No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Sastra, Pendidikan, Religiositas, dan Jagat Batin Manusia

5 September 2026
in Daerah, JABARAN, Opini, Sastra
Reading Time: 5 mins read
0
A A
0
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Heri Isnaini

 

Sastra tidak selalu menyediakan jawaban; kadang-kadang ia justru memperdalam pertanyaan.

 

Sastra barangkali lahir dari sesuatu yang tidak selesai di dalam diri manusia. Ada pengalaman yang enggan menjadi sekadar ingatan, kegelisahan yang tidak menemukan rumah dalam percakapan sehari-hari, dan pertanyaan yang terus berdenyut meskipun jawaban telah berkali-kali dicari. Bahasa kemudian menjadi ruang untuk menampung semuanya. Dalam puisi, prosa, atau drama, pengalaman itu memperoleh bentuk; sesuatu yang semula bersemayam sebagai kegelisahan batin menjelma teks.

Sastra, dengan demikian, bukan sekadar perkara merangkai kata. Ia merupakan ejawantah pergulatan manusia ketika berhadapan dengan dirinya, sesamanya, dunia, dan sesuatu yang melampaui dunia itu sendiri. Pengarang membawa pengalaman personal dan sosial ke dalam teks, tetapi teks kemudian bergerak melampaui pengarangnya. Pembaca memasuki teks dengan pengalaman yang berbeda, membawa ingatan, keyakinan, dan kegelisahannya sendiri. Dari sini sastra menjadi ruang perjumpaan berbagai kesadaran.

Hubungan sastra dengan pendidikan dan religiositas dapat dibaca melalui ruang perjumpaan tersebut. Ketiganya berurusan dengan manusia, bukan hanya sebagai makhluk yang mengetahui, tetapi sebagai makhluk yang mengalami, mempertanyakan, dan mencari makna.

Pendidikan dalam pengertian yang lebih luas bukan sekadar proses pemindahan pengetahuan. Pendidikan menyangkut pembentukan cara manusia memandang dirinya dan dunia. Sementara religiositas tidak berhenti pada penguasaan doktrin keagamaan. Ia berkaitan dengan kedalaman hubungan manusia dengan sesuatu yang transenden, dengan cara manusia merasakan keterbatasan dirinya, sekaligus menyadari adanya sesuatu yang melampaui dirinya. Sastra berada dalam kelindan kedua wilayah tersebut.

Konsep dulce et utile memperlihatkan bahwa sastra sejak lama dipahami memiliki dua kemungkinan: memberi kenikmatan sekaligus kegunaan. Kenikmatan tidak hanya berarti hiburan, sebagaimana kegunaan tidak sebatas pesan moral. Sastra memberi kenikmatan melalui pengalaman estetis, sementara kegunaannya dapat hadir melalui perubahan cara pandang pembaca. Sebuah cerita tidak perlu berkhotbah untuk membuat pembacanya mempertanyakan keadilan. Sebuah puisi tidak harus menyebut Tuhan untuk membangkitkan kesadaran tentang keterbatasan manusia.

Pendidikan yang berlangsung melalui sastra justru sering bergerak secara subtil. Pembaca berhadapan dengan tokoh yang mengalami kehilangan, pengkhianatan, kemiskinan, cinta, kematian, atau kesalahan. Ia mungkin tidak pernah mengalami peristiwa yang sama, tetapi melalui imajinasi ia memasuki pengalaman tersebut. Kemampuan memasuki pengalaman orang lain inilah yang membuat sastra memiliki dimensi pedagogis yang khas.

Membaca sastra berarti meminjam mata orang lain untuk melihat dunia. Oleh karena itu, sastra dapat memperluas jagat batin manusia. Ia membuat pengalaman yang semula berada di luar diri menjadi bagian dari kesadaran pembaca. Seseorang yang membaca kisah tentang penderitaan tidak serta-merta menjadi manusia yang lebih baik, tetapi ia memperoleh kemungkinan untuk memahami penderitaan dari perspektif yang berbeda. Sastra tidak menjamin perubahan moral; ia menyediakan ruang bagi perubahan itu.

Relasi sastra dan religiositas memiliki akar yang lebih tua. Banyak tradisi sastra lahir dari kosmologi masyarakat yang menghubungkan manusia dengan kekuatan adikodrati. Mantra, misalnya, memperlihatkan suatu tahap ketika bahasa tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan pesan, tetapi dipercaya memiliki daya.

BACA JUGA

Berkemajuan, Anggota Runner-Mu Mengikuti Kompetisi Run To Care Bandung-Lembang 2024

Khotmul Qur’an dan Imtihan Warnai Pelepasan Siswa Kelas XII SKAMUSA Balikpapan

Guncang Panggung Bertutur Sejarah: Teuku Mahadiradja Rizki El-Sinki Menghadirkan Narasi “Aceh, Tanah yang Tak Pernah Diam”

Program Perkuat ASUH, PRM Sekardangan Sidoarjo Gandeng Unair dalam Penyembelihan Hewan Kurban

Indonesia~Turki

Sambut Ramadhan, PDM Pemalang Adakan Tabligh Akbar di Gedung DPRD 

Dalam mantra, kata bukan hanya representasi. Kata adalah laku. Pengucapan tertentu dipercaya mampu menghubungkan manusia dengan kekuatan yang melampaui dirinya. Kepercayaan semacam itu memperlihatkan bahwa bahasa sejak awal telah memiliki nisbah dengan dunia spiritual. Manusia mengucapkan sesuatu bukan hanya untuk mengatakan, tetapi juga untuk menghadirkan.

