Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Dalam perjalanan dari Kampus UMSU menuju Kampung Pon, Serdang Bedagai Senin malam lalu , untuk menghadiri pengajian yang diisi oleh Mufti Kerajaan Perlis Malaysia, kami berbincang ringan bersama Ketua, Sekretaris dan Bendahara PDM Binjai. Namanya juga bertemu sesama warga Muhammadiyah, pembicaraannya tentu tidak jauh-jauh dari Muhammadiyah. Seperti kata Prof. Ibrahim Gultom , kalau orang Muhammadiyah bertemu orang Muhammadiyah, pastilah yang dibicarakan Muhammadiyah.
Salah satu topik yang menarik adalah kepemimpinan di Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah gerakan yang seolah tidak pernah kehabisan pekerjaan. Ada dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, kaderisasi, pengajian, pelayanan masyarakat, organisasi otonom, amal usaha dan berbagai agenda persyarikatan lainnya. Semua membutuhkan manusia, waktu, tenaga, pikiran dan biaya.
Namun, kepemimpinan Muhammadiyah tidak bisa sepenuhnya menggunakan pendekatan birokrasi pemerintahan. Dalam birokrasi ada struktur kewenangan, anggaran dan mekanisme kerja yang relatif jelas. Di Muhammadiyah, seorang pimpinan lebih banyak dituntut untuk menggerakkan kesadaran, bukan sekadar memberikan perintah.
Tradisi kepemimpinan Muhammadiyah memang banyak bertumpu pada keikhlasan dan pengorbanan. Siapapun yang memimpin Muhammadiyah, termasuk saya, pasti merasakan hal itu. Apalagi di daerah, cabang dan ranting yang amal usahanya belum ada atau masih terbatas. Dalam kondisi seperti itu, pimpinanlah yang harus berusaha mencari jalan agar roda organisasi tetap berjalan.
Setiap daerah tentu memiliki tantangan dan kelemahannya sendiri, begitu pula peluang dan kekuatannya. Karena itu, cara menggerakkan Muhammadiyah tidak mungkin semuanya diseragamkan. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca keadaan, mengenali potensi yang dimiliki, lalu mengubah keterbatasan menjadi ruang untuk berikhtiar.
Kadang harus memikirkan biaya kegiatan, mencari orang yang bersedia membantu, hadir sendiri karena kader yang tersedia masih terbatas, bahkan mengorbankan waktu keluarga dan pekerjaan. Karena itu, amanah di Muhammadiyah sering kali berbentuk pengorbanan dengan waktu, tenaga, pikiran, harta dan perasaan.
Tetapi pengorbanan saja tidak cukup. Organisasi yang sehat tidak boleh terus-menerus bergantung kepada orang yang sama. Kalau hanya beberapa orang yang bekerja dan berkorban, pada waktunya mereka juga akan lelah. Di sinilah pentingnya melihat kepemimpinan Muhammadiyah dari perspektif manajemen sumber daya manusia berkelanjutan.
Tugas pimpinan bukan hanya menyelesaikan pekerjaan hari ini, tetapi juga menyiapkan manusia untuk melanjutkan pekerjaan esok hari. Kader perlu diberi ruang, kepercayaan, pendampingan dan kesempatan untuk belajar mengambil tanggung jawab. Jangan hanya mencari orang untuk membantu menyelesaikan pekerjaan kita, tetapi bantu orang lain agar suatu hari mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa kita.
Dalam perspektif komunikasi organisasi, manusia juga tidak cukup digerakkan dengan instruksi. Orang lebih mudah bergerak ketika memahami tujuan, merasa dihargai, diberi ruang berkontribusi dan melihat keteladanan dari orang yang mengajaknya. Karena itu, komunikasi dalam Muhammadiyah idealnya bukan hanya komunikasi struktural, tetapi juga komunikasi kultural dan kemanusiaan.
Mendengar sama pentingnya dengan berbicara. Mengajak lebih baik daripada memerintah. Memberi contoh lebih kuat daripada sekadar menasihati. Menghargai kontribusi orang lain juga jauh lebih sehat daripada merasa semua pekerjaan harus dilakukan sendiri.
