Karya: Laelatus Zakiya
Namaku Diva Anastasia. Orang-orang biasa memanggilku Diva. Anak pertama dari dua bersaudara. Aku sangat bersyukur terlahir di keluarga sederhana ini. Kedua orang tuaku selalu mendukung setiap mimpi-mimpiku.
Setelah sempat ditolak beberapa kali di PTN impianku, akhirnya aku diterima di salah satu Universitas Negeri pada program studi Pendidikan Bahasa Indonesia yang ada di kotaku. Mungkin takdir lebih memilih agar aku tidak jauh-jauh dari rumah. Hanya butuh dua jam untuk sampai ke kampus. Sesuai saran orang tuaku, aku tinggal di sebuat kost-an agar tidak terlalu capek. Sekitar sepuluh menitan dari kost-san menuju kampus.
Setelah selesai ospek secara online, tibalah saatnya kegiatan perkuliahan yang dilaksanakan secara luring. Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah, dan kelasku sepakat mengadakan acara meet up perdana setelah pulang kuliah nanti.
Entah bagaimana awalnya, Rangga teman sekelasku mengajakku berangkat bersama. Padahal kita tidak pernah saling kenal sebelumnya. Hanya sekedar kenal lewat online saat ospek. Tapi pikirku tidak masalah kita berangkat bersama, toh dia akan menjadi temanku nanti.
Tepat pukul 8 pagi Rangga sampai di kost-sanku, kita pun langsung berangkat ke kampus. Di perjalanan kita sempat ngobrol. Tak kusangka, Rangga yang ku kira orangnya sedingin es, ternyata pandai juga melucu. Bertolak belakang sekali dengan Rangga yang kukenal lewat online, cuek.
Sampailah kita dikampus. Ternyata kita datang terlalu awal.
“Div, kamu sudah pernah ke kampus sebelumnya?” Tanya Rangga kepadaku.
“Belum, ini pertama kali aku ke kampus.” Jawabku.
“Mau muter-muter kampus dulu nggak?”
“Ayok, aku juga pengin tau gedung-gedung di kampus ini.”
Kami pun berjalan menuju gedung yang paling dekat dengan parkiran kampus. Tak kusangka, aku sekarang sudah menjadi seorang mahasiswa. Cita-citaku menginjakkan kaki di kampus sekarang sudah tercapai. Kulihat satu persatu ruang kelas yang terlihat rapi dengan jejeran kursi mahasiswa. Hatiku merasa senang sekali bisa melihat pemandangan seperti ini.
Tiba-tiba Rangga menarik tanganku dan menunjuk kantin yang berada dipojok. Sepertinya dia lapar, terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat. akupun mengangguk, tanda mengiyakan ajakan Rangga. Langsung saja Rangga masuk ke kantin, sedangkan aku menunggu di depan kantin. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan tangan kosong. Orang aneh memang.
“Kita duduk disana yuk.” Rangga menuding tempat duduk yang tidak jauh dari kantin. Aku hanya diam dan mengikuti langkah Rangga.
Rangga mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Nampak dua botol air mineral dan roti coklat di tangan Rangga. Dia membuka satu botol air mineral tersebut.
“Nih minum dulu Div.” Rangga menyodorkan botol air mineral kepadaku.
“Buatku?” Aku sedikit kaget.
“Iyalah, makan juga rotinya.”
“Buatmu ajalah, aku nggak laper.”Aku menolak.
“Kalo aku bilang makan ya makan.” Rangga memaksa.
Akhirnya mau tidak mau aku harus memakannya sebagai tanda menghargai pemberian Rangga. Ternyata enak juga rotinya, aku suka wkwk.
Kita mulai mengobrol tentang dunia perkuliahan dan sesekali bercanda, membuatku nyaman berteman dengannya. Sepertinya kita akan menjadi teman dekat.
Setelah makanan habis, kita langsung menuju ke ruang kelas. Terlihat sudah banyak mahasiswa berada dalam ruang kelas. Aku dan Rangga pun masuk. Aku langsung menuju bangku sebelah Rani, teman dekatku selama online. Tidak lama kemudian dosen masuk. Dan semua mahasiswa beranjak membenarkan posisi duduk masing-masing. Perkulihan pun dimulai.
Setelah selesai perkuliahan, seperti yang direncanakan sebelumnnya, kelasku mengadakan meet up perdana di sebuah cafe kecil yang tidak jauh dari kampus. Acara pun berjalan dengan cukup meriah. Mulai dari pengenalan satu persatu teman satu kelas, sambutan dari kosma, sampai beberapa game mini yang bisa mencairkan suasana menjadi tidak cangggung. Hari yang cukup menyenangkan.
