• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Sabtu, Agustus 30, 2025
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Affan Tewas, Impunitas, dan Negara yang Membisu

Farid Wajdi by Farid Wajdi
2025/08/29
in Muhammadiyah, Nasional, Opini
0
Affan Tewas, Impunitas, dan Negara yang Membisu

Detik-detik saat kendaraan taktis (rantis) menabrak dan menggilas pengemudi ojol.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Farid Wajdi

Ketua Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MHH PWM) Sumatera Utara

 

Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, pengemudi ojek online berusia 21 tahun yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di depan DPR, kembali membuka borok lama yang seolah tak pernah sembuh: kekerasan aparat dalam menangani unjuk rasa. Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan di tengah kericuhan, melainkan potret telanjang betapa negara masih gagal memastikan hak warga untuk menyampaikan pendapat di muka umum tanpa rasa takut.

Kapolri memang sudah meminta maaf. Propam katanya bergerak. Tujuh anggota Brimob diperiksa. Tetapi, bukankah kita sudah terlalu sering mendengar narasi serupa setiap kali darah rakyat tumpah di jalanan? Kata-kata penyesalan yang diucapkan aparat selalu berakhir klise, tanpa menjelma menjadi reformasi nyata. Yang tersisa hanyalah siklus berulang: tragedi, permintaan maaf, penyelidikan internal, dan lupa!

 

Nyawa Bukan Statistik

Kita harus menolak lupa. Yang hilang nyawa bukan angka statistik, melainkan manusia dengan mimpi, keluarga, dan masa depan. Affan hanyalah seorang anak muda yang bekerja keras menghidupi diri. Tetapi di hadapan kendaraan raksasa negara, ia tumbang tanpa daya. Dan ketika rakyat kecil menjadi korban, rasa sakit itu menjelma simbol: betapa Polri masih memandang warga bukan sebagai pemilik kedaulatan, melainkan sekadar kerumunan yang bisa dibubarkan dengan besi dan ban rantis.

Pertanyaan menggugat kini tak bisa dihindari: apakah kepolisian tidak punya standar penanganan demonstrasi? Bukankah ada Perkap tentang pengendalian massa, penggunaan kekuatan, dan penghormatan hak asasi manusia? Faktanya, regulasi itu kerap tinggal kertas kosong. Di lapangan, yang bekerja justru naluri represif, mentalitas militeristik, dan budaya impunitas.

Baca juga:

  • Lawan Impunitas, Tegakkan Keadilan!
  • DPP IMM Desak Kapolri Pecat Aparat yang Represif terhadap Demonstran di DPR
  • Dari Jalanan ke Nurani : IPM dan Panggilan Kemanusiaan

 

Kekerasan aparat terhadap demonstrasi bukanlah insiden tunggal, melainkan pola. Dari tragedi 1998, Semanggi, hingga aksi mahasiswa beberapa tahun lalu, benang merahnya sama: demonstran diperlakukan sebagai ancaman, bukan pemilik hak konstitusional. Dan setiap kali publik bertanya, jawabannya selalu dalih: “situasi chaos”, “sesuai prosedur”, atau “sedang diperiksa Propam”.

Di sinilah letak kekeliruan kepolisian: gagal menginternalisasi paradigma hak asasi manusia. Hak untuk berpendapat dijamin UUD 1945 dan instrumen HAM internasional. Aparat seharusnya menjadi pelindung, bukan algojo di lapangan. Namun hukum sering berhenti di depan barikade, suara rakyat dibungkam dengan gas air mata, pentungan, hingga rantis yang mematikan.

 

Budaya Impunitas

Mengapa kekerasan terus berulang? Jawabannya terang: budaya impunitas. Sanksi jarang menembus ranah pidana, kebanyakan berhenti di sanksi etik atau mutasi jabatan. Tak heran jika berkembang keyakinan bahwa “kesalahan bisa ditutupi, tanggung jawab bisa dihindari”. Selama lingkaran impunitas ini tak diputus, darah rakyat akan selalu menjadi tumbal.

Karena itu, penyelesaian kasus Affan tak boleh berhenti pada ritual administratif. Ini saatnya negara melakukan pembenahan struktural: memastikan SOP dijalankan dengan prinsip proporsionalitas, menanamkan pelatihan berbasis HAM, serta membuka ruang pengawasan eksternal dari Komnas HAM, Ombudsman, hingga organisasi masyarakat sipil.

Lebih jauh, publik berhak menuntut akuntabilitas pidana, bukan sekadar etik. Kapolda-Kapolri harus bertanggung jawab! Nyawa yang hilang tidak bisa ditebus dengan mutasi atau permintaan maaf. Polisi yang bersalah harus diadili sebagaimana warga sipil diadili. Hukum harus bekerja bukan hanya bagi rakyat kecil, tetapi juga bagi mereka yang berseragam.

Affan Kurniawan kini telah pergi. Namun namanya jangan dibiarkan larut dalam daftar panjang korban kekerasan aparat yang terlupakan. Dari Affan, bangsa ini seharusnya belajar: negara yang membiarkan aparat membunuh rakyatnya tanpa pertanggungjawaban sejatinya sedang membunuh dirinya sendiri. (*)

 

Tags: Farid WajdiImpunitasPengemudi Ojol Tewas Terlindas Rantis Brimob
Previous Post

Siswa MI Muhammadiyah Unggul Aceh Barat Daya Lakukan Kunjungan Edukatif ke Pabrik Tahu Geulumpang Payong

Next Post

Hentikan Brutalitas Aparat!

Related Posts

Pengemudi Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Content Writer: Bentuk Extrajudicial Killing

Pengemudi Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Content Writer: Bentuk Extrajudicial Killing

29 Agustus 2025
111
MK Larang Rangkap Jabatan, Ethics of Care: Saatnya Menolak Rente Kekuasaan

MK Larang Rangkap Jabatan, Ethics of Care: Saatnya Menolak Rente Kekuasaan

28 Agustus 2025
119
Dilema Bintang Mahaputera untuk Eks Koruptor: “Apakah Korupsi Bisa Ditebus?”

Dilema Bintang Mahaputera untuk Eks Koruptor: “Apakah Korupsi Bisa Ditebus?”

28 Agustus 2025
126
Kritisi Pembenahan Infrasutuktur Pemko Medan, Ethic of Care: Bukannya Lebih Baik, tapi Justru Memburuk

Ethics of Care: Janji Tinggal Janji, Medan Masih Kusam

24 Agustus 2025
116
Lawan Impunitas, Tegakkan Keadilan!

Lawan Impunitas, Tegakkan Keadilan!

21 Agustus 2025
120
Ethics of Care Desak Evaluasi Total Proyek Mangkrak Pemkot Medan: “Jangan Biarkan Rakyat Terus Jadi Korban”

Ethics of Care Desak Evaluasi Total Proyek Mangkrak Pemkot Medan: “Jangan Biarkan Rakyat Terus Jadi Korban”

18 Agustus 2025
124
Next Post
Hentikan Brutalitas Aparat!

Hentikan Brutalitas Aparat!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In