Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh seorang sahabat yang juga jurnalis Muhammadiyah, M Risfan Sihaloho tentang satu hal yang kelihatannya sederhana, tetapi ternyata memiliki makna yang cukup penting. Ia mengingatkan agar ketika menulis tentang Muktamar di Sumatera Utara, penyebutannya tetap mengikuti pedoman: “Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah.”
Itulah fungsi sahabat yang mau mengingatkan. Kadang yang diingatkan memang kelihatannya kecil, bahkan mungkin dianggap sepele. Tetapi jika direnungkan, dampak dan nilai filosofisnya bisa sangat besar. Sahabat yang baik bukan hanya mereka yang selalu membenarkan apa yang kita lakukan, tetapi juga yang bersedia mengingatkan ketika ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Mengingatkan dengan niat baik bukan untuk menunjukkan kesalahan orang lain, melainkan agar kita sama-sama menjadi lebih baik.
Dari hal kecil itu saya kemudian berpikir, ternyata dalam organisasi pun demikian. Sesuatu yang terlihat sederhana dalam komunikasi dapat membawa pesan yang besar. Cara kita menyebut nama, menempatkan istilah, dan memberikan ruang kepada sebuah unsur organisasi merupakan bagian dari komunikasi organisasi. Bahasa bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun persepsi, penghargaan, identitas, dan rasa memiliki.
Karena itu, penyebutan “Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah” bukan sekadar persoalan teknis penulisan. Ada pesan kebersamaan di dalamnya.
Apalagi Muktamar ke-49 di Sumatera Utara menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah digelar secara bersamaan. Maka menyebut keduanya secara lengkap merupakan cara sederhana untuk menghargai makna sejarah dan semangat kebersamaan yang menyertainya.
Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan dua gerakan yang baru bertemu ketika Muktamar dilaksanakan. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam membangun gerakan Islam yang mencerahkan. Karena itu, Aisyiyah tidak cukup dipahami hanya sebagai organisasi yang “mendampingi” Muhammadiyah. Aisyiyah adalah bagian penting dari gerakan yang berjalan berdampingan, saling menguatkan, dan bersama-sama menjaga ruh perjuangan.
Dalam komunikasi organisasi, posisi sebuah kelompok tidak hanya ditentukan oleh struktur formal. Pengakuan, pelibatan, kesempatan menyampaikan gagasan, dan penghargaan terhadap kontribusi juga menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat.
Di sinilah kebersamaan Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki makna yang menarik. Bukan soal siapa yang lebih utama, siapa yang di depan, atau siapa yang berada di belakang. Tetapi bagaimana dua kekuatan gerakan dapat menjalankan perannya masing-masing dalam satu visi besar.
Aisyiyah bukan sekadar pelengkap. Perjalanan panjang Aisyiyah menunjukkan kontribusi besar perempuan Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dakwah, keluarga, dan berbagai bidang kehidupan. Menempatkan Aisyiyah berdampingan bukan hanya soal simbol, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki persyarikatan.
Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia berkelanjutan, organisasi yang ingin bertahan dalam jangka panjang harus mampu mengembangkan seluruh potensi manusianya. Tidak boleh ada potensi yang terabaikan hanya karena perbedaan peran, generasi, bidang keahlian, atau posisi struktural.
Kader bukan sekadar jumlah orang yang hadir dalam sebuah kegiatan. Kader adalah sumber daya gerakan yang harus dibangun kapasitasnya, diberikan ruang untuk berkontribusi, disiapkan regenerasinya, dan dijaga semangat pengabdiannya.
Karena itu, keberlanjutan Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh kemampuan organisasi menyiapkan manusia yang mampu melanjutkan perjuangan pada masa yang akan datang.
