No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Moral Hazard: Privatisasi Untung, Nasionalisasi Buntung

19 September 2026
in Editorial, Nasional, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

 

Di lembar kertas ujian ekonomi dasar, moral hazard dijelaskan secara santun: yakni sebuah kondisi di mana seseorang mengambil risiko secara ugal-ugalan karena tahu ada pihak lain yang akan membersihkan piring kotornya jika situasi berantakan.

Namun, dalam gelanggang pengurusan negara kita hari ini, definisi teks akademis itu tampak terlalu sopan. Ekonom peraih Nobel, Paul Krugman, merumuskannya dengan jauh lebih telanjang: moral hazard adalah situasi di mana seseorang membuat keputusan tentang seberapa besar risiko yang diambil, sementara biaya kegagalan dan kehancurannya ditanggung sepenuhnya oleh orang lain.

Ketika prinsip brengsek ini diangkat menjadi standar operasional tidak tertulis dalam tata kelola bernegara, kita sedang menyaksikan eksperimen sosial yang mengerikan: Privatisasi keuntungan untuk segelintir elit, dan nasionalisasi kerugian untuk seluruh rakyat.

 

Anatomi Proyek Megah: Laboratorium Moral Hazard Nasional

Perilaku destruktif ini tak lagi bersembunyi di balik meja rapat tertutup; ia dipamerkan secara terbuka melalui deretan proyek fantastis yang dijajakan atas nama “kemajuan bangsa”.

1. Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh): B-to-B Hanya Dongeng Sebelum Tidur

Ingatkah kita pada janji manis di awal bahwa proyek Kereta Cepat adalah murni bisnis antar-korporasi (Business to Business) tanpa menyenggol sepeser pun uang rakyat? Ketika kalkulasi bisnis yang terlalu optimistis—atau sengaja dimanipulasi—menghantam kenyataan berupa pembengkakan biaya (cost overrun) hingga puluhan triliun rupiah, janji itu mendadak amnesia.

Pemerintah sigap menerbitkan Perpres untuk mengizinkan APBN menyuntik dana dan menambal utang. Ini adalah textbook moral hazard: Pengambil keputusan dan konsorsium bebas membuat asumsi finansial se-halusinasi mungkin, karena mereka tahu APBN adalah “papi kaya” yang selalu siap memberikan uang jajan tambahan.

2. Ibu Kota Nusantara (IKN): Menjual Mimpi, Menggadaikan APBN

IKN awalnya dipasarkan bagai proyek mercusuar yang akan didanai 80% oleh investor swasta dan asing. Namun ketika investor yang dinanti tak kunjung mengantre dengan dompet terbuka, kebijakan berbelok tajam. Anggaran negara dikuras habis-habisan untuk membangun infrastruktur dasar demi menciptakan “panggung” bagi swasta.

BACA JUGA

Prof Haedar Nashir: Intelektualitas Perlu Dikaryakan

Beda Gaya, Satu Rasa: Kepemimpinan dan Keberlanjutan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Ketidaktransparan Seleksi Kaper 2023 Rontokkan Wibawa Ombudsman

Terkait Dugaan Hilangnya Frasa “Madrasah” dalam Draf RUU Sisdiknas, DPR Akan Segera Panggil Nadiem

Muhammadiyah dan Tantangan Merajut Empati di Tengah Perbedaan

FH UMSU dan KemenHAM Gelar Seminar Penguatan HAM, Soroti Kesetaraan bagi Perempuan, Anak, dan Disabilitas

Pembuat kebijakan bertaruh sangat tinggi di atas tanah Kalimantan tanpa analisis mitigasi risiko yang matang. Jika proyek megah ini kelak sepi atau gagal menjadi pusat pertumbuhan baru, para perancangnya sudah tidak lagi menjabat. Beban pemeliharaan, utang infrastruktur, dan kota mangkrak akan ditanggung oleh generasi pembayar pajak mendatang.

3. Makan Bergizi Gratis (MBG): Bancakan Raksasa Berkedok Kemanusiaan

Atas nama kesejahteraan anak bangsa, ratusan triliun rupiah siap digelontorkan. Namun, sistem pengadaan berbiaya raksasa dengan rantai pasok yang masif adalah ladang subur bagi moral hazard birokrasi dan vendor.

Ketika risiko kebocoran, markup harga, hingga makanan tidak layak konsumsi dialihkan ke bahu masyarakat penerima manfaat, para birokrat dan kontraktor penyuplai justru menikmati margin keuntungan yang dijamin negara. Risiko finansial berada di nol bagi vendor, sementara risiko keracunan dan pemborosan anggaran sepenuhnya ditanggung oleh publik.

4. Koperasi Desa / Merah Putih & Bantuan Sektoral: Reinkarnasi Skandal Lama

Inisiatif pembentukan atau penyuntikan modal massal ke lembaga keuangan/koperasi tingkat daerah tanpa sistem pengawasan (prudential governance) yang ketat hanyalah pengulangan sejarah kelam. Ketika kredit macet atau terjadi penyelewengan dana oleh pengurus, narasi yang dibangun selalu sama: “demi rakyat kecil.”

Ujung-ujungnya, negara memutihkan atau menombak dana ganti rugi. Pengurus yang tidak kompeten atau manipulatif tidak pernah memikul konsekuensi kebangkrutan—sebuah insentif sempurna untuk kembali menyelewengkan dana di masa depan.

 

Sektor Politik dan Hukum: Benteng Pelindung Moral Hazard

Bagaimana proyek-proyek penuh risiko di atas bisa melenggang mulus tanpa ada yang dipenjara atau dimintai pertanggungjawaban? Jawabannya ada pada persekongkolan sektor politik dan hukum.

