Oleh: Jufri
Pegiat sosial politik dan dakwah kebangsaan
Kaderisasi sejatinya bukan sekadar program, apalagi rutinitas administratif. Ia adalah kerja kesadaran—yang menuntut kejernihan pikiran dan kelapangan hati. Tanpa dua hal ini, kaderisasi mudah berubah menjadi slogan indah yang rajin diucapkan, tetapi absen dalam praktik.
Banyak orang gemar berbicara tentang kaderisasi. Namun yang sering kita saksikan justru sebaliknya: kaderisasi tidak berjalan karena orang-orang di dalamnya tidak jernih melihat perannya sendiri, dan tidak cukup lapang untuk memberi ruang kepada generasi berikutnya. Kaderisasi mungkin berlangsung secara formal—ada pelatihan, ada forum, ada sertifikat—tetapi tidak hidup dalam perilaku sehari-hari.
Ironisnya, kegagalan itu kerap terjadi justru di lingkaran yang paling lantang mengampanyekan kaderisasi. Para pemateri dan instruktur itu-itu saja orangnya. Alasannya klasik dan terdengar rasional: yang di bawah belum cukup jam terbang. Padahal jam terbang itu tidak pernah benar-benar diberikan. Kesempatan tidak dibuka, ruang tidak disediakan, kesalahan tidak ditoleransi. Bagaimana mungkin pengalaman lahir tanpa proses panjang yang penuh kepercayaan?
Dalam dunia kepakaran, pola yang sama berulang. Kaderisasi ilmu dan keahlian macet bukan karena kekurangan calon, melainkan karena ada orang yang terlalu menikmati kehebatan dirinya—seolah tak tergantikan. Ilmu yang seharusnya diwariskan justru dipagari. Kepakaran berubah menjadi alat legitimasi, bukan sarana pencerahan.
Di ranah politik, situasinya bahkan lebih gamblang. Kita menyebut diri sebagai partai kader, organisasi kader, atau gerakan kader. Namun orang bisa bertahan di posisi yang sama selama puluhan tahun. Alasannya terdengar mulia: masih dibutuhkan, suara konstituen masih kuat, jasanya besar. Kadang alasannya lebih “lucu” sekaligus menyedihkan: hanya bisa bekerja sama dengan dia. Seolah organisasi sedemikian miskinnya sumber daya manusia, sampai kerja kolektif harus bergantung pada satu nama.
Itulah sebabnya, pasca runtuhnya Orde Baru, lahir kesadaran kolektif untuk membatasi masa jabatan kepemimpinan—maksimal dua periode, baik dalam politik maupun banyak organisasi. Bukan semata soal teknis kekuasaan, melainkan ikhtiar etik untuk mencegah lahirnya orang-orang yang merasa tak tergantikan. Pembatasan periode adalah pengakuan jujur bahwa kekuasaan yang terlalu lama cenderung mematikan regenerasi.
Namun sayangnya, semangat itu sering disiasati. Aturan dibatasi, tetapi peran tetap dikuasai. Jabatan boleh berganti, pengaruh tetap sama. Kaderisasi pun kembali macet—hanya berpindah wajah, bukan berpindah cara berpikir.
Yang lebih menyedihkan, ruang sering kali baru diberikan karena keterpaksaan situasi: karena sudah tak sanggup lagi, tak mampu lagi, atau karena telah meninggalkan dunia ini. Regenerasi pun hadir bukan sebagai buah perencanaan, melainkan akibat keadaan yang tak bisa ditawar. Kaderisasi berjalan bukan karena kesadaran, tetapi karena darurat.
Padahal, ukuran organisasi kader bukan terletak pada lamanya seseorang bertahan di kursi, melainkan pada kemampuannya menyiapkan pengganti. Jika sebuah posisi runtuh ketika satu orang pergi, itu bukan tanda kekuatan, melainkan bukti kegagalan kaderisasi. Organisasi semacam itu bergantung pada figur, bukan pada sistem dan nilai.
Di titik inilah istilah “kaderisasi sontoloyo” menjadi patut dan wajar disematkan. Bukan sebagai umpatan emosional, melainkan sebagai kritik etik. Kaderisasi yang dipamerkan dalam pidato, tetapi disabotase dalam praktik; yang diagungkan dalam dokumen, tetapi dimatikan oleh ketakutan kehilangan peran.
Kaderisasi sontoloyo melahirkan generasi penonton: banyak yang paham teori, tetapi gagap memikul tanggung jawab; banyak yang loyal, tetapi tak pernah benar-benar dipercaya. Organisasi pun menua tanpa pembaruan—tampak besar, tetapi rapuh dari dalam.
Maka pertanyaan mendasarnya sederhana namun menohok: beranikah kita memberi ruang saat masih kuat, bukan saat sudah tak berdaya? Mampukah kita menyiapkan penerus tanpa merasa terancam oleh kehadirannya?
Sebab kaderisasi sejati hanya mungkin lahir dari kejernihan pikiran dan kelapangan hati. Tanpa itu, sekeras apa pun jargon yang diteriakkan, kaderisasi hanya akan menjadi lelucon sejarah, dan pantas disebut sontoloyo. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

