Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Ada jarak yang sehat dengan kekuasaan. Dekat bukan berarti harus selalu membenarkan. Jauh bukan berarti harus selalu menyalahkan. Kita bisa menghormati pimpinan tanpa kehilangan sikap kritis. Kita bisa berbeda pendapat tanpa harus menjadi musuh.
Dulu, ketika masih remaja dan Indonesia masih berada pada zaman Orde Baru, saya pernah membaca sebuah istilah yang cukup menarik: “Muntaber”, akronim dari munafik tapi berhasil. Istilah itu digunakan oleh almarhum Toto Tasmara, seorang tokoh yang banyak berbicara tentang komunikasi, etos kerja, dan kecerdasan spiritual.
Waktu itu saya mungkin belum terlalu memahami maknanya secara mendalam. Namanya juga masih remaja. Tetapi setelah semakin banyak melihat kehidupan, berorganisasi, berkomunikasi dengan berbagai kalangan, dan belajar tentang manusia, istilah tersebut terasa semakin relevan untuk direnungkan.
Munafik sering kali disederhanakan sebagai sikap ketika seseorang berbeda antara tampilan luar dengan keadaan di dalam dirinya. Berbeda antara ucapan dengan perbuatannya. Janji mudah diucapkan, tetapi sulit ditepati. Amanah diterima, tetapi kemudian dikhianati. Di depan mengatakan A, di belakang melakukan B.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar perbedaan antara kata dan perbuatan. Lebih jauh dari itu adalah hilangnya kepercayaan.
Sebab, seseorang mungkin bisa berbohong sekali dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tetapi jika ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan terus berulang, orang lain akan mulai berhati-hati. Janji tidak lagi dianggap sebagai janji. Pernyataan tidak lagi dianggap sebagai pegangan. Bahkan kebaikan yang benar sekalipun bisa dicurigai karena reputasi telah lebih dahulu berbicara.
Yang menarik, istilah Muntaber sebenarnya mengandung ironi. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak konsisten, tidak jujur, atau tidak sesuai antara perkataan dan perbuatannya justru bisa berhasil?
Jawabannya mungkin karena keberhasilan duniawi tidak selalu identik dengan integritas.
Seseorang bisa saja berhasil mendapatkan jabatan, kekayaan, popularitas, pengaruh atau pengikut, tetapi itu belum otomatis membuktikan bahwa ia memiliki integritas. Keberhasilan adalah hasil yang terlihat, sedangkan integritas adalah kualitas yang sering kali baru terlihat ketika seseorang berhadapan dengan kepentingan, godaan, kekuasaan dan kesempatan.
Tentu saja kita tidak boleh mudah menyebut orang lain munafik. Sebab, setiap orang memiliki potensi untuk berperilaku seperti itu. Termasuk diri kita sendiri.
Biasanya potensi tersebut semakin mudah muncul ketika seseorang berinteraksi dengan kekuasaan atau berada dekat dengan orang yang berkuasa. Di kantor, organisasi, pemerintahan, perusahaan, bahkan dalam lingkungan sosial sekalipun, kedekatan dengan kekuasaan terkadang membuat seseorang tergoda memainkan peran yang berbeda.
Pimpinan dipuji berlebihan. Hampir semua perkataan pimpinan dibenarkan. Bahkan kebijakan yang sebenarnya masih perlu dikritisi pun ikut dibela. Bukan karena semuanya benar, tetapi mungkin karena ada kepentingan untuk tetap dekat.
Namun, ketika pemimpin berganti atau arah kekuasaan berubah, sikapnya pun ikut berubah.
Orang yang dulu dipuji setinggi langit, tiba-tiba menjadi orang yang paling banyak dikritisi. Yang dahulu dibela, sekarang dicaci. Yang dahulu dianggap selalu benar, tiba-tiba dianggap selalu salah.
Di sinilah kita perlu bercermin. Apakah yang berubah itu memang keadaan, atau sebenarnya hanya posisi kita terhadap kekuasaan?
Kritik tentu diperlukan. Begitu juga dukungan. Tetapi keduanya seharusnya lahir dari prinsip, bukan semata-mata dari kedekatan atau kepentingan.
Karena itu, saya teringat prinsip sederhana yang selama ini sering saya gunakan: jangan terlalu dekat sehingga menjadi penjilat, tetapi jangan terlalu jauh sehingga menjadi penghujat.
Ada jarak yang sehat dengan kekuasaan. Dekat bukan berarti harus selalu membenarkan. Jauh bukan berarti harus selalu menyalahkan. Kita bisa menghormati pimpinan tanpa kehilangan sikap kritis. Kita bisa berbeda pendapat tanpa harus menjadi musuh.