Politik Tanpa Beban Pertanggungjawaban: Para politisi merancang undang-undang kilat dan menerbitkan proyek fantastis demi memburu insentif elektoral jangka pendek. Jika keputusannya merusak perekonomian lima tahun kemudian, mereka sudah berganti posisi atau pensiun sebagai komisaris. Political risk mereka mendekati nol.

Hukum yang Menjelma Polis Asuransi: Joseph Stiglitz menegaskan bahwa ketiadaan transparansi dan penegakan aturan yang lembek akan memicu kehancuran sistemik.

Di negeri ini, ketika korupsi dan kelalaian tak teruji divonis ringan, hukum diubah fungsinya dari alat penjerat menjadi asuransi perlindungan elit. Mengorupsi atau memanipulasi anggaran negara bukan lagi kejahatan berisiko tinggi, melainkan kalkulasi bisnis murah dengan hasil berlimpah.

 

Menunggu Ledakan atau Menghentikan Sirkus?

Sistem yang dibangun di atas moral hazard adalah sistem yang secara teknis sedang memfasilitasi pembusukan dari dalam. Ketika mereka yang memegang kemudi tidak pernah merasakan benturan saat mobil menabrak dinding, mereka akan terus menginjak gas sedalam-dalamnya.

Pertanyaannya kini tinggal satu: sampai kapan kita, rakyat biasa yang selalu ditunjuk menjadi ‘asuransi gratisan’ bagi kerakusan mereka, mau terus menanggung biaya dari setiap keputusan ugal-ugalan yang dibuat di meja-meja kekuasaan?

Selama kita terus memilih menjadi penonton yang memaklumi, selama itu pula sirkus manipulatif dan koruptif ini akan terus berlanjut. Sebab bagi mereka, membakar rumah bersama bukanlah masalah—selama pemadam keberadaannya dibayar oleh rakyat, dan abu sisa kebalikannya bisa mereka jual kembali. (*)

Tags: EditorialindonesiaMoral Hazard
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil
Esai

Indonesia yang Dibangun oleh Cerita-cerita Kecil

by Mujaddid
1 September 2026
66
Kita adalah Bangsa Besar?
Esai

Kita adalah Bangsa Besar?

by Mujaddid
1 September 2026
93
Raison D’être Indonesia
Kebangsaan

Raison D’être Indonesia

by Mujaddid
9 April 2026
109
Muhammadiyah Cinta Indonesia: Darul Ahdi wa Syahadah sebagai Jalan Bernegara
Jufri Daily

Muhammadiyah Cinta Indonesia: Darul Ahdi wa Syahadah sebagai Jalan Bernegara

by Mujaddid
24 Januari 2026
124
Jimly Asshiddiqie “Dirujak” Netizen Gegara Sebut RI Negara Demokrasi Terbesar di Dunia
Nasional

Jimly Asshiddiqie “Dirujak” Netizen Gegara Sebut RI Negara Demokrasi Terbesar di Dunia

by Mujaddid
3 Desember 2024
166
Makna Imanensi Kemerdekaan
Nasional

Makna Imanensi Kemerdekaan

by Mujaddid
16 Agustus 2024
1.3k
World Statistics: Apa yang Terlintas di Benakmu Ketika Memikirkan Indonesia?, Netizen: Korupsi!
Internasional

World Statistics: Apa yang Terlintas di Benakmu Ketika Memikirkan Indonesia?, Netizen: Korupsi!

by Mujaddid
20 Juli 2024
138
Haedar Nashir: Muhammadiyah Memakmurkan Indonesia dengan Aksi Nyata, Tidak dengan Teriakan Kata-kata
Daerah

Haedar Nashir: Muhammadiyah Memakmurkan Indonesia dengan Aksi Nyata, Tidak dengan Teriakan Kata-kata

by Mujaddid
4 November 2023
145
Haedar Nashir: Indonesia Bukanlah Benda Mati yang Boleh Dikuasai oleh Satu Golongan
Muhammadiyah

Haedar Nashir: Indonesia Bukanlah Benda Mati yang Boleh Dikuasai oleh Satu Golongan

by Mujaddid
7 Juni 2023
128
Membanggakan! Ternyata 3 Punggawa Timnas U-22 adalah Mahasiswa Muhammadiyah
Muhammadiyah

Membanggakan! Ternyata 3 Punggawa Timnas U-22 adalah Mahasiswa Muhammadiyah

by Mujaddid
20 Mei 2023
352

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
  • Jadi Role Model SMP Unggulan, Muhammadiyah Rawamangun Studi Tiru ke SMP UMP
  • Rislah Islam Kesemestaan
  • Perkuat Keterampilan Praktik 516 Mahasiswa, Laboratorium Hukum FH UMSU Bekali Puluhan Asisten
  • UMSU Vibes
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?
Daerah

Matahari Bersembunyi di Balik Asap: Bencana Alam atau Bencana Ekologis?

Rislah Islam Kesemestaan
'Aisyiyah

Rislah Islam Kesemestaan

UMSU Vibes
Muhammadiyah

UMSU Vibes

Jangan Polos Memandang Politik
Nasional

Jangan Polos Memandang Politik

Muhammadiyah sebagai Kekuatan Ekonomi Strategis Bangsa: Dari Jasa Kemerdekaan menuju Kedaulatan Hulu-Hilir
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah sebagai Kekuatan Ekonomi Strategis Bangsa: Dari Jasa Kemerdekaan menuju Kedaulatan Hulu-Hilir

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
Jufri Daily

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.