Oleh: Harimawan
Kalau kita melihat perjalanan Muhammadiyah, ada banyak hal yang patut kita syukuri. Lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah ikut berbuat untuk umat dan bangsa.
Pada suatu masa, mendirikan sekolah mungkin bukan pekerjaan yang mudah. Begitu juga ketika Muhammadiyah mulai membangun rumah sakit dan perguruan tinggi. Semua itu tentu membutuhkan keberanian, tenaga, pikiran, dan pengorbanan.
Sekarang kita bisa melihat hasil dari perjuangan panjang tersebut. Sekolah Muhammadiyah ada di banyak tempat. Rumah sakit dan perguruan tinggi juga terus berkembang. Belum lagi berbagai kegiatan sosial dan dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan organisasi otonomnya.
Semua itu adalah warisan yang sangat besar. Namun, saya sering berpikir, apakah keberhasilan tersebut cukup untuk menghadapi masa depan?
Apa yang harus dilakukan Muhammadiyah setelah memasuki abad kedua? Pertanyaan ini bukan berarti apa yang dilakukan Muhammadiyah selama ini kurang baik. Justru karena sudah banyak yang dilakukan, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkannya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Dunia yang Terus Berubah
Dunia sekarang berubah sangat cepat. Teknologi berkembang hampir setiap saat. Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence mulai memengaruhi banyak hal.
Cara orang belajar berubah. Cara bekerja berubah. Cara berkomunikasi juga berubah.
Anak-anak muda sekarang bahkan mungkin lebih cepat mengenal teknologi daripada generasi sebelumnya. Kita sering mendengar istilah VUCA, yaitu Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Sederhananya, kita hidup dalam keadaan yang penuh perubahan, ketidakpastian, persoalan yang semakin kompleks, dan situasi yang kadang sulit dipahami.
Dalam kondisi seperti ini, Muhammadiyah tentu tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara yang sudah dilakukan pada masa lalu.
Warisan masa lalu tetap penting. Tetapi cara mengembangkan warisan tersebut juga perlu disesuaikan.
Menurut saya, tantangannya adalah bagaimana Muhammadiyah tetap menjadi gerakan yang dibutuhkan oleh masyarakat pada zamannya.
Amal Usaha Jangan Hanya Menjadi Bangunan
Muhammadiyah mempunyai amal usaha yang sangat banyak. Ada sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan dan berbagai lembaga lainnya.
Kadang-kadang kita mungkin lebih sering melihatnya sebagai jumlah atau aset organisasi. Padahal, menurut saya, yang lebih penting adalah apa yang dihasilkan dari semua itu.
Sekolah Muhammadiyah misalnya, jangan hanya menjadi tempat anak mendapatkan ijazah. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar menjadi manusia yang berilmu, memiliki karakter, mampu bekerja sama, dan siap menghadapi masa depan.
Begitu juga perguruan tinggi. Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak cukup hanya menghasilkan sarjana. Ia juga perlu menghasilkan ilmu, penelitian, gagasan, dan solusi bagi persoalan masyarakat.
Rumah sakit juga demikian. Pelayanan kesehatan tentu menjadi tugas utama. Tetapi di dalamnya juga ada nilai kemanusiaan dan kepedulian kepada sesama.
Karena itu, saya membayangkan amal usaha Muhammadiyah bukan hanya sebagai lembaga yang harus terus berkembang, tetapi juga sebagai tempat untuk mencoba berbagai gagasan baru bagi kemajuan masyarakat. Semacam laboratorium peradaban.
Ukuran keberhasilan Muhammadiyah, menurut saya, bukan hanya semakin banyaknya amal usaha yang dimiliki. Yang tidak kalah penting adalah seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Tetap Berakar, Tetapi Mau Berubah
Perubahan zaman kadang membuat kita khawatir. Apalagi ketika perubahan tersebut berlangsung sangat cepat.
Tetapi saya kira Muhammadiyah tidak perlu takut menghadapi perubahan. Muhammadiyah sejak awal juga dikenal sebagai gerakan tajdid. Artinya, ada semangat untuk melakukan pembaruan.
Tajdid tentu bukan berarti meninggalkan semua yang sudah ada. Menurut saya, yang perlu dilakukan adalah menjaga nilai-nilai yang memang menjadi dasar, tetapi terus mencari cara baru dalam menerapkannya.
Teknologi berubah. Cara belajar berubah. Media dakwah berubah. Cara orang berkomunikasi juga berubah. Tetapi nilai-nilai yang baik tetap perlu dijaga.
Di sinilah saya melihat Muhammadiyah sebenarnya mempunyai modal yang kuat. Kita tidak harus memilih antara tradisi dan kemajuan. Kita bisa tetap berakar, tetapi terus bertumbuh.
Anak Muda Harus Diberi Ruang
Hal lain yang menurut saya penting adalah kaderisasi. Generasi muda Muhammadiyah hari ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan sekarang juga kecerdasan buatan.