Setiap orang tentu tidak bisa lepas dari penilaian orang lain. Kita hidup bersama manusia, berkomunikasi dengan manusia, dan karena itu wajar jika perilaku kita diamati dan dinilai.
Namun, seharusnya kita tidak perlu terbelenggu oleh penilaian tersebut, sepanjang kita sendiri secara jujur mampu mengakui keterbatasan kita. Kita tidak harus merasa sempurna hanya karena ingin terlihat baik di hadapan orang lain.
Justru yang penting adalah jujur kepada diri sendiri.
Kita juga tidak perlu terlalu sibuk menasihati orang lain dengan retorika yang panjang. Sebab, kadang-kadang retorika tidak banyak manfaatnya. Bahkan retorika bisa menjadi tidak cukup untuk menutupi apa yang sesungguhnya dilihat orang dari diri kita.
Kita boleh berbicara tentang keikhlasan. Misalnya, mengatakan bahwa ketika pergi ke masjid tidak perlu mempunyai motif apa-apa selain beribadah kepada Allah. Itu tentu merupakan nasihat yang baik.
Tetapi jika dalam kenyataan orang melihat perilaku kita justru menunjukkan hal yang berbeda, kata-kata tersebut bisa kehilangan makna. Bahkan bukan tidak mungkin berubah menjadi bumerang.
Sebab, orang tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka juga melihat apa yang kita lakukan.
Di sinilah komunikasi menjadi menarik. Pesan yang kita sampaikan melalui kata-kata bisa kalah kuat dibandingkan pesan yang kita sampaikan melalui perilaku.
Kita bisa mengatakan ikhlas, tetapi orang melihat ada kepentingan. Kita bisa mengatakan sederhana, tetapi perilaku menunjukkan sebaliknya. Kita bisa berbicara tentang amanah, tetapi ketika diberi amanah justru berbeda. Pada titik tertentu, tidak perlu orang lain membantah retorika kita. Perilaku kita sendiri sudah memberikan jawabannya.
Karena itu, dalam pendidikan, keteladanan sering kali lebih kuat daripada ceramah. Dalam organisasi, konsistensi pemimpin lebih bermakna daripada slogan tentang integritas. Dalam manajemen sumber daya manusia, nilai-nilai yang tertulis di dinding akan kehilangan arti jika tidak menjadi perilaku dalam keseharian.
Mungkin karena itu pula istilah Muntaber sebaiknya tidak hanya kita gunakan untuk menilai orang lain. Justru lebih penting digunakan sebagai alarm untuk diri sendiri.
Bukankah perilaku seperti itu bisa terjadi pada siapa saja?
Kita bisa berbicara tentang kejujuran, tetapi pada saat tertentu tergoda untuk menyembunyikan kenyataan. Kita bisa berbicara tentang amanah, tetapi kemudian lalai ketika tidak ada yang mengawasi. Kita bisa meminta orang lain menepati janji, sementara janji kita sendiri terkadang terlupakan.
Di sinilah pentingnya melakukan muhasabah.
Dalam kehidupan organisasi, pendidikan, pekerjaan, bahkan dalam keluarga, kepercayaan merupakan modal sosial yang sangat mahal. Ia tidak bisa dibangun hanya dengan pidato, slogan atau pencitraan. Kepercayaan tumbuh dari komunikasi yang jujur, konsistensi sikap dan kesediaan mempertanggungjawabkan apa yang telah diucapkan.
Mungkin karena itu pula kita perlu berhati-hati dengan keberhasilan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar “berhasil”, tetapi lupa menjaga “benar”.
Sebab berhasil tanpa integritas bisa membuat seseorang mendapatkan banyak hal, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan.
Dan bagi saya, istilah Muntaber yang pernah saya baca ketika masih remaja itu akhirnya menjadi semacam pengingat. Bukan untuk menunjuk siapa yang munafik, apalagi merasa diri paling benar.
Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang saya katakan sudah sesuai dengan yang saya lakukan? Apakah janji yang saya ucapkan masih bisa dipercaya? Apakah amanah yang saya terima sudah saya jalankan dengan sebaik-baiknya?
Dan yang tidak kalah penting: Apakah sikap saya tetap sama ketika berhadapan dengan orang yang berkuasa dan ketika berhadapan dengan orang biasa?
Sebab, manusia memang tidak ada yang sempurna. Kita semua bisa keliru. Yang penting adalah berani mengakui, memperbaiki dan berusaha menjaga agar kata, sikap dan perbuatan semakin dekat satu sama lain.
Barangkali itulah salah satu bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.
Bukan hanya berhasil mencapai sesuatu, tetapi berhasil tetap menjadi orang yang dapat dipercaya ketika sudah mencapai sesuatu.(*)

