E.B. Taylor dalam Primitive Culture melihat kepercayaan terhadap jiwa atau soul sebagai bagian penting dalam perkembangan religi masyarakat awal. Manusia berusaha memahami pengalaman tentang mimpi, kematian, dan fenomena yang tidak terjangkau oleh pengalaman inderawi melalui gagasan tentang keberadaan unsur nonmaterial dalam dirinya.

Terlepas dari keterbatasan teori evolusionisme Taylor jika dibaca dengan perspektif antropologi kontemporer, gagasan tersebut menarik untuk memahami satu hal, yakni bahwa manusia sejak awal memiliki kebutuhan untuk memberi makna terhadap sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui pengalaman material. Sastra tumbuh di wilayah tersebut. Ia mengolah yang kasatmata sekaligus yang tidak kasatmata. Tubuh dan sukma, dunia dan transendensi, pengalaman dan ingatan, kenyataan dan imajinasi. Semuanya dapat berkelindan di dalam bahasa sastra.

Sapardi Djoko Damono, misalnya, menulis: Dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya / Dalam diriku menggenang telaga darah, sukma namanya. Puisi tersebut mempertemukan tubuh dan sukma melalui metafora air. Darah mengalir, sukma menggenang. Tubuh menjadi wilayah material, sedangkan sukma membuka kemungkinan pembacaan spiritual. Sapardi tidak perlu mengucapkan kata “Tuhan” untuk membuat puisinya dapat dibaca secara religius. Religiositas justru mungkin muncul dari kesadaran terhadap kedalaman diri.

Ungkapan yang dinisbahkan kepada Yahya bin Muadz Ar-Razi, Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, kerap diterjemahkan sebagai “barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya”. Ungkapan ini memberi kemungkinan pembacaan bahwa pengenalan terhadap diri bukan perkara narsistik, melainkan jalan menuju kesadaran transendental. Sastra bekerja pada wilayah tersebut: membawa manusia masuk ke dalam dirinya sendiri.

Pembaca membaca tokoh, tetapi menemukan dirinya. Ia mengikuti konflik orang lain, tetapi menemukan kegelisahannya sendiri. Ia menyelesaikan cerita, tetapi tidak selalu menyelesaikan pertanyaan yang ditimbulkan cerita tersebut. Sastra tidak selalu menyediakan jawaban; kadang-kadang ia justru memperdalam pertanyaan.

Kuntowijoyo kemudian menawarkan gagasan sastra profetik yang memberikan dimensi lain bagi hubungan sastra dan religiositas. Sastra tidak cukup hanya merepresentasikan realitas. Ia memiliki kemungkinan transformatif: mengarahkan manusia kepada kesadaran ketuhanan dan kepedulian sosial. Hablun minallah dan hablun minannas bukan dua wilayah yang berdiri sendiri. Kesadaran transendental memperoleh ejawantahnya melalui hubungan manusia dengan manusia lain.

Gagasan tersebut menjadi relevan ketika manusia modern semakin mudah direduksi menjadi angka. Dunia digital mengenali manusia melalui data, algoritma membaca perilaku melalui pola, dan industri mengubah manusia menjadi konsumen. Kemajuan teknologi memang memperluas kemungkinan hidup, tetapi ia juga dapat mempersempit manusia menjadi fungsi.

Sastra memiliki posisi yang berbeda. Ia mengembalikan manusia kepada pengalaman yang tidak mudah dihitung: rasa kehilangan, kerinduan, rasa bersalah, kecemasan, kasih sayang, kesepian, dan pengharapan. Sastra mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar apa yang dapat diukur. Di sinilah pendidikan sastra memperoleh urgensinya.

Pendidikan tidak semestinya hanya menghasilkan manusia yang mengetahui lebih banyak, tetapi manusia yang mampu mengalami pengetahuan tersebut secara reflektif. Anak didik bukan wadah yang harus dipenuhi informasi. Mereka adalah manusia yang sedang membangun hubungan dengan dirinya, dengan masyarakat, dengan alam, dan dengan sesuatu yang diyakininya sebagai sumber keberadaan.

Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun tumbuhnya manusia. Dalam kerangka ini, sastra dapat menjadi salah satu medium untuk memperkaya batin. Ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu hitam-putih, bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk, dan bahwa setiap keputusan memiliki jejak kemanusiaannya sendiri.