Karena itu, mungkin pendekatan kepada mereka juga perlu berubah. Anak muda jangan hanya diajak untuk mengikuti kegiatan Muhammadiyah. Mereka juga perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka perlu diberi ruang untuk mencoba.
Kadang-kadang kita terlalu khawatir ketika anak muda melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Padahal, bisa jadi cara yang berbeda itu justru dibutuhkan untuk menghadapi persoalan baru.
Menurut saya, generasi muda tidak seharusnya hanya menjadi penerima estafet Muhammadiyah. Mereka harus mulai dilibatkan dalam menentukan ke mana estafet itu akan dibawa.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang memahami agama dan organisasi, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kader yang mampu bekerja sama, memiliki integritas, dan mau terlibat menyelesaikan persoalan masyarakat.
Kita tidak hanya membutuhkan kader organisasi. Kita membutuhkan kader peradaban. Teguh pada Nilai, Terbuka pada Perubahan
Menghadapi perubahan yang cepat, kita mungkin bisa mengambil pelajaran dari konsep wasatiyah, yaitu sikap yang seimbang dan tidak berlebihan. Kita tidak perlu takut terhadap semua perubahan. Tetapi kita juga tidak harus mengikuti semua perubahan.
Ada perubahan yang memang baik untuk diikuti. Ada juga yang harus kita pikirkan kembali. Karena itu, menurut saya, Muhammadiyah perlu memiliki sikap teguh dalam nilai, tetapi terbuka dalam cara.
Kita membutuhkan ilmu untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Kita juga membutuhkan kebijaksanaan sebelum mengambil keputusan.
Di sinilah gagasan Islam Berkemajuan menjadi penting. Islam Berkemajuan bukan berarti sekadar mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari itu, bagaimana nilai-nilai Islam dapat memberikan jawaban terhadap persoalan yang muncul pada zaman tersebut.
Ketika kecerdasan buatan mulai mengubah pendidikan, Muhammadiyah perlu memikirkan bagaimana pendidikan ke depan. Ketika dunia kerja berubah, Muhammadiyah perlu membantu menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi.
Ketika lingkungan menghadapi berbagai persoalan, Muhammadiyah juga perlu ikut mencari jalan keluarnya.
Begitu juga dengan dakwah. Kalau cara anak muda berkomunikasi berubah, mungkin cara kita berdakwah juga perlu menyesuaikan. Bukan berarti nilai dakwahnya berubah, tetapi cara menyampaikannya yang mungkin perlu diperbarui.
Dengan demikian, Muhammadiyah tidak hanya menunggu perubahan terjadi. Muhammadiyah juga bisa ikut membaca dan memberi arah terhadap perubahan tersebut.
Tidak Harus Selalu Lebih Besar
Pada akhirnya, saya merasa bahwa kita perlu melihat kembali ukuran keberhasilan Muhammadiyah.
Selama ini mungkin kita sering bertanya: Seberapa besar Muhammadiyah? Berapa banyak sekolahnya? Berapa banyak rumah sakitnya? Berapa banyak perguruan tingginya? Berapa banyak kadernya?
Semua itu tentu penting. Tetapi mungkin ada pertanyaan lain yang lebih penting: Seberapa besar manfaat Muhammadiyah bagi masyarakat?
Sebab organisasi yang besar belum tentu selalu menjadi organisasi yang paling dirasakan manfaatnya. Di tengah perubahan yang begitu cepat, saya berharap Muhammadiyah tidak perlu menjadi gerakan yang paling ramai dalam menyikapi setiap perubahan.
Cukup menjadi gerakan yang mampu membaca keadaan dengan jernih, mengambil sikap dengan bijak, dan kemudian melakukan sesuatu yang nyata.
Muhammadiyah memiliki sejarah yang panjang. Kita memiliki amal usaha yang banyak. Kita juga memiliki kader dan generasi muda yang memiliki potensi besar.
Tugas kita sekarang bukan hanya menjaga agar Muhammadiyah tetap ada. Lebih dari itu, kita harus berusaha agar Muhammadiyah tetap hidup, relevan, mencerahkan, dan berkemajuan.
Karena sejak awal Muhammadiyah bukanlah gerakan yang hanya ingin mempertahankan keadaan. Muhammadiyah lahir karena ada keinginan untuk memperbaiki keadaan.
Maka memasuki abad kedua, mungkin pertanyaan yang perlu terus kita ajukan adalah: Persoalan apa yang sedang dihadapi umat dan bangsa hari ini? Dan setelah itu: Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk memberikan jawabannya?
Saya kira, dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itulah Muhammadiyah akan terus bergerak. Tidak harus selalu mengejar menjadi lebih besar. Tetapi bagaimana menjadi lebih bermanfaat dan lebih berarti. (*)
Penulis adalah Kepala SMK Muhammadiyah 1 Bantul, Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Batch # 2







