Oleh: M. Risfan Sihaloho
“Rakyat kita tidak bermimpi untuk mengalami kehidupan yang kaya raya, tapi mereka bermimpi untuk bisa hidup dengan layak, dengan baik.” Sebuah kalimat syahdu, puitis, dan penuh empati meluncur dari podium Gedung DPR RI, Rabu (20/5/2026). Presiden Prabowo Subianto, di hadapan sidang paripurna KEM PPKF, seolah bertindak sebagai juru bicara bagi isi kepala lebih dari 270 juta manusia Indonesia.
Sepintas, alangkah indahnya pernyataan itu. Betapa “nrimo-nya” rakyat republik ini di mata penguasa.
Namun, mari kita bedah narasi romantis ini dengan sedikit akal sehat yang tersisa. Apa benar rakyat Indonesia tidak pernah bermimpi jadi kaya raya? Dan sejak kapan negara punya wewenang untuk memasang batas atas (plafon) pada imajinasi, mimpi dan cita-cita rakyatnya?
Jika benar rakyat Indonesia hanya bermimpi “hidup layak” dan enggan kaya raya, mari kita uji realitas di lapangan:
Pertama, fenomena Judol (Judi Online): Mengapa jutaan orang bertaruh nasib pada slot dan judi online hingga perputaran uangnya mencapai ratusan triliun? Apakah mereka sekadar ingin mencari uang untuk beli beras besok pagi, atau mereka sedang mengejar mimpi get rich quick alias kaya mendadak demi memutus rantai kemiskinan?
Kedua, Kecanduan Pinjol (Pinjaman Online): Mengapa jeratan pinjol begitu masif? Karena standar “hidup layak” hari ini sudah bergeser, dan ada hasrat besar untuk menikmati kenyamanan finansial yang selama ini hanya jadi tontonan.
Ketiga, Konten Flexing yang Laris Manis: Mengapa penonton konten “Crazy Rich” di media sosial menembus angka jutaan? Karena ada distopia kolektif: rakyat yang tidak kaya senang melihat orang kaya, sambil diam-diam merapal doa; “Kapan giliran saya?”
Jadi, mengatakan rakyat tidak bermimpi kaya adalah bentuk romantisasi kemiskinan. Itu adalah cara halus untuk menghibur orang-orang yang lelah berjuang, sekaligus menjadi tameng yang nyaman bagi pembuat kebijakan.
Apa lagi selama ini sesungguhnya rakyat negeri ini cukup sadar bahwa negara mereka sangat kaya raya, dan itu jadi alasan yang cukup logis bagi mereka pantas bermimpi mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Mengapa Mendikte Mimpi Rakyat?
Ada ironi yang pekat ketika seorang pemimpin—yang dikelilingi oleh fasilitas negara, jaminan hari tua, dan lingkaran elite yang bergelimang aset—berbicara tentang betapa bersahajanya mimpi rakyat jelata.
Pertanyaan etisnya: sejak kapan tugas pemerintah bergeser dari “mengentaskan kemiskinan” menjadi “mendefinisikan batas mimpi” rakyatnya?
Ketika penguasa mendikte bahwa rakyat hanya butuh hidup “layak”, ada bahaya sistemis yang mengintai:
Pertama, Justifikasi Kebijakan Minimalis: Jika rakyat dianggap hanya ingin hidup layak (baca: cukup makan, cukup sandang), maka target pembangunan ekonomi tidak perlu mulia-mulia amat. Cukup guyurkan bantuan sosial (bansos). Standar kesejahteraan diturunkan demi mengamankan rapor kinerja pemerintah.
Kedua, Melanggengkan Kesenjangan: Narasi ini secara tidak langsung mengkotak-kotakkan kelas sosial. “Kami yang di atas boleh menguasai hajat hidup orang banyak dan menjadi kaya raya, sementara kalian yang di bawah, tolong tetaplah bersahaja dan bermimpi yang logis-logis saja.”
Jangan Diskon Mimpi Rakyat
Rakyat Indonesia bermimpi untuk kaya raya bukan karena mereka serakah. Mereka ingin kaya karena di negeri ini, menjadi “sekadar layak” sering kali tidak cukup untuk bertahan hidup ketika ada anggota keluarga yang sakit keras, atau ketika anak-anak mereka ingin menembus bangku kuliah yang UKT-nya makin mencekik. Mereka ingin kaya karena kaya adalah satu-satunya perisai dari jaring pengaman sosial yang kerap bolong-bolong.
Tugas pemerintah dalam KEM PPKF bukanlah memangkas sayap imajinasi publik agar pas dengan anggaran yang ada. Tugas negara adalah menciptakan ekosistem di mana setiap orang yang bermimpi kaya memiliki kesempatan yang sama adilnya untuk mencapainya—tanpa harus menjadi anak presiden, keponakan hakim, atau bagian dari dinasti politik.
Jadi, Pak Presiden, maaf. Rakyat tidak sedang mendiskon mimpinya. Tolong jangan bantu mendiskonkannya dari atas podium.
Tegas kami sampaikan: “Bukan cuma elit penguasanya, kami rakyat Indonesia juga ingin kaya raya!(*)