Membaca sastra berarti belajar tinggal lebih lama dalam ambiguitas. Ini penting sebab kehidupan tidak selalu menyediakan pilihan yang bersih. Ada keputusan yang benar sekaligus menyakitkan. Ada kebaikan yang melahirkan persoalan baru. Ada kesalahan yang justru menjadi pintu bagi kesadaran. Sastra memberi ruang kepada kompleksitas semacam itu tanpa tergesa-gesa mereduksinya menjadi kesimpulan moral.

Religiositas pun dapat tumbuh dari kemampuan menerima kompleksitas tersebut. Manusia menyadari bahwa dirinya terbatas. Ia mengetahui, tetapi tidak mengetahui seluruhnya. Ia mencintai, tetapi dapat kehilangan. Ia hidup, tetapi menuju kematian. Kesadaran tentang keterbatasan itulah yang membuka ruang bagi transendensi.

Maka sastra, pendidikan, dan religiositas sesungguhnya memiliki satu titik temu, yakni kesadaran manusia atas keberadaannya. Sastra memberi bentuk kepada kegelisahan. Pendidikan mengolah kegelisahan menjadi kesadaran. Religiositas memberi kedalaman pada kesadaran tersebut.

Ketiganya bukan tiga wilayah yang harus dipertemukan secara artifisial. Mereka telah berkelindan sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri. Barangkali itulah sebabnya manusia terus menulis meskipun kehidupan telah menyediakan begitu banyak jawaban. Manusia menulis sebab ada sesuatu yang belum selesai dipahami. Ada bagian dirinya yang masih gelap, ada pengalaman yang belum memperoleh bahasa, ada pertanyaan yang belum menemukan muara.

Dalam keadaan semacam itu, sastra menjadi laku. Bukan laku untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan laku untuk memasuki kehidupan dengan kesadaran yang lebih dalam. Membaca dan menulis menjadi cara manusia menelisik dirinya, menimbang dunia, merawat ingatan, dan sesekali menengadah kepada sesuatu yang berada di luar batas dirinya.

Sastra, dengan demikian, tidak harus selalu mengajarkan apa yang benar. Ia cukup membuat manusia bertanya mengapa ia menganggap sesuatu benar. Ia tidak harus memberikan jalan keluar dari setiap persoalan. Ia cukup membuka ruang agar manusia tidak lekas berdamai dengan kebodohan, kekerasan, ketidakadilan, dan kedangkalan.

Sastra adalah ruang tempat manusia belajar menjadi manusia. Dan mungkin, pulang kepada kemanusiaan memang tidak selalu membutuhkan petunjuk yang panjang. Kadang-kadang ia bermula dari satu kalimat, satu tokoh, satu metafora, atau satu kesunyian yang tiba-tiba terasa begitu dekat dengan diri sendiri. (*)

Bandung, 4 September 2026

 

Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com

 

Tags: Heri IsnainiJagat Batin ManusiapendidikanReligiositassastraTulisan Heri Isnaini
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Jalan Keluar
Cerpen

Jalan Keluar

by Mujaddid
9 Oktober 2026
61
Ketika Pembelajaran Sastra Berpindah ke Ruang Digital
JABARAN

Ketika Pembelajaran Sastra Berpindah ke Ruang Digital

by Mujaddid
29 September 2026
65
Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini
Daerah

Catatan Kritis Puisi-puisi Mantra Karya Heri Isnaini

by Mujaddid
5 September 2026
66
Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Esai

Julia Kristeva dan Teks yang Tidak Pernah Berdiri Sendiri

by Mujaddid
1 September 2026
82
Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati
Esai

Bahasa, Efisiensi Mesin, dan Kelumpuhan Empati

by Mujaddid
1 September 2026
77
Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence
Nasional

Adab Lebih Dulu daripada Artificial Intelligence

by Mujaddid
16 Agustus 2026
81
Pesantren Tidak Pernah Kekurangan Teori
Islam

Pesantren Tidak Pernah Kekurangan Teori

by Mujaddid
27 Juli 2026
71
Puisi-puisi Zahra Nur Alfiyah
Nasional

Puisi~puisi Zahra Nur Alfiyah (2)

by Mujaddid
14 Juli 2026
128
Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil
Esai

Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil

by Mujaddid
1 September 2026
66
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

by Mujaddid
28 Juni 2026
69

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
  • Jadi Role Model SMP Unggulan, Muhammadiyah Rawamangun Studi Tiru ke SMP UMP
  • Rislah Islam Kesemestaan
  • Perkuat Keterampilan Praktik 516 Mahasiswa, Laboratorium Hukum FH UMSU Bekali Puluhan Asisten
  • UMSU Vibes
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
Daerah

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?

Rislah Islam Kesemestaan
'Aisyiyah

Rislah Islam Kesemestaan

UMSU Vibes
Muhammadiyah

UMSU Vibes

Jangan Polos Memandang Politik
Nasional

Jangan Polos Memandang Politik

Muhammadiyah sebagai Kekuatan Ekonomi Strategis Bangsa: Dari Jasa Kemerdekaan menuju Kedaulatan Hulu-Hilir
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah sebagai Kekuatan Ekonomi Strategis Bangsa: Dari Jasa Kemerdekaan menuju Kedaulatan Hulu-Hilir

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
Jufri Daily

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.