TAJDID.ID || Korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit kronis yang dampaknya jauh lebih destruktif daripada wabah penyakit sekalipun. Sekali menjangkiti sistem negara, daya rusaknya sangat masif dan sulit disembuhkan.
Hal ini ditegaskan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, dalam acara Mocopat Syafaat di Bantul. Beliau membandingkan daya hancur korupsi dengan krisis kesehatan global yang pernah melanda dunia.
“Covid itu berat banget kita tahu semuanya. Tapi ada yang lebih berat daripada itu yaitu korupsi,” ujar Busyro, dikutip dari laman muhammadiyah.or.id.
Pelemahan KPK dan Akar Masalah Pemilu
Upaya pemberantasan korupsi di tanah air kian menemui jalan buntu. Busyro menyoroti bahwa perjuangan ini terasa semakin berat setelah taji Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sengaja dipangkas melalui kehadiran UU KPK Nomor 19 Tahun 2019.
Guna memutus lingkaran setan ini, Busyro menyerukan pentingnya muhasabah (evaluasi diri) yang jernih, objektif, dan bebas dari kepentingan golongan. Evaluasi ini mendesak karena pola korupsi yang sama terus berulang dalam siklus politik kita.
Titik kritis pertama yang harus dibenahi adalah momentum pesta demokrasi lima tahunan. Momen yang seharusnya melahirkan pemimpin berintegritas justru kerap menjadi ajang suap-menyuap yang vulgar dari tingkat pusat hingga ke pelosok desa. Hubungan transaksional ini pada akhirnya akan menyandera independensi para pejabat publik yang terpilih.
“Yang disebut suap itu, sesudah itu mempengaruhi nanti kalau jadi DPR pusat, DPR daerah dan lain sebagainya membuat peraturan-peraturan daerah dipesan oleh yang dulu menyuap itu,” tuturnya menjelaskan dampak ngeri dari hulu korupsi politik.
Laboratorium Korupsi dan Secercah Optimisme
Begitu sistemis dan masifnya kasus korupsi di Indonesia, Busyro sempat berkelakar bahwa negara ini telah bertransformasi menjadi “laboratorium ideal” bagi para peneliti dunia yang berminat mengkaji isu rasuah.
Menurutnya, korupsi tidak lagi sekadar monopoli lingkaran kekuasaan, melainkan sudah mendarah daging di berbagai sektor vital: mulai dari ekonomi, lingkungan, pendidikan, bahkan hingga institusi moral seperti lingkungan keagamaan.
Meski situasinya tampak kelam, Busyro mengingatkan masyarakat yang masih berpikiran sehat untuk tidak tenggelam dalam pesimisme. Harapan untuk sembuh dari penyakit kronis ini tetap ada, dan langkah besarnya harus dimulai secara konsisten dari benteng pertahanan paling mendasar: integritas diri masing-masing. (*)

