Site icon TAJDID.ID

Layak Diteliti, Busyro Muqoddas: Indonesia adalah Laboratorium Korupsi yang Lengkap

Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas.

TAJDID.ID~Medan || Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas yang juga sekarang menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah mengungkapkan peta koruptor di seluruh Indonesia, mulai tahun 2004 sampai dengan 2019. Data itu ia gambarkan sebagai sebuah fakta yang membuat Indonesia layak disebut dengan istilah “Negara Kesatuan Koruptor Radikal Indonesia (NKKRI).

Busyro menjelaskan, data yang dibeberkannya merupakan daftar angka jumlah penjahat-penjahat koruptor atau perampok harta kenegaraan yang terungkap di seluruh Indonesia. Dikatakannya, data itu baru sampai tahun 2019, belum ditambahkan  dengan data beberapa tahun terakhir.

“Dari data itu diketahui, ternyata yang paling banyak koruptor itu adalah di Jakarta, di depan Monas kira-kira. jumlahnya 305,” ujar Busyro di depan ribuan wisudawan-wisudawati UMSU pada acara Wisuda UMSU Periode I 2023 di Selecta Convention Hall, Medan, selasa (4/7).

Baca Juga:

Kemudian Busyro mengungkapkan penyebab mengapa banyaknya muncul para koruptor di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah karena yang menduduki jabatan-jabatan kenegaraan itu adalah orang-orang yang tidak memiliki kapasitas amal sholeh yang didukung kecakapan ilmu amaliah dan amal ilmiah.

“Sehingga ilmunya para pebat itu cuma ilmu transaksional,” tegas Busyro.

“Yang lebih miris lagi,  di antara koruptor itu ternyata ada 4 orang profesor,  dan tidak sedikit bergelar doktor dan bertitel MHum, bahkan ada juga tokoh agama. Adapun yang mereka korup itu mulai dari APBN, tambang-tambang, bahkan sampai tanah kuburan. Sangat lengkap,” imbuhnya.

Tangkapan layar slide paparan Busyro Muqoddas.

Jadi, kata Busyro, sekiranya nanti ada mahasiswa S3 Indonesia yang tertarik melakukan penelitian dengan tema karakter korupsi sedunia, maka ia menyarankan untuk mengambil contoh di negeri sendiri. Karena menurutnya Indonesia adalah laboratorium korupsi yang lengkap, selengkap-lengkapnya.

“Dengan maksud baik tentunya, setelah adanya riset seperti itu, kemudian kita bertanggungjawab untuk memperbaiki negeri ini,” kata Busyro.

Busyro menegaskan, bahwa angka yang disampaikannya adalah data valid yang diperolehnya  dari KPK.

“Maaf tentunya dari KPK yang ori dulu. Kalau KPK yang sekarang ini adalah KPK yang KW, entah KW berapa gak tau saya,” ujarnya.

Terakhir ia menjelaskan alasannya mengapa data itu penting ia ungkapkan di depan para wisudawan-dan wisudawati.

“Alasannya, karena kalian semua harus paham, bahwa sesungguhnya misi kuliah itu  bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar. Ketika pasarnya dikuasai oleh makelar-makelar yang membawa ideologi kapitalisme, maka yang terjadi adalah munculnya ilmuwan-ilmuwan tukang, yakni ilmuwan yang hanya mengandalkan bayaran,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version