Oleh: Affan Al Quddus, S.Sos., M.Si.
Dosen FISIP UMSU Pemerhati Kebijakan Publik dan Pemberdayaan Masyarakat
Ada daerah yang tumbuh karena dirawat. Ada pula daerah yang bertahan karena warganya pantang menyerah. Kepulauan Nias termasuk yang kedua. Di tengah keterbatasan geografis, akses, sumber daya, dan kondisi demografis yang mayoritas non-Muslim, Muhammadiyah di Nias tetap bertahan. Para pimpinan, guru, mubalig, dan warga persyarikatan terus bergerak dengan kemampuan yang terbatas.
Tetapi pertanyaannya sekarang: sampai kapan mereka harus berjuang sendirian?
Inilah pertanyaan yang layak diajukan kepada PW Muhammadiyah Sumatera Utara. Bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bukan pula untuk mengerdilkan perjuangan Muhammadiyah di Nias. Justru sebaliknya. Pertanyaan ini lahir dari kegelisahan: mengapa daerah yang membutuhkan sentuhan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan justru belum menjadi prioritas yang serius?
Realitas di lapangan, di Kepulauan Nias; Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Selatan, dan Nias Barat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) masih sangat terbatas. Di Kota Gunungsitoli terdapat TK, SD, dan SMP Muhammadiyah. Di Nias Utara terdapat TK, SD, Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Tsanawiyah. Namun di Kabupaten Nias, Nias Selatan, dan Nias Barat, AUM pendidikan belum tersedia.
Lebih memprihatinkan lagi, AUM di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi masih sangat minim, bahkan belum hadir secara nyata di sejumlah wilayah.
Ini bukan sekadar persoalan jumlah sekolah. Ini adalah persoalan masa depan kader dan keberlanjutan dakwah. Ketika anak-anak warga Muhammadiyah bersekolah di luar lingkungan pendidikan Muhammadiyah, tentu tidak otomatis mereka kehilangan identitas. Tetapi ruang pembinaan ideologi, karakter, kepemimpinan, dan kaderisasi Muhammadiyah menjadi jauh lebih terbatas. Padahal kaderisasi bukan pekerjaan satu atau dua tahun.
Kaderisasi adalah investasi puluhan tahun. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan siapa yang berdiri meneruskan Muhammadiyah 20 atau 30 tahun mendatang.
Karena itu, membiarkan keterbatasan AUM berlangsung terlalu lama sama artinya dengan menunda investasi terhadap masa depan persyarikatan.
Jangan Sampai Muhammadiyah Hanya Punya Nama
Muhammadiyah tidak boleh hanya hadir dalam bentuk papan nama organisasi, struktur kepengurusan, rapat, pengajian, dan kegiatan seremonial. Muhammadiyah harus hadir dalam kehidupan masyarakat.
Ada sekolah ketika masyarakat membutuhkan pendidikan; Ada klinik ketika masyarakat membutuhkan layanan kesehatan; Ada pemberdayaan ekonomi ketika masyarakat membutuhkan penghidupan; Ada kader ketika umat membutuhkan penerus.
Di sinilah makna Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar menemukan bentuk konkretnya.
Khusus di Kepulauan Nias, tantangan itu jauh lebih besar. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan dari mimbar ke mimbar. Dakwah harus hadir dalam bentuk pelayanan. Sebab masyarakat akan lebih mudah merasakan Islam melalui keteladanan, kualitas pelayanan, kejujuran, kepedulian, dan manfaat nyata.
Sekolah yang unggul adalah dakwah. Guru yang amanah adalah dakwah. Dokter dan tenaga kesehatan yang melayani dengan tulus adalah dakwah. Kader yang kembali ke kampung untuk membangun masyarakat adalah dakwah.
PW Muhammadiyah Sumut Harus Membuat “Program Khusus Nias”
Karena itu, sudah waktunya PW Muhammadiyah Sumatera Utara membuat kebijakan khusus:
Program Khusus Nias. Bukan program sesaat. Bukan sekadar kunjungan. Bukan sekadar seminar. Tetapi program lima tahun yang memiliki target, anggaran, SDM, indikator keberhasilan, dan evaluasi yang jelas.
Minimal ada beberapa agenda besar yang harus dimulai yakni: Kejar Ketertinggalan AUM Target lima tahun harus konkret.
Pertama, berdirinya minimal satu SMA Muhammadiyah di Gunungsitoli.
Kedua, merintis SD/MI Muhammadiyah di Nias Selatan dan Nias Barat.
