa bukan musuh negara, melainkan bagian dari denyut sehat kehidupan berbangsa. Ketika aparat bertindak lalai hingga menelan korban, itu bukan sekadar kesalahan prosedur melainkan luka moral yang harus segera diobati dengan kejujuran, tanggung jawab, dan perbaikan nyata.
Sebagai pelajar, kami belajar dari tragedi ini bahwa memperjuangkan kebenaran bukan sekadar berada di jalanan, melainkan juga membangun kesadaran, menebarkan keberanian, dan menegakkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap benturan kepentingan, yang paling rentan selalu rakyat kecil. Dan dari situlah pelajar harus hadir menjadi mata nurani bangsa, menyuarakan kebenaran, serta menolak segala bentuk kekerasan atas nama apa pun.(*)