No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Muktamar 49 Muhammadiyah dan Aisyiyah: Merawat Kebersamaan, Menjaga Ruh Islam Berkemajuan

18 September 2026
in 'Aisyiyah, Jufri Daily, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Nasional, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

 

Oleh: Jufri

Ketua PDM Kota Tebing Tinggi

 

Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh seorang sahabat yang juga jurnalis Muhammadiyah, M Risfan Sihaloho tentang satu hal yang kelihatannya sederhana, tetapi ternyata memiliki makna yang cukup penting. Ia mengingatkan agar ketika menulis tentang Muktamar di Sumatera Utara, penyebutannya tetap mengikuti pedoman: “Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah.”

Itulah fungsi sahabat yang mau mengingatkan. Kadang yang diingatkan memang kelihatannya kecil, bahkan mungkin dianggap sepele. Tetapi jika direnungkan, dampak dan nilai filosofisnya bisa sangat besar. Sahabat yang baik bukan hanya mereka yang selalu membenarkan apa yang kita lakukan, tetapi juga yang bersedia mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Mengingatkan dengan niat baik bukan untuk menunjukkan kesalahan orang lain, melainkan agar kita sama-sama menjadi lebih baik.

Dari hal kecil itu saya kemudian berpikir, ternyata dalam organisasi pun demikian. Sesuatu yang terlihat sederhana dalam komunikasi dapat membawa pesan yang besar. Cara kita menyebut nama, menempatkan istilah, dan memberikan ruang kepada sebuah unsur organisasi merupakan bagian dari komunikasi organisasi. Bahasa bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun persepsi, penghargaan, identitas, dan rasa memiliki.

Karena itu, penyebutan “Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah” bukan sekadar persoalan teknis penulisan. Ada pesan kebersamaan di dalamnya.

Apalagi Muktamar ke-49 di Sumatera Utara menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah digelar secara bersamaan. Maka menyebut keduanya secara lengkap merupakan cara sederhana untuk menghargai makna sejarah dan semangat kebersamaan yang menyertainya.

Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan dua gerakan yang baru bertemu ketika Muktamar dilaksanakan. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam membangun gerakan Islam yang mencerahkan. Karena itu, Aisyiyah tidak cukup dipahami hanya sebagai organisasi yang “mendampingi” Muhammadiyah. Aisyiyah adalah bagian penting dari gerakan yang berjalan berdampingan, saling menguatkan, dan bersama-sama menjaga ruh perjuangan.

Dalam komunikasi organisasi, posisi sebuah kelompok tidak hanya ditentukan oleh struktur formal. Pengakuan, pelibatan, kesempatan menyampaikan gagasan, dan penghargaan terhadap kontribusi juga menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat.

Di sinilah kebersamaan Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki makna yang menarik. Bukan soal siapa yang lebih utama, siapa yang di depan, atau siapa yang berada di belakang. Tetapi bagaimana dua kekuatan gerakan dapat menjalankan perannya masing-masing dalam satu visi besar.

Aisyiyah bukan sekadar pelengkap. Perjalanan panjang Aisyiyah menunjukkan kontribusi besar perempuan Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dakwah, keluarga, dan berbagai bidang kehidupan. Menempatkan Aisyiyah berdampingan bukan hanya soal simbol, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki persyarikatan.

Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia berkelanjutan, organisasi yang ingin bertahan dalam jangka panjang harus mampu mengembangkan seluruh potensi manusianya. Tidak boleh ada potensi yang terabaikan hanya karena perbedaan peran, generasi, bidang keahlian, atau posisi struktural.

Kader bukan sekadar jumlah orang yang hadir dalam sebuah kegiatan. Kader adalah sumber daya gerakan yang harus dibangun kapasitasnya, diberikan ruang untuk berkontribusi, disiapkan regenerasinya, dan dijaga semangat pengabdiannya.

Karena itu, keberlanjutan Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh kemampuan organisasi menyiapkan manusia yang mampu melanjutkan perjuangan pada masa yang akan datang.

Di sinilah Muktamar seharusnya tidak berhenti pada kepemimpinan dan program kerja. Muktamar juga menjadi ruang untuk melakukan refleksi: apakah kader kita tumbuh? Apakah komunikasi antarstruktur semakin sehat? Apakah generasi muda mendapatkan ruang? Apakah perempuan mendapatkan ruang yang semakin luas? Apakah amal usaha benar-benar menjadi ruang pengembangan manusia dan pengabdian? Dan apakah setelah Muktamar energi gerakan justru semakin kuat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting karena organisasi bukan hanya tentang struktur, tetapi tentang manusia yang menghidupkan struktur tersebut.

Kader senior memiliki pengalaman, kader muda memiliki energi dan perspektif baru. Aisyiyah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola berbagai bidang kehidupan perempuan dan keluarga. Muhammadiyah memiliki jaringan gerakan yang luas. Organisasi otonom memiliki karakter dan basis kader masing-masing. Semuanya dapat menjadi kekuatan jika dikelola dalam komunikasi yang saling menghargai.

Kekompakan tidak berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Kekompakan justru lahir ketika setiap unsur memahami perannya dan bersedia saling menguatkan.

Setiap daerah memiliki tantangan dan kelemahannya sendiri. Tetapi setiap daerah juga memiliki peluang dan kekuatannya sendiri. Karena itu, pendekatan organisasi tidak bisa selalu seragam. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca lingkungan, mengembangkan potensi lokal, membangun kolaborasi, dan menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Sumatera Utara memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa Muktamar bukan hanya mampu menghadirkan perhelatan besar, tetapi juga meninggalkan warisan gerakan yang lebih besar: budaya kolaborasi, komunikasi yang sehat, kaderisasi yang berkelanjutan, dan penguatan amal usaha.