Ketiga, membangun embrio layanan kesehatan melalui Klinik Pelayanan Kesehatan Muhammadiyah di Gunungsitoli.
Setelah itu, secara bertahap dikembangkan AUM sosial dan ekonomi. Kita tidak boleh lagi berpikir, “Nanti kalau sudah ada dana.” Kalau selalu menunggu dana tersedia, kapan akan dimulai? Program besar selalu dimulai dari keberanian untuk menetapkan prioritas. Jika Nias menjadi prioritas, maka sumber daya pasti harus dicarikan.
Kirim SDM Terbaik Muhammadiyah ke Nias.
Gedung tidak akan menghidupkan Muhammadiyah. Manusialah yang menghidupkannya. Karena itu, PW Muhammadiyah Sumut perlu membuat program: “Guru, Kepala Sekolah, dan Tenaga Kesehatan Mengabdi untuk Nias.”
Kirim guru terbaik; Kirim kepala sekolah yang berpengalaman.; Kirim tenaga kesehatan.; Kirim kader profesional.; Kirim mubalig.; Kirim anak-anak muda Muhammadiyah yang memiliki kompetensi.
Mereka tidak harus menetap seumur hidup. Bisa melalui skema pengabdian satu, dua, atau tiga tahun dengan dukungan pembiayaan dan sistem pendampingan yang jelas. Dengan cara itu, transfer pengetahuan dan pengalaman dapat berlangsung. Yang kita bangun bukan hanya sekolah. Kita sedang membangun ekosistem.
Putra-Putri Nias Harus Kembali
Sebagai Kader Ini jauh lebih penting. Jangan sampai Muhammadiyah hanya mengirim orang dari luar Nias tanpa menyiapkan kader lokal. Kita membutuhkan kader yang lahir dari Nias, memahami Nias, mencintai Nias, dan mau pulang membangun Nias.
Karena itu, perlu dibentuk beasiswa: “Putra-Putri Nias Mengabdi.” Anak-anak Nias diberikan kesempatan kuliah di UMSU, UMTS, dan perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Mereka dapat belajar pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, teknologi, komunikasi, pertanian, dan berbagai bidang keahlian yang dibutuhkan masyarakat.
Tetapi beasiswa itu jangan berhenti pada ijazah. Harus ada komitmen: Belajar di kota, pulang membangun kampung. Inilah investasi kader yang sesungguhnya. Bayangkan jika dalam lima tahun lahir puluhan sarjana asal Nias yang kembali sebagai guru, kepala sekolah, tenaga kesehatan, pengusaha, dai, akademisi, dan aktivis sosial Muhammadiyah. Dalam sepuluh atau dua puluh tahun, dampaknya akan jauh lebih besar daripada sekadar membangun beberapa gedung.
Selanjutnya Konsolidasikan ZIS, Wakaf, dan CSR Kita juga tidak boleh berpikir bahwa seluruh pembiayaan harus dibebankan kepada PW Muhammadiyah Sumut. Tidak. Harus ada gerakan kolektif. Dana ZIS, wakaf produktif, CSR perusahaan, filantropi warga Muhammadiyah, donatur, alumni perguruan tinggi Muhammadiyah, dan berbagai sumber pembiayaan lainnya harus dikonsolidasikan. Jika setiap PDM di Sumatera Utara mengambil satu bagian kecil dari tanggung jawab ini, bebannya tidak akan terasa berat. Ada PDM yang membantu guru; ada yang membantu pembangunan sekolah; ada yang membantu beasiswa; ada yang membantu alat kesehatan; ada yang membantu pengembangan ekonomi.
Nias tidak membutuhkan belas kasihan. Nias membutuhkan solidaritas.
Jadikan AUM sebagai Wajah Islam Berkemajuan
Ini yang tidak kalah penting.
Muhammadiyah harus memahami konteks Nias. Di daerah dengan mayoritas masyarakat non-Muslim, AUM tidak boleh tampil eksklusif. Sekolah Muhammadiyah harus menjadi sekolah yang berkualitas dan terbuka bagi semua. Klinik Muhammadiyah harus melayani semua pasien dengan profesional dan penuh kasih. Kegiatan sosial Muhammadiyah harus menyentuh siapa saja yang membutuhkan.
Inilah dakwah bil hal. Masyarakat tidak perlu terlebih dahulu menjadi Muhammadiyah untuk merasakan manfaat Muhammadiyah. Justru melalui pelayanan yang unggul, amanah, dan berakhlak, masyarakat akan melihat bahwa Islam membawa rahmat dan kemajuan.