Tidak terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat, matahari hampir tumbang. Setelah selesai foto-foto bersama kami memutuskan untuk segera pulang. Rangga menawariku tumpangan. Akupun langsung mengiyakan karena hari juga sudah sangat sore. Rangga mengantarku sampai depan kost-san.
“Makasih banyak ya Rang.” Ucapku.
“Sama-sama. Besok berangkat kuliah bareng ya, searah ini.”
“Boleh, besok kabarin kalau udah sampai depan kost-san.”
“Oke siap.”
Begitulah awal ceritaku di dunia perkuliahan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perkuliahanku berjalan dengan sangat lancar. Aku sudah mulai beradaptasi dengan dunia perkuliahan. Aku dan Rangga pun sudah semakin dekat. Baru pertama kali ini aku bertemu seorang laki-laki yang begitu peka, humoris dan satu frekuensi.
***
Aku menarik selimut hendak tidur. Bagaikan disambar petir di siang bolong. Datang kabar duka dari rumah. Ayahku masuk ICU. Dan kecewanya, aku dapat kabar itu dari tetanggaku. Ibuku mencoba menutupi masalah ini dariku. Seketika tubuhku lemas mendengar kabar itu. Tetanggaku bilang ayah masuk ICU karena terkena serangan jantung. Ingin rasanya aku menangis sekencang mungkin. Sedih, kecewa, dan marah menjadi satu. Teman kost-san ku mencoba menenangkan saat diriku mulai menitikkan air mata. Namun air mataku tak dapat lagi dibendung, mengalir begitu saja tanpa ijin. Sampai akupun terlelap dalam keadaan menangis.
Besoknya aku bangun dalam keadaan mata sedikit bengkak. Hari ini aku ada kuliah, dan jadwalku presentasi. Aku bersiap-siap dan seperti biasa Rangga menjemputku. Di perjalanan kampus aku hanya diam, tidak seperti biasanya.
“Kamu kenapa Div? Matamu bengkak, habis nangis?” Tanya Rangga.
“Enggak, aku nggak papa, lagi sakit mata.” Aku mencoba menutupinya.
“Jangan bohong, kamu beda loh hari ini. Tidak seperti biasanya, ceria.”
“Aku beneran nggak papa, lagi nggak enak badan aja.”
“Yaudah iya, habis selesai kuliah kamu langsung pulang istirahat ya.”
“Iya iya.”
Tibalah di kampus tepat saat dosen hendak masuk kelas. Aku dan Rangga buru-buru masuk ke dalam kelas. Perkuliahan pun dimulai. Setelah dosen selesai mengabsen mahasiswa, tibalah saatnya aku presentasi. Meskipun sebenarnya pikiranku sudah kemana-kemana aku berusaha menfokuskan diri agar presentasiku tidak gagal. Berat rasanya berusaha bersikap tetap profesional dikala keadaan tidak baik-baik saja.
Dengan susah payah memfokuskan diri, akhirnya aku selesai presentasi. Perkuliahan pun dilanjutkan dengan beberapa tambahan materi dari dosen dan setelah itu perkuliahan diakhiri. Sedikit lega rasanya, namun pikiranku masih memikirkan bagaimana keadaan ayah sekarang ini. Rangga mengajaku pulang.
“Makasih ya Rang.” Ucapku.
“Sama-sama, masuk terus langsung minum air anget yang banyak, habis itu istirahat.”
“Iyaa Rang.”
“Aku pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita sama aku.”
“Iya Rang, hati-hati di jalan.”
Rangga langsung pulang. Beberapa saat kemudian Rangga sudah tidak lagi nampak. Aku segera memesan ojek online. Tadi malam tetanggaku bilang, ayahku dilarikan ke rumah sakit yang masih satu kota dengan tempatku berkuliah. Dan untungnya tetanggaku itu memberitahuku nama rumah sakit itu. Aku pun berniat kesana.
Tidak lama ojek online pesananku datang. Aku segera memberitahukan tempat tujuanku ke abang ojeknya. Dan segeralah kita menuju kesana. Sampai disana aku langsung menuju ruang ICU khusus penyakit jantung. Dari kejauhan nampak ibuku sedang terduduk lesu didepan ruang ICU. Kuperkirakan ibuku pasti belum makan, terlihat dari mukannya yang pucat itu. Aku segera menghampiri ibuku. Ibuku kaget melihatku ada disana. Langsung saja dia merangkul tubuhku sambil menangis.