Tentu berbeda dengan pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah yang menuntut profesionalitas, sistem kerja, target serta pembagian hak dan kewajiban yang jelas. Tetapi dalam kehidupan persyarikatan, terutama dalam menjalankan amanah kepemimpinan, kita tidak bisa hanya mengandalkan hubungan atasan dan bawahan. Muhammadiyah adalah gerakan, dan gerakan membutuhkan kesadaran, keikhlasan serta partisipasi.
Karena itu, seorang pimpinan Muhammadiyah lebih dituntut untuk mengajak daripada memerintah, memberi contoh daripada menuntut, dan memudahkan daripada mempersulit.
Ada satu hal lagi yang tidak kalah penting, yaitu keluarga. Mengurus Muhammadiyah membutuhkan ketahanan pribadi, tetapi ketahanan itu sering kali tumbuh karena dukungan keluarga. Pimpinan tetap manusia biasa yang memiliki pasangan, anak, pekerjaan dan kehidupan rumah tangga. Maka keberlanjutan kepemimpinan juga membutuhkan keseimbangan antara amanah organisasi, pekerjaan dan keluarga.
Islam Berkemajuan bagi saya bukan hanya tentang membangun lembaga yang besar, tetapi juga membangun manusia yang terus bertumbuh. Organisasi yang maju bukan sekadar organisasi yang banyak kegiatannya, tetapi organisasi yang mampu melahirkan manusia yang cerdas, berintegritas, berdaya tahan, mampu berkomunikasi, bekerja sama dan siap menerima estafet kepemimpinan.
Karena itu, keberhasilan seorang pimpinan tidak selalu diukur dari berapa banyak kegiatan yang dapat diselesaikannya. Ada ukuran lain yang lebih mendasar: berapa banyak orang yang menjadi lebih kuat setelah bekerja bersamanya? Berapa banyak kader yang tumbuh percaya diri? Berapa banyak yang kemudian berani mengambil tanggung jawab?
Dan ketika suatu hari ia tidak lagi berada dalam struktur, apakah Muhammadiyah tetap berjalan dengan baik?
Kalau iya, mungkin di situlah salah satu bentuk keberhasilan kepemimpinan. Sebab pemimpin yang baik bukanlah orang yang membuat organisasi bergantung kepadanya, tetapi orang yang membantu organisasi tidak bergantung kepada satu orang.
Maka menjadi pimpinan Muhammadiyah bukan tentang siapa yang paling banyak memerintah, tetapi siapa yang mampu menggerakkan potensi manusia untuk tujuan bersama. Bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan fasilitas, tetapi siapa yang bersedia memberikan kontribusi.
Kita tidak sedang membangun Muhammadiyah hanya untuk hari ini. Kita sedang menyiapkan Muhammadiyah agar tetap mampu mencerahkan hari esok. Karena itu, siapa pun yang hari ini mendapatkan amanah, termasuk saya, perlu terus mengingatkan diri sendiri:
Jangan hanya sibuk menjalankan amanah, tetapi siapkan pula orang-orang yang kelak mampu meneruskan amanah itu dengan lebih baik.
Sebab kita boleh berganti, kita boleh berhenti dari struktur, tetapi gerakan harus terus berjalan.
Dengan komunikasi yang sehat, kaderisasi yang kuat, pengelolaan sumber daya manusia yang berkelanjutan dan semangat Islam Berkemajuan, mudah-mudahan Muhammadiyah terus menguatkan langkah, mencerahkan kehidupan dan menghadirkan rahmat bagi sekalian alam.
Itulah obrolan ringan dalam perjalanan. Tetapi kadang dari perjalanan yang sederhana dan percakapan yang ringan, lahir perenungan yang tidak ringan.
Karena memang, kalau orang Muhammadiyah bertemu orang Muhammadiyah, ujung-ujungnya kembali kepada Muhammadiyah.(*)

















