TAJDID.ID~Medan || Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid III dibuka secara resmi oleh Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid – III kali ini mengusung tema “Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”. Konferensi diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah diikuti para mufasir dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada konferensi mufasir Muhammadiyah jilid-III yang berlangsung 28-30 Agustus di Kulonprogo itu melibatkan tiga kader tarjih atau ulama muda Muhammadiyah asal Sumatera Utara, ketiganya adalah : Faisal Amri Al-Azhari S.Th.I MAg (Langkat) , Dzulhajj ‘Aeyn AB Siregar S.I.Kom, SPd, M.I.Kom (Medan) dan Nur Fauzi S.Sos, M.Sos ( Mandailing Natal)
Bagi Faizal Amri ini adalah konferensi ke-3 yang diikutinya sedangkan bagi Dzulhajj ‘Aeyn AB Siregar ini adalah konferensi kedua dan bagi Nur Fauzi Lubis merupakan konferensi pertama yang diikutinya. Kehadiran tiga peserta asal Sumatera Utara menjadi sebuah kebanggaan bagi daerah ini karena mampu bergabung bersama 51 mufasir dari seluruh Indonesia.
Ketiganya menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada ketiganya hingga mereka dapat bergabung bersama mufasir lainnya.
Penulis Tafsir At-Tanwir
Pada konferensi tersebut, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas menjelaskan lebih lanjut terkait prosesi penyelenggaraan Konferensi Mufasir Muhammadiyah III ini. Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa para Mufasir diundang secara terbuka dan telah disaring sebanyak 51 tulisan terpilih dari keseluruhan 89 peserta yang mengirimkan tulisan tafsir At-Tanwir.
“Konferensi Mufasir ini bertujuan untuk menjaring mufasir-mufasir yang menulis tafsir at-tanwir. Mereka diundang secara terbuka dan disaring dari 89 peserta menjadi 51 peserta,” ucap Hamim pada agenda pembukaan Konferensi At Tanwir III yang diadakan di Kulonprogo, Yogyakarta, pada Kamis (28/8).
Selanjutnya, selaras dengan tema Konferensi Mufasir III yaitu untuk mewujudkan Gerak Pemikiran Tajdid yang responsif dan dinamis, Hamim menjelaskan bahwa gerak dakwah Muhammadiyah harus terus hidup dan memiliki jiwa yang berlandaskan pada ayat-ayat Al Quran.
“Quran yang hidup dan menjadi jiwa Muhammadiyah adalah Surah Al Maun, di mana ini menjadi pijakan bagi kita untuk melakukan transformasi masyarakat yg masih pra modern menjadi masyarakat modern. Melalui tafsir at-tanwir ini kita berharap yang hidup di muhammadiyah bukan hanya al maun saja, tapi juga seluruh isi al quran,” jelasnya.
Dengan berlandas pada seluruh ayat-ayat Al Quran, maka Hamim menambahkan harapannya agar Muhammadiyah dapat hidup dengan lebih besar dalam rangka mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin (menghadirkan rahmat bagi semesta alam).
“Dengan Al maun, Muhammadiyah telah menunjukkan kebaikan hidup, dan dengan al quran secara keseluruhan diharapkan Muhammadiyah dapat hidup lebih besar mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah dan didakwahkan oleh Nabi untuk mewujudkan hayyah thoyyibah,” tutur Hamim.
Menurut Hamim, secara sederhana hayyah thayyibah dapat diwujudkan dengan iman dan amal saleh sehingga diharapkan hal tersebut menghasilkan tiga hal yaitu kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan.
“Pertama, lahum ajruhum ‘inda rabbihim (sejahtera se sejahteranya); Kedua, lā khaufun ‘alaihim (Tidak ada ketakutan jenis apapun), damai sedamai damainya; Dan terakhir, wa lā hum yaḥzanụn (tidak ada kesedihan dalam semua prosesnya) atau bahagia sebahagia bahagianya,” paparnya.
Maka untuk mewujudkan bekal tersebut, Hamim menyebut inilah yang menjadi landasan agar jiwa tafsir at-tanwir dapat diwujudkan sesuai dengan paham agama Muhammadiyah dan landasan teologis untuk transformasi umat islam menjadi masyarakat modern. (Bhisma/Syaifulh)