“Maafkan ibu Div tidak memberitahumu ayah dibawa rumah sakit. Ibu takut fokus kuliahmu terganggu.” Ibuku nangis sesenggukan.
Sakit rasanya, dadaku sesak mendengar perkataan ibuku barusan. Bahkan disaat keadaannya seperti ini pun ibuku masih memikirkan kuliahku. Air mataku mengalir deras tak terbendungkan.
“Aku ini anakmu bu, sudah menjadi hak-ku mengetahui keadaan orang tua ku. Tak usah ibu memikirkan kuliahku, aku lebih takut kehilangan ayah dan ibu daripada kuliahku.”
Kami bedua pun menangis bersama. Setelah keadaan cukup tenang, ibuku mengantarku ke dalam ruang ICU. Terlihat ayahku terkapar tidak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Alat-alat rumah sakit mirip seperti kabel bentuknya tertancap pada dada ayahku, ventilator tidak lepas dari hidung dan mulut ayahku untuk membantu pernapasan, impus dan segala macam nya, membuatku tak kuat menyaksikan pemandangan ini. Ayahku yang kuat sekarang terbaring lemah. Aku meraih tangan ayahku, tak kerasa air matamu menetes ditangannya.
“Jangan sedih, ayahmu ini tidak papa, jangan terlalu dipikirkan, fokus saja dengan kuliahmu.”Ayahku membuka ventilator pada mulutnya dan berkata terbata-bata.
“Kenapa ayah tidak bilang kalau ayah sakit?”
“Ayah tidak mau kamu kepikiran.”
Tidak apa-apa ayah bilang? Tidakkah kau lihat dirimu terbaring lemah tidak berdaya wahai ayah. Batinku membantah
Tidak lama, dokter datang. Dan menyuruhku untuk meninggalkan ruangan ICU karena sekarang adalah jam pasien istirahat. Aku pun menurut demi kebaikan ayahku.
Diluar ruangan ibuku menghapiriku.
“Div, ibu mau ngomong penting denganmu.” Kata ibuku dengan nada serius.
“Iya bu silahkan.”
“Begini Div, ayahmu dua minggu yang lalu dilarikan ke rumah sakit yang agak dekat dengan rumah kita. Ayahmu kena serangan jantung. Setelah seminggu dirawat disana ayahmu diperbolehkan pulang. Tapi selang dua hari ayahmu drop lagi.”
“Lalu kenapa ayah dibawa ke rumah sakit ini?” Aku penasaran.
“Saat kembali dibawa kesana, pihak rumah sakit tidak menerima karena alat-alat disana tidak lengkap. Dan akhirnya disarankan dibawa ke rumah sakit ini yang alat-alat untuk penanganan jantungnya cukup memadai.” Jelas ibuku.
Aku mengangguk sambil memikirkan apakah separah itu ayahku.
“Satu hal lagi, dengan berat hati ibu katakana ini kepadamu. Kata dokter setelah ini ayahmu tidak bisa bekerja berat-berat seperti biasanya. Dan dibutuhkkan waktu agak lama untuk penyembuhannya. Sepertinya ibumu ini tidak mampu membiayai kuliahmu. Maafkan ibu yang gagal menjadi ibu yang baik buatmu.” ibuku mememlukku.
Aku terdiam, tidak mampu berkata apa-apa, yang ada hanya air mata yang mengalir. Aku dan diriku yang lain bertengkar. Disatu sisi aku ingin melanjutkan kuliah, disisi lain aku tidak bisa memaksakan keadaan keluargaku.
“Tidak apa-apa bu, aku tidak usah kuliah.”aku spontan mengatakan kalimat tersebut.
“Ibu tau perjuanganmu masuk kuliah sangat luar biasa, tapi dengan keadaan ayahmu yang seperti ini, dengan berat hati ibu mengatakan hal ini. Maafkan ibu Div.” Ibuku menangis.
“Ini bukan salah ibu, janganlah minta maaf bu. Aku tidak apa-apa tidak kuliah. Pasti ada jalan lain yang dipersipakan tuhan untukku.”
Ibuku pasti sangat sedih. Sudah menjadi cita-cita dia sejak dulu untuk menguliahkanku. Sekarang kedaaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Ekonomi keuarga ku menurun drastis. Dan aku harus menerima hal itu. Setelah selesai membicarakan hal itu, aku berpamitan untuk pulang ke kost-san karena ada hal yang harus segera aku selesaikan. Aku pulang menggunakan ojeg online lagi.
