Oleh: Rafdinal, S.Sos. M.AP
Kunjungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan Bersama Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd. ke Kompleks Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia YADIM di Putrajaya memberi pelajaran penting bahwa idealnya dakwah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia butuh ekosistem, sistem, dan sinergi.
Model Lembaga Dakwah Nasional yang Terintegrasi. YADIM (Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia) yang didirikan 25 Januari 1974 / 1 Muharram 1394 H atas gagasan PM ke-2 Malaysia, Tun Abdul Razak Hussein terorientasi menyelaraskan organisasi dakwah dan NGO Islam agar bergerak terpadu dalam membangun umat dan negara.
Secara kelembagaan, YADIM berada di bawah Jabatan Perdana Menteri Hal Ehwal Agama dan berpusat di Kompleks Islam Putrajaya yang berfungsi sebagai jembatan antara pemerintah, ulama, NGO, dan masyarakat.
Ini sesuai dengan teori Collaborative Governance dari Ansell & Gash: kebijakan publik yang efektif lahir dari kolaborasi negara, masyarakat sipil, dan sektor swasta.
Melahirkan Pendakwah Profesional YADIM fokus pada pelatihan, pendidikan, dan sertifikasi dai. Dakwah tidak cukup dengan semangat, tapi harus dengan ilmu dan kompetensi.
Tugas YADIM adalah menyatukan program agar tidak tumpang tindih. Ini menjawab problem fragmentasi dakwah yang juga terjadi di Indonesia.
Melalui YADIM Peduli dakwah dibumikan dalam bentuk bantuan mualaf, keluarga, dan kemanusiaan. Ini sejalan dengan maqashid syariah: menjaga jiwa, akal, dan harta umat.
Ada YadimTV dan tim konten. Dakwah masuk ke ruang generasi muda.
Visi YADIM: “Menjadi peneraju gerakan dakwah di Malaysia secara inklusif dan bertaraf antarabangsa” dengan misi menyebarluaskan dakwah melalui pendidikan, kebajikan, dan sosial untuk meningkatkan martabat Islam dan kesejahteraan umat.
Indonesia perlu “Ekosistem Dakwah” seperti Ini karena Indonesia punya potensi dakwah terbesar di dunia. Muhammadiyah, NU, dan ormas lain punya jaringan sampai pelosok. Tapi tantangannya: ego sektoral dan minim koordinasi.
Padahal UU No. 16 Tahun 2017 tentang Ormas menegaskan ormas berperan dalam pembangunan nasional dan pemberdayaan masyarakat. Artinya, dakwah dan kesejahteraan adalah dua sisi mata uang yang sama.
Jika dibandingkan, YADIM mirip gabungan Badan Dakwah Nasional, Lembaga Pembinaan Umat plus Mitra Pemerintah. Bedanya dengan MUI YADIM tidak berfatwa, tapi fokus pada gerakan dan pemberdayaan.
Belajar dari YADIM, ada 3 hal yang bisa segera dimulai PDM dan Muhammadiyah: Pertama, Perlu adanya Forum Koordinasi Dakwah Kota/Kabupaten. Satukan program Majelis Tabligh, Lazismu, AUM, dan Ortom dalam satu peta jalan dakwah. Hindari duplikasi. Ini prinsip resource pooling dalam manajemen NGO.
Kedua, Sekolah Pendakwah & Aktivis Sosial Cetak dai yang paham agama, paham media, paham kebijakan. Seperti yang dilakukan YADIM dan juga ABIM dalam kaderisasi kepemimpinan.
Ketiga, Dakwah Berbasis Data Kesejahteraan. Gunakan data DTKS, data Lazismu, dan data AUM untuk menyasar dakwah dan berbarengan dengan orientasi pemberdayaan. Dakwah yang tidak menyentuh perut dan pendidikan masyarakat akan sulit berdampak.
Tokoh seperti Datuk Dr. Asyraf Wajdi Dusuki adalah bukti: kaderisasi panjang di YADIM melahirkan pemimpin yang paham dakwah dan kebijakan publik.
Penutup:
Dakwah adalah Jalan Kesejahteraan, sebab kesejahteraan nasional tidak akan terwujud hanya dengan pertumbuhan ekonomi. Ia butuh pondasi moral, sosial, dan spiritual.
YADIM membuktikan: ketika negara memfasilitasi dan ormas bergerak profesional, maka dakwah bisa menjadi mesin penggerak kesejahteraan.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan punya tanggung jawab besar. Mari kita mulai dari Medan: membangun ekosistem dakwah yang terpadu, terukur, dan berdampak.
Karena dakwah yang baik, pada akhirnya akan melahirkan bangsa yang sejahtera.
Putrajaya – Medan, September 2026 Wassalam
Penulis adalah Wakil Ketua PDM Kota Medan, Aktifis Dakwah Sosial Dan Penggiat Pemberdayaan Masyarakat.