Mungkin inilah salah satu makna penting dari tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Kecerdasan bukan hanya kemampuan memahami ilmu, tetapi juga kemampuan membaca zaman dan mengelola perbedaan. Cahaya tidak hanya dinyalakan untuk diri sendiri, tetapi harus menerangi lingkungan sekitarnya.

Maka Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara semestinya kita lihat lebih jauh daripada sekadar agenda organisasi.

Ia adalah momentum untuk memperlihatkan bahwa kebersamaan dapat menjadi kekuatan.

Bahwa komunikasi yang baik dapat menjaga persaudaraan.

Bahwa penghargaan terhadap setiap unsur dapat memperkuat rasa memiliki.

Dan bahwa manajemen sumber daya manusia yang berkelanjutan menjadi bagian penting untuk memastikan gerakan tidak berhenti pada satu generasi.

Dan mungkin sahabat saya benar ketika mengingatkan tentang cara menuliskan nama Muktamar itu.

Sebab kadang-kadang sesuatu yang kita anggap kecil justru menyimpan pesan yang besar.

Menulis Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan hanya tentang tata cara penyebutan. Ia adalah cara sederhana untuk mengingat bahwa dalam perjalanan panjang Islam berkemajuan, Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan berjalan sendiri-sendiri, apalagi salah satunya hanya berada di belakang yang lain.

Keduanya berdampingan.
Saling menguatkan.
Saling melengkapi.

Dan bersama-sama menjaga agar ruh Islam berkemajuan tetap hidup, relevan, mencerahkan, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Semoga Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara tidak hanya meninggalkan catatan sejarah sebagai Muktamar yang untuk pertama kalinya digabungkan, tetapi juga melahirkan tradisi baru dalam membangun komunikasi organisasi yang sehat, mengembangkan sumber daya manusia secara berkelanjutan, memperkuat kaderisasi, dan memperluas ruang kolaborasi.

Sebab , gerakan besar tidak dibangun oleh satu pihak saja. Tapi Aisyiyah tentu harus tetap menyadari bahwa Aisyiyah adalah organisasi Otonom khusus yang semua gerak langkahnya harus mengikuti Muhammadiyah sebagai rumah besar kita semua .

BACA JUGA

Siswa SD Muhammadiyah 1 Surakarta Juara Tembang Tradisional Hardiknas 2023

PWA Jatim dan PDA Wilker Surabaya Raya Laksanakan Rapat Konsolidasi

Gelar Muscab, PCM Jetis Jadikan 6 Isu Kemanusiaan sebagai Program Prioritas 

Persyarikatan

UMSU Content Creator Fest 2025 Hadirkan Danang Giri Sadewa

PGSD FKIP UMSU Gelar Seminar Nasional Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Ia tumbuh ketika semua kekuatan yang ada bersedia berdiri berdampingan, bekerja bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan terus fastabiqul khairat untuk menghadirkan Islam berkemajuan yang mencerahkan dan menjadi rahmat bagi semesta. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: Muktamar 49Muktamar 49 Muhammadiyah AisyiyahTulisan Jufri
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
Daerah

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?

by Mujaddid
14 Oktober 2026
53
Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
Jufri Daily

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung

by Mujaddid
13 Oktober 2026
55
Pelantikan PW IPM Sumut Periode 2026–2028, Rektor UMSU Ajak Kader Sukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah
'Aisyiyah

Pelantikan PW IPM Sumut Periode 2026–2028, Rektor UMSU Ajak Kader Sukseskan Muktamar 49 Muhammadiyah

by Mujaddid
12 Oktober 2026
57
Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

by Mujaddid
10 Oktober 2026
79
Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

by Mujaddid
12 Oktober 2026
67
Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir
Jufri Daily

Pertanyaan Hakim dan Pertanyaan Munkar-Nakir

by Mujaddid
7 Oktober 2026
60
Kapolri Baru Tetap Polisi
Jufri Daily

Kapolri Baru Tetap Polisi

by Mujaddid
2 Oktober 2026
71
Muktamar 49 Muhammadiyah dan Aisyiyah: Merawat Kebersamaan, Menjaga Ruh Islam Berkemajuan
'Aisyiyah

Marhaban Muktamar 49 dan Tantangan Tata Kelola Lingkungan

by Mujaddid
2 Oktober 2026
61
Persiapkan Muktamar 49 Muhammadiyah & Aisyiyah, Panitia Daerah Gelar Konsolidasi
'Aisyiyah

Persiapkan Muktamar 49 Muhammadiyah & Aisyiyah, Panitia Daerah Gelar Konsolidasi

by Mujaddid
30 September 2026
63
Jurnalistik Berkemajuan Menyambut Muktamar 49
'Aisyiyah

Jurnalistik Berkemajuan Menyambut Muktamar 49

by Mujaddid
25 September 2026
84

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
  • Jadi Role Model SMP Unggulan, Muhammadiyah Rawamangun Studi Tiru ke SMP UMP
  • Rislah Islam Kesemestaan
  • Perkuat Keterampilan Praktik 516 Mahasiswa, Laboratorium Hukum FH UMSU Bekali Puluhan Asisten
  • UMSU Vibes
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
Daerah

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?

Rislah Islam Kesemestaan
'Aisyiyah

Rislah Islam Kesemestaan

UMSU Vibes
Muhammadiyah

UMSU Vibes

Jangan Polos Memandang Politik
Nasional

Jangan Polos Memandang Politik

Muhammadiyah sebagai Kekuatan Ekonomi Strategis Bangsa: Dari Jasa Kemerdekaan menuju Kedaulatan Hulu-Hilir
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah sebagai Kekuatan Ekonomi Strategis Bangsa: Dari Jasa Kemerdekaan menuju Kedaulatan Hulu-Hilir

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
Jufri Daily

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.