Sampai di kost-san aku hanya duduk termenung. Teman kost-san ku belum pulang. Akupun meraih ponsel yang ada di tasku. Ku cari nama Rangga dalam ponselku dan ku telepon dia.
“Hallo Div.”Suara rangga terdengar dari ponsel.
“ Hallo Rang.”
“Iya div kenapa?”
“Bisa ketemu sekarang sebentar? Ada yang ingin aku ceritakan.”
“Bisa bisa, dimana?”
“Di warung biasa kita nongkrong dekat kost-sanku aja Rang.”
“Oke aku kesitu.”
“Oke.”
Rangga langsung mematikan teleponnya. Memang selama tiga bulan terakhir ini rangga menjadi tempatku bercerita segala masalah apapun. Dan tidak lama Rangga sampai depan kost-sanku. Aku dan Rangga pun menuju warung tongkrongan seperti biasanya. Dan aku ceritakan masalahku semunya kepada Rangga. Dari awal sampai akhir. Rangga mendengarkan dengan serius.
“Aku ikut sedih dengernya Div, tapi kamu harus sabar ya Div. Insya Allah ada rezeki yang lebih baik buat kamu kedepannya.” Rangga mencoba menenagkanku.
“Insya Allah aku kuat.”Aku mencoba menguatkan diri sendiri.
“Tapi kamu mau menyelesaikan semester satu dulu kan?”
“Tergantung Rang, besok aku mau konsultasi sama dosen pembimbing akademik, kalau prosedurnya cepet minggu ini bisa langsung megundurkan diri berarti minggu ini terakhir aku kuliah. Makasaih banyak ya, kamu sudah banyak bantu aku selama ini.”
“Kamu bisa ambil bidikmisi kan” Rangga mencoba memberikan saran.
“Awal semester aku udah pernah coba daftar tapi nggak lolos.”
“Coba ngajuin lagi Div barangkali bisa. Cari jalan keluar bareng-bareng.”
Seketika aku tersentuh, ternyata masih ada orang baik seperti Rangga.
“Kalau nggak coba ngajuin keringanan aja Div, jangan pengunduran diri.”
“Tapi kan aku juga harus mempertimbangkan biaya kost sama buat makan sehari-hari juga Rang. Apa aku sambil kerja part time aja yah Rang.”
“Beneran mau sambil kerja?”
“Kalau ada si aku mau, biar aku tetep bisa kuliah.”
“Tanteku ada lowongan part time Div, di apotek. Kalau kamu mau nanti aku ngomong ke tanteku.”
“Beneran Rang?” Aku mencoba memastikan.
“Beneran. Besok aku antar kamu pulang untuk mengurus berkas-berkas pengajuan keringan biaya kuliah sekalian antar kamu ketemu tanteku ya.”
“Engga usah, besok aku urus berkasnya sendiri aja. Besok kan ada kuliah, aku izin aja besok. Baru anterin aku ketemu tantemu setelah kamu selesai kuliah.”
“Engga, besok aku jemput kamu jam 7 lebih ya. Disiapin yang mau dibawa pulang.”
“Aku ngga enak ngerepotinn kamu terus Rang.”
“Nggak ada yang direpotin.”
“Beneran nggak papa?”
“Nggak papa, sekarang kamu istirahat, aku pulang dulu. Udah sore.” Rangga pamit.
“Oke, hati-hati dijalan.”
Besoknya sesuai rencana Rangga jemput aku di kost-san. Saat hendak mau naik motornya, tiba-tiba Rangga mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Coklat kesukaanku.
“Ini buatmu. Semangat ya, kamu pasti bisa.” Rangga menyodorkan coklat kepadaku.
“Yampun sampai dibeliin coklat segala, makasih banyak loh Rang.”
“Iyaa, ayo naik.”
Akupun naik motornya. Dan Rangga seketika merarik tanganku dari depan.
“Pegangan.” Katanya.
Jujur pada saat itu jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan apa ini. Tidak mungkin aku suka dengan teman kelasku sendiri. Aku mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh.
Segera kita berangkat. Dan akhirnya aku dapat menyelesaikan semuanya berkat bantuan Rangga. Mulai besok aku sudah mulai bisa bekerja part time di apotek tantenya Rangga. Dan keluargaku juga memberikan kesempatan untuk aku sekali lagi berjuang. Dan tak lupa aku juga sudah mendaftar beasiswa di kampus secara online. Dan pengumuman beasiswanya satu minggu setelah berkas dikirim. Beasiswa ini adalah penentu aku akan melanjutkan kuliah atau tidak kedepannya.
