• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Senin, Mei 25, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Habis Gelap, Terbitlah Maaf

M. Risfan Sihaloho by M. Risfan Sihaloho
2026/05/25
in Daerah, M. Risfan Sihaloho, Nasional, Opini, Tilikan
0
Habis Gelap, Terbitlah Maaf
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Beberapa hari lalu, pulau terbesar keenam di dunia bernama Sumatera tidak sedang berpuisi tentang malam yang sunyi. Sumatera benar-benar gelap gulita. Blackout. Sebuah panggung sandiwara kolosal di mana jutaan rakyat dipaksa menjadi penonton sekaligus korban dalam kegelapan, sementara roda ekonomi mendadak mati suri.

Menariknya, drama ini disusul oleh pertunjukan komedi yang sudah sangat familiar di telinga kita. Pihak otoritas—lewat PLN—dengan sigap merilis “kambing hitam” andalan mereka: cuaca buruk. Sebuah alasan klasik, usang, dan luar biasa sepele untuk sebuah bencana infrastruktur yang melumpuhkan satu pulau. Hebat sekali cuaca di negeri ini, ya? Begitu berkuasa sampai-sampai investasi triliunan rupiah untuk sistem kelistrikan bisa takluk begitu saja oleh hembusan angin atau rintik hujan.

Lalu, seperti naskah yang sudah dihafal luar kepala, drama ini ditutup dengan senyuman tipis dan kalimat magis: “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini.”

Selesai. Begitu enteng, begitu murah.

 

Ritual “Ngeles” dan Romantisasi Kesabaran Rakyat

Ada anomali yang menggelitik dalam cara negara ini diurus. Setiap kali terjadi ketidakbecusan publik—mulai dari mati lampu massal, kebocoran data, hingga banjir bandang—respons pertama birokrasi kita jarang sekali berupa evaluasi radikal atau pengunduran diri pejabat sebagai bentuk tanggung jawab moral. Tidak, itu terlalu keren untuk standar kita.

Senjata utama mereka adalah taktik “ngeles” yang dibungkus dengan imbauan agar rakyat “memaklumi” dan “bersabar”.

Rakyat selalu diposisikan seperti orang tua penyabar yang harus selalu memaafkan anaknya yang nakal dan tidak pernah belajar dari kesalahan. Padahal, hubungan antara rakyat dan negara bukanlah hubungan keluarga yang penuh permakluman tanpa batas. Ini adalah hubungan kontraktual!

Di satu sisi, rakyat dituntut membayar pajak tepat waktu (bahkan didenda kalau telat). Rakyat membayar tagihan listrik tanpa modal “minta maaf” kalau uangnya kurang.

Di sisi lain, sebagai gantinya, mestinya negara wajib memberikan pelayanan yang becus dan maksimal.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Saat rakyat telat bayar listrik, meteran dicopot tanpa ampun. Saat PLN memadamkan listrik satu pulau dan merugikan miliaran rupiah sektor UMKM serta industri, mereka cukup membayar kerugian itu dengan selembar siaran pers permohonan maaf. Sungguh sebuah transaksi yang sangat adil… bagi mereka.

 

Mengurus Negara atau Mengurus Proyek?

Kejadian “Sumatera Gelap” ini adalah tamparan keras yang membongkar fakta telanjang: manajemen krisis dan keandalan infrastruktur kita masih selevel amatir. Mengapa sistem interkoneksi kita begitu rapuh? Mengapa tidak ada sistem cadangan (back-up) yang memadai untuk wilayah se-strategis Sumatera?

Jawabannya mungkin karena energi para pemangku kebijakan lebih banyak habis untuk memikirkan seremoni peresmian proyek daripada merawat fungsi jangka panjangnya.

Sepertinya, ada esensi dasar yang sering terlupakan: bahwa mengurus negara itu makna sejatinya adalah melayani rakyat dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggungjawab. Melayani berarti memastikan hak-hak dasar publik terpenuhi tanpa interupsi konyol. Mengurus negara bukan sekadar mengumpulkan pundi-pundi dari tarif yang terus naik, lalu bersembunyi di balik kata “bencana alam” saat sistem Anda rontok.

Jika untuk urusan menjaga lampu tetap menyala saja negara harus terus-menerus minta dimaklumi, lalu untuk apa kita punya kementerian, direksi berbiaya mahal, dan dewan komisaris yang berderet itu? Apakah mereka digaji besar hanya untuk menjadi humas yang bertugas menyusun kalimat permohonan maaf yang estetik saat keadaan darurat?

Stop Permakluman!

Sampai kapan rakyat harus terus menjadi pihak yang maklum? Kegelapan di Sumatera kemarin bukan sekadar perkara mati lampu, melainkan simbolisasi dari redupnya akuntabilitas dan padamnya rasa bersalah dari para pengelola negeri ini.

Jika cuaca buruk selalu bisa dijadikan pembenaran atas kegagalan sistemik, maka besok-besok kita tidak perlu ahli teknik atau manajemen mumpuni untuk mengelola fasilitas publik. Cukup sewa dukun hujan atau pawang angin, lalu serahkan nasib hajat hidup orang banyak pada arah mata angin.

Permintaan maaf tanpa adanya perbaikan radikal dan sanksi tegas hanyalah penghinaan terhadap kecerdasan publik. Rakyat sudah kenyang dengan kata “maklum”. Yang dibutuhkan hari ini adalah kompetensi, bukan komedi retorika di tengah kegelapan. (*)

Tags: Blackout SumateraListrik PadamPLN
Previous Post

Transformasi AUMSOS dan LKSA Muhammadiyah Jadi Agenda Strategis Penguatan Layanan Sosial

Related Posts

Manusia Silver

LAPK: PLN Wajib Berikan Kompensasi kepada Pelanggan Terdampak Blackout Sumatera

24 Mei 2026
123
Menuntut Kompensasi Blackout

Menuntut Kompensasi Blackout

24 Mei 2026
141
Protes Blackout, Pemuda Muhammadiyah Kota Medan Siapkan Gugatan Class Action terhadap PLN

Protes Blackout, Pemuda Muhammadiyah Kota Medan Siapkan Gugatan Class Action terhadap PLN

24 Mei 2026
425
Potret Satu Tahun Prabowo: Hukum Bertekuk Lutut ke Atas

Blackout Sumatera, Ethics of Care Desak Audit Total Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional

24 Mei 2026
124
Energi Listrik dan Peradaban Digital

Energi Listrik dan Peradaban Digital

24 Mei 2026
130
Narasumber Kuliah Umum di UMSU, GM PLN UID Sumut Bahas Energi dan Kebaikan

Narasumber Kuliah Umum di UMSU, GM PLN UID Sumut Bahas Energi dan Kebaikan

21 Mei 2026
109

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In