TAJDID.ID~Yogyakarta || Kasus dugaan kekerasan di daycare Little Aresha Jogja terus menyita perhatian publik. Berbagai langkah penanganan telah dilakukan, mulai dari proses hukum hingga pendampingan korban. Namun, di tengah proses tersebut, transparansi informasi dan cara penyampaian kepada masyarakat menjadi sorotan dalam perspektif ilmu komunikasi.
Dalam penanganannya, aparat melakukan penyelidikan dan penyidikan serta menetapkan pihak yang diduga terlibat untuk diproses sesuai ketentuan hukum. Selain itu, anak-anak korban mendapatkan pendampingan psikologis dan medis sebagai bagian dari upaya pemulihan kondisi mereka.
Operasional daycare yang bersangkutan juga dihentikan sementara sambil dilakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan dan standar pengasuhan. Tidak hanya itu, dilakukan pula inspeksi dan pendataan ulang terhadap lembaga daycare lainnya guna memastikan standar keamanan dan kelayakan terpenuhi serta mencegah kejadian serupa.
Baca juga: Dosen Hukum Pidana: Tragedi Daycare Yogya adalah Penyiksaan Terencana, Bukan Sekadar Kelalaian
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Madiun, Dr. Muhammad Syarifuddin, M.Sos. menilai bahwa langkah-langkah tersebut merupakan bentuk respons yang penting, namun perlu diiringi dengan komunikasi yang efektif kepada publik.
“Langkah-langkah seperti proses hukum, pendampingan korban, dan evaluasi operasional menunjukkan bahwa penanganan sedang berjalan. Tetapi dalam perspektif komunikasi, yang tidak kalah penting adalah bagaimana semua itu disampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, penyampaian informasi yang tidak jelas atau tidak berkelanjutan berpotensi menimbulkan kesenjangan pemahaman di tengah masyarakat.
“Jika informasi tidak disampaikan secara terbuka, publik bisa membentuk persepsi sendiri. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman,” jelasnya.
Baca juga: Kekerasan Daycare Yogyakarta, Dosen Hukum UMMAD Madiun Nyatakan Perlunya Perlindungan Anak
Ia menambahkan bahwa komunikasi yang efektif harus dilakukan secara transparan, cepat, konsisten, dan empatik. Informasi mengenai perkembangan kasus perlu disampaikan secara berkala melalui berbagai saluran komunikasi agar dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat.
Selain itu, penggunaan narasi yang selaras antar pihak terkait juga dinilai penting untuk menghindari kebingungan publik. Komunikasi yang konsisten akan membantu memperkuat pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap proses penanganan yang berlangsung.
Kasus daycare di Yogyakarta ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap penanganan peristiwa, tindakan dan komunikasi harus berjalan beriringan. Tanpa komunikasi yang baik, langkah-langkah yang telah dilakukan berpotensi tidak dipahami secara utuh oleh publik.
Dengan demikian, transparansi informasi menjadi kunci penting dalam memastikan bahwa proses penanganan tidak hanya berjalan, tetapi juga dapat dipahami dan dipercaya oleh masyarakat luas.(PJ)

