Oleh: M Risfan Sihaloho
Di era digital yang serba canggih ini, rumus menjadi terkenal rupanya makin sederhana: cukup buka kamera, ucapkan kata-kata sekasar dan sejorok mungkin, lalu senggol tradisi daerah lain. Resep tokcer inilah yang dicoba oleh Polda Sitanggang, seorang konten kreator TikTok asal Kabupaten Samosir. Berharap meraih jutaan penonton dan bertengger di panggung popularitas, ia justru berhasil meraih pencapaian lain yang tak kalah bergengsi: dijemput polisi di kediamannya sendiri pada Senin (31/8/2026).
Langkah konyol sang kreator bermula dari idenya mengomentari tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Entah karena kehabisan ide atau terlalu bersemangat berburu views, ia memilih meracik narasi seputar minuman keras jenis tuak yang dibumbui ucapan tak beradab, kasar dan jorok.
Si Polda mungkin mengira dunia maya adalah arena tanpa hukum, tempat mulut bisa mengoceh tanpa batas. Sayangnya, realita bekerja dengan cara yang dingin. Warga yang tersinggung dan geram tak butuh waktu lama untuk menyerahkan “penghargaan” berupa proses hukum secara gratis.
Fenomena ini adalah cermin retak dari realitas media sosial kita hari ini. Kebebasan berpendapat kerap disalahartikan sebagai kebebasan memuntahkan kebencian tanpa filter. Banyak yang mendadak amnesia bahwa di balik layar HP yang dingin, ada kebudayaan, harga diri masyarakat, dan konsekuensi pidana nyata yang siap menerkam. Berburu viralitas dengan cara menabrak norma dan melecehkan tradisi daerah lain bukanlah bentuk kreativitas, melainkan keputusasaan moral demi sepiring perhatian digital.
Kasus ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang menggantungkan harga dirinya pada algoritma. Populisme murah di internet selalu berumur pendek, tetapi jejak digital dan konsekuensi hukumnya akan menempel seumur hidup.
Sebelum memutuskan untuk mengetik atau mengucap sesuatu demi jangkauan penonton yang luas, ada baiknya mengukur kapasitas diri terlebih dahulu: jika jempol dan mulut belum sanggup diajak beradab, minimal siapkan mental untuk berganti kostum dengan rompi oranye di dunia nyata.
Pada akhirnya, Polda Sitanggang membuktikan bahwa tuak mungkin bisa membuat orang mabuk fisik, tetapi dahaga akan likes jauh lebih efektif membuat orang mabuk akal sehat.
Semoga para pemburu viralitas di luar sana bisa memetik pelajaran berharga: jika belum siap menanggung akibatnya di dunia nyata, minimal saring dulu apa yang keluar dari mulut di dunia maya. (*)