Satu minggu kemudian, tibalah pengumuman beasiswa itu. Dengan gemetar aku membuka pengumuman itu. Aku lihat satu persatu deretan nama yang lolos seleksi beasiswa tersebut. Akupun kaget. Dari banyaknya mahasiswa yang mendaftar beasiswa itu, namaku terpampang jelas dengan keterangan lolos seleksi beasiswa. Aku seketika loncat kegirangan. Tak kusangka perjuanganku tak sia-sia. Langsung saja aku sampaikan kabar gembira ini ke Rangga lewat telfon.
“Gimana Div?”Suara Rangga dari telfon
“Aku lolos seleksi beasiswa.” Aku setengah berteriak sangkin senangnya.
“Alhamdulilah selamat ya Div. Masih diberi kesempatan kuliah.”
“Alhamdulillah berkat bantuan kamu juga Rang. Makasih banget loh.”
“Sama-sama Div, semangat ya kuliahnya. Harus pinter-pinter bagi waktu antara kuliah sama kerjanya ya.”
“Siap.”Tidak pernah aku sesemangat ini.
Akupun juga mengabari keluargaku, keluargaku pun turut gembira mendengar kabar ini.
Setelah itu aku mulai memulai kembali hidupku dengan semangat baru. Sekarang tidak ada lagi waktu untuk aku bermain atau sekedar nongkrong di warung. Kuliah dan kerja cukup melelahkan. Tapi aku menikmati prosesnya.
***
Sebenarnya hari-hariku berjalan dengan baik, sampai tiba-tiba aku melihat Rangga berjalan bersama dengan cewe yang entah aku tidak kenal siapa dia. Dan langsung aku mengirimkan pesan singkat kepada Rangga.
Pov isi pesan:
Diva : “Rang.”
Rangga : “Iya Div kenapa?”
Diva : “Tadi aku lihat kamu dengan cewe, itu siapa ya? Cewemu ya wkwk.”
Rangga : “Hihi tau aja kamu Div. Iya dia pacarku. Kita baru aja jadian.”
Diva : “Beneran Rang?”
Rangga :”Beneranlah. Tadinya aku mau cerita ke kamu. Eh keburu kamu yang tanya sendiri.
Aku terdiam. Kenapa rasanya sakit? Bukankah seharusnya aku harus bahagia melihat Rangga bahagia? Ternyata aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku suka dengan Rangga. Aku suka Rangga yang memperlakukanku dengan sangat baik. Selalu menolongku dan menjadi tempatku mengadu. Tapi ternyata, ada seseorang yang jauh lebih beruntung bisa memiliki Rangga, dan itu bukanlah diriku.
Aku menangis. Seakan-akan aku akan kehilangan Rangga selamanya. Perasaanku tidak terbalaskan. Entah Rangga sebeneranya tahu atau tidak perasaanku, yang jelas Rangga sudah menjadi milik orang lain. Dan sekarang aku kehilangan sosok yang menjadi obat disaat aku terpuruk. Rangga adalah obat, sekaligus luka bagiku sekarang. Aku mulai menangis sejadi-jadinya.
Sebenarnya selama ini Rangga adalah alasanku mau terus berjuang sampai di titik ini. Tapi sekarang, dia pergi. Aku yang terlalu berharap lebih kepada Rangga. Ini salahku juga, jatuh cinta kepada orang yang jelas-jelas hanya menganggapku sebatas teman. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, agar aku dapat menerima kenyataan ini.
Setelah beberapa saat aku mulai berpikir jernih. Aku memang menyukainya, tapi bukan berarti harus memilikinya. Aku akan tetap menyukainya sampai aku bener-bener capek dan tahu caranya berhenti menyukainya. Aku harus ikut Bahagia atas kebahagiaan Rangga. Dia orang baik, tapi bukan untuku. Mungkin wanita yang disampingnya sekarang adalah wanita yang dapat lebih jauh memberikan kebahagiaan untuk Rangga. Aku yakin aku pasti bisa melewatinya. Seperti kata Rangga waktu itu. Suatu saat nanti aku akan membuktikannya. (*)
Laelatus Zakiya. Lahir diTegal, 2 Mei 2003. Sekarang ia dalam proses jadi mahsiswi S1 di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

