Oleh: Sudarta Salman S.E MM
Perjalanan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad telah melahirkan banyak gagasan, perjuangan, dan pengabdian yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Namun, sehebat apa pun amal dan karya yang dijalankan, ia akan mudah terlupakan jika tidak diabadikan dalam tulisan.
Sebagaimana diungkapkan oleh sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam bagi kita semua. Bagi warga Muhammadiyah, menulis bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan bagian dari dakwah dan pengabdian. Bagi pimpinan amal usaha, tulisan menjadi bukti perencanaan, pelaksanaan, dan hasil karya yang dapat diwariskan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Bagi organisasi otonom, tulisan adalah sarana menyebarkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan, mendokumentasikan pengalaman, dan menginspirasi banyak orang.
Pramoedya juga pernah menyampaikan gagasan lain yang senada: “Kalau mau mengenal dunia, membacalah. Kalau mau dikenal dunia, menulislah.”
Bagi kita, “dikenal dunia” bukan berarti mencari popularitas semata, melainkan agar nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan yang diperjuangkan Muhammadiyah dapat terus hidup, dipelajari, dan diamalkan oleh generasi mendatang.
KHA Dahlan, memang tidak meninggalkan buku-buku, namun tulisan beliau di Soeara Moehammadijah diangkat ulang oleh penerus-penerusnya. Pun juga gagasan-gagasan beliau di tulis dan dipublikasikan sehingga kita kenal sampai sekarang.
KH AR Fachruddin serta pimpinan Muhammadiyah lainnya juga gemar menulis dan tradisi menulis ini masih berlanjut sampai pada kepemimpinan Prof. Haedar Nashir saat ini.
Mengapa kita perlu menulis Pertama : Mendokumentasikan perjuangan: Agar setiap langkah, tantangan, dan keberhasilan tidak hilang ditelan waktu. Kedua : Menyebarkan manfaat: Ilmu, pengalaman, dan pemikiran yang tertulis dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Ketiga : Mewariskan peradaban. Tulisan menjadi jembatan penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Mari kita jadikan menulis sebagai kebiasaan. Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat, mulailah dari hal-hal sederhana: catat pengalaman mengelola amal usaha, tuliskan gagasan pengembangan organisasi, dokumentasikan kegiatan dakwah, atau bagikan pemikiran yang bermanfaat.
Ingatlah pesan Pramoedya: Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dengan menulis, kita tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang abadi. Semoga tulisan-tulisan kita menjadi amal jariyah yang terus memberi manfaat (*)

