Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Salah satu kekuatan terbesar Muhammadiyah yang membuatnya mampu bertahan dan berkembang lebih dari satu abad adalah keberhasilannya membangun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai penopang gerakan. Amal usaha tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi bangunan, lembaga, atau aset yang berdiri sendiri. Sejak awal, amal usaha dibangun untuk menopang dakwah, memperkuat gerakan Muhammadiyah, membantu kader dalam menjalankan pengabdiannya, serta memastikan roda organisasi terus bergerak memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.
Namun, perjalanan membangun amal usaha tidak pernah mudah.
Banyak orang melihat sekolah yang ramai, rumah sakit yang berkembang, perguruan tinggi yang maju, atau berbagai lembaga sosial yang hari ini menjadi kebanggaan persyarikatan. Tetapi tidak semua orang melihat perjuangan panjang yang melatarbelakanginya. Tidak semua mengetahui berapa banyak pengorbanan yang pernah diberikan oleh para pendahulu. Ada waktu, tenaga, pikiran, harta, bahkan air mata yang dicurahkan agar amal usaha itu dapat berdiri dan bertahan.
Karena itu saya sering mengibaratkan perjalanan amal usaha dalam dua fase: fase “air mata” dan fase “mata air”.
Ketika amal usaha masih kecil, masih merintis, masih mencari dukungan dan kepercayaan masyarakat, itulah fase air mata. Pada fase ini tidak banyak orang yang datang. Tidak banyak yang bersedia memikul beban. Yang bertahan biasanya adalah mereka yang memiliki keyakinan terhadap cita-cita perjuangan. Mereka bekerja karena panggilan dakwah, bukan karena fasilitas atau keuntungan yang diperoleh.
Pada fase ini, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, kesabaran untuk bertahan, dan keikhlasan untuk berkorban.
Namun ketika amal usaha tumbuh dan berkembang, manfaatnya mulai dirasakan banyak orang. Ia menjadi mata air yang mengalirkan kebermanfaatan. Amal usaha menjadi tempat kader mengabdi, menjadi sarana pelayanan masyarakat, menjadi sumber penguatan organisasi, dan menjadi penopang gerakan Muhammadiyah dalam menjalankan misi dakwah dan tajdid-nya.
Perlu dipahami bahwa sebagian besar pengurus Muhammadiyah tidak digaji untuk menjalankan tugas-tugas organisasi. Mereka mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan tidak jarang sumber daya pribadinya untuk menggerakkan persyarikatan. Karena itu, keberadaan AUM menjadi sangat penting. Dengan adanya amal usaha yang sehat dan berkembang, gerakan Muhammadiyah memiliki daya dukung yang lebih kuat untuk menjalankan program-program dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Pengurus mungkin tidak digaji, tetapi dengan adanya amal usaha, gerakan Muhammadiyah dapat bergerak lebih luas dan memberi manfaat yang lebih besar.
Karena itu AUM merupakan komponen yang sangat penting dalam gerakan Muhammadiyah. Memang, semakin besar amal usaha, semakin besar pula dinamika dan persoalan yang menyertainya. Semakin banyak aset yang dikelola, semakin banyak pula tantangan tata kelola, sumber daya manusia, perbedaan pandangan, dan berbagai persoalan lainnya. Namun sejarah membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak pernah mundur hanya karena adanya persoalan. Justru melalui dinamika itulah organisasi belajar, bertumbuh, dan melakukan perbaikan.
Yang sering terlupakan adalah bahwa AUM bukan hanya penopang gerakan dari sisi materi. Jauh lebih penting dari itu, AUM merupakan tempat lahirnya kader-kader Muhammadiyah. Sekolah, kampus, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha lainnya sesungguhnya adalah ruang kaderisasi yang sangat besar. Dari sanalah lahir guru, dosen, tenaga kesehatan, aktivis, pemimpin organisasi, dan berbagai kader yang kelak akan melanjutkan perjuangan Muhammadiyah.
Jika organisasi adalah tubuh, maka kader adalah darah yang menghidupkannya. Dan dalam banyak hal, AUM adalah tempat di mana darah perjuangan itu terus diproduksi dan dialirkan ke seluruh bagian gerakan.
Tidak jarang amal usaha yang pada awalnya dibangun sebagai penopang dakwah kemudian menjadi rebutan. Ada yang merasa paling berjasa. Ada yang merasa paling berhak. Ada yang lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memperbesar manfaat. Padahal amal usaha bukanlah tujuan perjuangan, melainkan alat perjuangan.
Para pendahulu telah memberikan teladan yang sangat berharga. Ahmad Dahlan menunjukkan bagaimana amal usaha dibangun dengan semangat pengorbanan yang luar biasa. Beliau tidak membangun lembaga untuk kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi untuk kepentingan umat dan keberlangsungan dakwah.
Generasi setelah beliau kemudian memberikan contoh bagaimana merawat amal usaha. Mereka memahami bahwa keberhasilan amal usaha tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, tetapi juga dari kemampuannya menjaga ruh perjuangan. Sebab amal usaha yang besar tetapi kehilangan orientasi dakwah pada akhirnya hanya akan menjadi institusi biasa.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah bagaimana membangun amal usaha yang besar, melainkan bagaimana menjaga agar amal usaha tetap menjadi amanah bersama. Tetap menjadi penopang gerakan, bukan beban gerakan. Tetap menjadi alat dakwah, bukan objek perebutan. Tetap menjadi tempat kaderisasi, bukan sekadar tempat administrasi. Tetap menjadi mata air yang mengalirkan manfaat, tanpa melupakan air mata para pendahulu yang telah menghadirkannya.
Sebab selama AUM tetap dipahami sebagai amanah perjuangan, Muhammadiyah akan terus memiliki kekuatan untuk bergerak, melayani, mencerahkan, dan membangun peradaban. Jangan sampai kita menikmati mata airnya, tetapi melupakan air mata yang dahulu mengalirkannya. (*)
Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

