Site icon TAJDID.ID

Dari Lupus hingga Enny Arrow: Bacaan-bacaan yang Membesarkan Generasi 1990-an

Oleh: Heri Isnaini

Setiap generasi memiliki perpustakaannya sendiri. Bukan perpustakaan yang berdiri megah dengan rak-rak kayu yang tersusun rapi, melainkan perpustakaan yang hidup dalam ingatan.

Perpustakaan yang dibangun oleh buku-buku yang pernah dibaca diam-diam, dipinjam dari teman, disewa di kios kecil dekat sekolah, atau ditemukan secara tidak sengaja di tumpukan buku bekas pasar loak.

Begitulah generasi 1990-an tumbuh. Mereka hidup pada masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Telepon genggam masih barang mewah. Media sosial belum lahir. Dunia terasa lebih lambat, dan Sebab itulah membaca menjadi salah satu cara paling menyenangkan untuk bepergian tanpa harus meninggalkan rumah.

Pada masa itu, anak-anak mengenal petualangan melalui Lima Sekawan. Mereka berlari mengikuti misteri bersama Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy si anjing. Dunia terasa luas dan penuh rahasia. Setiap halaman adalah pintu menuju tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat.

Remaja-remaja mengenal kehidupan sekolah melalui Lupus. Tokoh berponi nyentrik itu menjadi ikon sebuah generasi. Ia tidak gagah seperti pahlawan dalam cerita silat. Ia juga tidak kaya raya seperti tokoh sinetron masa kini. Lupus hanyalah remaja biasa dengan segala kekonyolan dan kecanggungannya. Justru karena biasa itulah ia dicintai.

Pembaca melihat dirinya sendiri pada Lupus. Mereka menemukan kegugupan saat jatuh cinta, kecemasan menghadapi sekolah, dan kegembiraan sederhana yang tumbuh dari persahabatan.

Di sudut lain, anak-anak pemberani membaca Goosebumps. Mereka menikmati rasa takut yang aman. Hantu, monster, dan rumah tua menjadi pengalaman yang menyenangkan karena semuanya berhenti ketika buku ditutup.

Lalu ada Olga, TKKG, komik-komik silat, cerita detektif, novel roman remaja, hingga majalah Hai dan Gadis yang berpindah tangan dari satu pembaca ke pembaca lain. Semuanya membentuk lanskap membaca yang khas.

Namun, sejarah membaca tidak pernah sesederhana daftar buku yang direkomendasikan sekolah. Di balik rak-rak resmi perpustakaan, selalu ada rak-rak tak resmi yang hidup dalam bisikan. Di sanalah nama Enny Arrow beredar.

Buku-bukunya jarang dipajang terang-terangan. Ia berpindah tangan seperti sebuah rahasia. Sampulnya sederhana. Kertasnya tipis. Namun daya tariknya begitu besar. Banyak orang mengingatnya bukan karena kualitas estetikanya, melainkan karena keberaniannya menyentuh wilayah yang dianggap tabu.

Menariknya, baik Lupus maupun Enny Arrow sama-sama memiliki pembaca yang besar. Yang satu diterima dan dirayakan. Yang lain disembunyikan dan sering dicela. Namun, keduanya menunjukkan satu hal yang sama: manusia membaca karena rasa ingin tahu.

Barangkali di sinilah kita perlu mengingat kembali gagasan tua dari Horatius tentang “dulce et utile.” Menurut penyair Romawi itu, sastra yang baik seharusnya mampu memberikan kesenangan sekaligus manfaat. Menghibur sekaligus mencerahkan.

Selama ini kita sering terjebak dalam pemisahan yang terlalu tegas antara sastra adiluhung dan sastra picisan. Sastra adiluhung dianggap bermutu karena menghadirkan kedalaman pemikiran dan keindahan bahasa. Sastra picisan dianggap rendah karena terlalu mengejar hiburan dan pasar.

Namun, pengalaman membaca generasi 1990-an menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Anak-anak yang membaca Lupus tidak sedang mempelajari teori pendidikan karakter. Mereka hanya ingin menikmati cerita yang lucu. Akan tetapi, tanpa disadari mereka belajar tentang persahabatan, kesetiaan, dan cara menghadapi kegagalan.

Mereka yang membaca Lima Sekawan tidak sedang mencari pelajaran moral. Mereka ingin mengikuti petualangan yang seru. Namun dari sana mereka belajar tentang kerja sama, keberanian, dan rasa tanggung jawab.

Bahkan bacaan-bacaan yang sering dicap picisan pun sesungguhnya mengandung pelajaran tertentu, meskipun tidak selalu sesuai dengan nilai yang ingin diajarkan sekolah.

Sastra, pada akhirnya, selalu menjadi cermin masyarakat yang melahirkannya. Sebab itu, membaca sejarah bacaan generasi 1990-an sama artinya dengan membaca sejarah masyarakat Indonesia pada masa itu.

Kita melihat impian, ketakutan, rasa penasaran, dan nilai-nilai yang hidup dalam keseharian mereka.

Dari Lupus kita melihat dunia remaja perkotaan yang sedang tumbuh.

Dari Goosebumps kita melihat ketertarikan pada misteri dan fantasi.

Dari komik-komik silat kita melihat kerinduan pada kepahlawanan.

Dari Enny Arrow kita melihat wilayah hasrat yang berusaha disembunyikan, tetapi tetap mencari jalan untuk hadir. Semuanya adalah bagian dari kebudayaan membaca.

Hari ini, ketika anak-anak lebih banyak menggulir layar daripada membalik halaman buku, kita mungkin merasa nostalgia pada masa itu. Namun, sesungguhnya yang kita rindukan bukan hanya buku-bukunya. Kita merindukan pengalaman membaca itu sendiri.

Pengalaman menunggu giliran meminjam buku. Pengalaman menyelesaikan satu novel dalam semalam. Pengalaman menemukan dunia baru hanya dari rangkaian kata-kata.

Generasi 1990-an dibesarkan oleh berbagai jenis bacaan. Ada yang dianggap bermutu tinggi. Ada yang dicap picisan. Ada yang diajarkan guru. Ada pula yang dibaca diam-diam.

Namun, semuanya meninggalkan jejak. Sebab manusia tidak dibentuk hanya oleh buku-buku yang dianggap penting. Manusia juga dibentuk oleh buku-buku yang pernah membuatnya tertawa, takut, penasaran, jatuh cinta, bahkan malu mengakuinya.

Dan mungkin, ketika sejarah sastra suatu hari ditulis kembali dari sudut pandang para pembaca, nama Lupus dan Enny Arrow akan berdiri berdampingan sebagai penanda bahwa sebuah generasi pernah tumbuh bersama cerita-cerita yang sangat berbeda, tetapi sama-sama sulit dilupakan. (*)

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

 

Exit mobile version