Di sinilah Muktamar seharusnya tidak berhenti pada kepemimpinan dan program kerja. Muktamar juga menjadi ruang untuk melakukan refleksi: apakah kader kita tumbuh? Apakah komunikasi antarstruktur semakin sehat? Apakah generasi muda mendapatkan ruang? Apakah perempuan mendapatkan ruang yang semakin luas? Apakah amal usaha benar-benar menjadi ruang pengembangan manusia dan pengabdian? Dan apakah setelah Muktamar energi gerakan justru semakin kuat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu penting karena organisasi bukan hanya tentang struktur, tetapi tentang manusia yang menghidupkan struktur tersebut.
Kader senior memiliki pengalaman, kader muda memiliki energi dan perspektif baru. Aisyiyah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola berbagai bidang kehidupan perempuan dan keluarga. Muhammadiyah memiliki jaringan gerakan yang luas. Organisasi otonom memiliki karakter dan basis kader masing-masing. Semuanya dapat menjadi kekuatan jika dikelola dalam komunikasi yang saling menghargai.
Kekompakan tidak berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Kekompakan justru lahir ketika setiap unsur memahami perannya dan bersedia saling menguatkan.
Setiap daerah memiliki tantangan dan kelemahannya sendiri. Tetapi setiap daerah juga memiliki peluang dan kekuatannya sendiri. Karena itu, pendekatan organisasi tidak bisa selalu seragam. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca lingkungan, mengembangkan potensi lokal, membangun kolaborasi, dan menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Sumatera Utara memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa Muktamar bukan hanya mampu menghadirkan perhelatan besar, tetapi juga meninggalkan warisan gerakan yang lebih besar: budaya kolaborasi, komunikasi yang sehat, kaderisasi yang berkelanjutan, dan penguatan amal usaha.
Mungkin inilah salah satu makna penting dari tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Kecerdasan bukan hanya kemampuan memahami ilmu, tetapi juga kemampuan membaca zaman dan mengelola perbedaan. Cahaya tidak hanya dinyalakan untuk diri sendiri, tetapi harus menerangi lingkungan sekitarnya.
Maka Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara semestinya kita lihat lebih jauh daripada sekadar agenda organisasi.
Ia adalah momentum untuk memperlihatkan bahwa kebersamaan dapat menjadi kekuatan.
Bahwa komunikasi yang baik dapat menjaga persaudaraan.
Bahwa penghargaan terhadap setiap unsur dapat memperkuat rasa memiliki.
Dan bahwa manajemen sumber daya manusia yang berkelanjutan menjadi bagian penting untuk memastikan gerakan tidak berhenti pada satu generasi.
Dan mungkin sahabat saya benar ketika mengingatkan tentang cara menuliskan nama Muktamar itu.
Sebab kadang-kadang sesuatu yang kita anggap kecil justru menyimpan pesan yang besar.
Menulis Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan hanya tentang tata cara penyebutan. Ia adalah cara sederhana untuk mengingat bahwa dalam perjalanan panjang Islam berkemajuan, Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan berjalan sendiri-sendiri, apalagi salah satunya hanya berada di belakang yang lain.
Keduanya berdampingan.
Saling menguatkan.
Saling melengkapi.
Dan bersama-sama menjaga agar ruh Islam berkemajuan tetap hidup, relevan, mencerahkan, serta mampu menjawab tantangan zaman.
Semoga Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara tidak hanya meninggalkan catatan sejarah sebagai Muktamar yang untuk pertama kalinya digabungkan, tetapi juga melahirkan tradisi baru dalam membangun komunikasi organisasi yang sehat, mengembangkan sumber daya manusia secara berkelanjutan, memperkuat kaderisasi, dan memperluas ruang kolaborasi.
Sebab , gerakan besar tidak dibangun oleh satu pihak saja. Tapi Aisyiyah tentu harus tetap menyadari bahwa Aisyiyah adalah organisasi Otonom khusus yang semua gerak langkahnya harus mengikuti Muhammadiyah sebagai rumah besar kita semua .
Ia tumbuh ketika semua kekuatan yang ada bersedia berdiri berdampingan, bekerja bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan terus fastabiqul khairat untuk menghadirkan Islam berkemajuan yang mencerahkan dan menjadi rahmat bagi semesta. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

