Dakwah tidak selalu harus dimulai dengan kata-kata. Kadang ia dimulai dengan pelayanan yang tulus.
Jangan Biarkan PDM di Kepulauan Nias Berjuang Sendiri
PW Muhammadiyah Sumut juga harus menggerakkan seluruh PDM di luar Kepulauan Nias. Jangan biarkan PDM di Nias berjalan sendirian. Muhammadiyah adalah satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian yang lain harus ikut merasakan.
PDM yang kuat harus membantu PDM yang sedang tumbuh.
Sekolah Muhammadiyah yang maju harus membantu sekolah Muhammadiyah yang sedang merintis.
Rumah sakit Muhammadiyah yang kuat harus membantu pengembangan layanan kesehatan di Nias.
Kader profesional harus berbagi ilmu. Alumni harus kembali memberi kontribusi.
Pengusaha Muhammadiyah harus membuka ruang pemberdayaan. Inilah makna persyarikatan.
Mengapa Harus Nias?
Jawabannya sederhana: Karena Nias adalah bagian dari Sumatera Utara. Warga Muhammadiyah di Nias adalah bagian dari keluarga besar Muhammadiyah Sumatera Utara.
Jarak geografis tidak boleh berubah menjadi jarak emosional.
Keterbatasan akses tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan. Justru daerah yang tertinggal harus mendapatkan perhatian lebih besar.
Jika Muhammadiyah hanya membangun di daerah yang sudah maju, lalu siapa yang akan hadir di daerah yang membutuhkan? Di situlah ukuran kebesaran sebuah organisasi diuji. Bukan ketika membangun di tempat yang mudah. Tetapi ketika berani hadir di tempat yang sulit.
Jangan Tunggu Nanti
Kita sering berbicara tentang Islam Berkemajuan. Kita berbicara tentang pendidikan unggul. Kita berbicara tentang kesehatan. Kita berbicara tentang kaderisasi. Kita berbicara tentang dakwah berkemajuan.
Pertanyaannya: Apakah semua itu sudah benar-benar dirasakan oleh saudara-saudara kita di Kepulauan Nias?
Kalau belum, maka sekaranglah waktunya bergerak. Jangan menunggu satu tahun lagi. Jangan menunggu lima tahun lagi. Sebab lima tahun yang hilang berarti satu generasi anak-anak yang tumbuh tanpa cukup ruang pembinaan Muhammadiyah. Dan sepuluh tahun yang berlalu tanpa perubahan dapat membuat kita kehilangan lebih banyak lagi.
Penutup
Wahai Pimpinan dan warga Muhammadiyah Sumatera Utara. Muhammadiyah Nias sedang menunggu.
Mereka tidak meminta dikasihani. Mereka hanya membutuhkan pendampingan.
Mereka tidak meminta dipuji. Mereka membutuhkan kesempatan.
Mereka tidak membutuhkan janji. Mereka membutuhkan kehadiran.
Mari kita ubah “kerakap tumbuh di atas batu” menjadi pohon besar yang tumbuh kokoh, rindang, dan menjadi peneduh bagi banyak orang.
Caranya tidak rumit: Fokus. Dana. SDM. Fokuskan program untuk Nias. Konsolidasikan dana untuk Nias. Kirim SDM terbaik untuk Nias.
Dan yang paling penting, sekolahkan putra-putri Nias ke UMSU, UMTS, dan perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Setelah mereka selesai, panggil mereka pulang. Pulangkan sebagai guru. Pulangkan sebagai dokter dan tenaga kesehatan. Pulangkan sebagai pengusaha. Pulangkan sebagai akademisi. Pulangkan sebagai dai. Pulangkan sebagai kader pelopor Muhammadiyah. Sebab masa depan Muhammadiyah di Nias tidak boleh selamanya bergantung kepada orang-orang yang datang dari luar. Nias harus melahirkan kadernya sendiri.
Dan kepada PW Muhammadiyah Sumatera Utara, pesan ini sederhana: Jangan hanya datang ke Nias untuk berkunjung. Datanglah untuk membangun. Datanglah untuk mendampingi. Datanglah untuk menanam. Sebab mungkin kita tidak langsung melihat pohon itu menjadi besar. Tetapi generasi Muhammadiyah di Nias kelak akan menikmati teduhnya. Nias bukan halaman belakang Muhammadiyah Sumatera Utara.
Nias adalah bagian dari masa depan Muhammadiyah Sumatera Utara. Sudah saatnya PW Muhammadiyah Sumut turun tangan. Sekarang. Bukan nanti. (*)
Wassalam.

















