Oleh: Heri Isnaini
Ada masa ketika belajar sastra hampir selalu berarti duduk dengan sebuah buku di tangan. Guru membawa antologi puisi ke kelas, siswa membuka halaman yang sama, kemudian pembacaan dimulai. Puisi dibaca, diberi tanda, ditafsirkan, lalu dibicarakan bersama. Hubungan antara pembaca dan teks berlangsung melalui halaman-halaman yang relatif tenang.
Buku menyediakan ruang bagi pembaca untuk berhenti, mengulang kalimat, memberi garis bawah, dan kembali pada sebuah bait ketika maknanya belum juga ditemukan. Akan tetapi, ruang belajar semacam itu kini tidak lagi menjadi satu-satunya kemungkinan. Sastra telah menemukan ruang baru di layar telepon, komputer, kanal YouTube, media sosial, forum digital, bahkan dalam bentuk video pembacaan puisi dan berbagai bentuk alih wahana.
Perubahan tersebut bukan sekadar perpindahan media. Ada perubahan yang lebih mendasar di dalamnya, yaitu perubahan cara manusia berjumpa dengan sastra. Artikel tentang digitalisasi pembelajaran sastra menunjukkan bahwa transformasi digital telah membawa perubahan dalam praktik pembelajaran dan apresiasi sastra di Indonesia, terutama melalui penggunaan media digital yang memungkinkan pengalaman belajar menjadi lebih interaktif dan multimodal. Salah satu contoh yang digunakan adalah Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto yang mengembangkan pembelajaran sastra melalui YouTube dan Facebook.
Pengalaman SKSP menarik sebab perubahan tersebut tidak terjadi hanya sebab teknologi dianggap lebih canggih daripada buku. Perubahan muncul sebab keadaan memaksa pembelajaran mencari bentuk baru. Sebelum pandemi, kegiatan pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Guru dan peserta didik bertemu, puisi dibacakan, kemudian karya dibahas secara langsung.
Ketika pertemuan fisik tidak memungkinkan, pembelajaran harus mencari jalan lain. Di situlah konsep alih wahana menemukan bentuk baru. Istilah yang sebelumnya banyak digunakan untuk menyebut adaptasi karya sastra ke dalam film atau bentuk pertunjukan kemudian diterapkan secara kreatif dalam pembelajaran apresiasi puisi. Puisi dibacakan melalui video, kemudian tanggapan dan reviu terhadap karya dilakukan melalui ruang media sosial.
Ada sesuatu yang penting dari perubahan ini. Peserta didik tidak lagi hanya menjadi pembaca yang menerima teks, tetapi memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari proses produksi dan distribusi sastra. Mereka dapat membaca puisi, merekamnya, mengunggahnya, memberi komentar, mendiskusikan tafsir, mengikuti lomba, menulis di media daring, bahkan membangun komunitas pembaca dan penulis. Ruang digital dengan demikian tidak hanya menjadi tempat menyimpan karya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara karya dan pembacanya.
Di sinilah pembelajaran sastra memperoleh kemungkinan baru. Sastra yang selama ini sering dianggap sebagai mata pelajaran yang berhubungan dengan buku dan teori dapat bergerak menuju pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian peserta didik. Seorang siswa yang terbiasa menonton video mungkin akan lebih mudah memasuki puisi melalui pembacaan visual-auditorial. Siswa yang senang berdiskusi di media sosial dapat diarahkan untuk membangun percakapan tentang sebuah cerpen. Siswa yang gemar membuat konten dapat diminta mengubah sebuah puisi menjadi video pembacaan atau bentuk alih wahana lainnya.
Teknologi tidak perlu menggantikan sastra; ia dapat menjadi jembatan agar sastra menemukan cara baru untuk hadir.
Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. Digitalisasi bukan mantra yang secara otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Layar juga membawa persoalannya sendiri. Artikel tersebut mencatat sejumlah tantangan, antara lain pembajakan karya sastra, semakin berkurangnya penggunaan buku cetak, risiko penggunaan layar secara berlebihan, dan distraksi media sosial yang dapat mengganggu konsentrasi membaca.
Persoalan tersebut sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam. Kita sedang berhadapan dengan paradoks digital. Di satu sisi, teknologi membuat sastra semakin mudah ditemukan; di sisi lain, kemudahan itu dapat membuat kita kehilangan kesabaran untuk membaca. Kita dapat mengakses ribuan teks dalam hitungan detik, tetapi belum tentu sanggup tinggal cukup lama pada satu halaman. Kita dapat membuka puisi dari mana saja, tetapi perhatian kita dapat berpindah hanya sebab satu notifikasi. Kita mempunyai akses yang semakin luas, tetapi belum tentu memiliki kedalaman membaca yang sebanding.
Sebab itu, tantangan pembelajaran sastra digital bukan hanya bagaimana guru menguasai teknologi, melainkan bagaimana guru mengajarkan etika dan disiplin membaca di tengah teknologi. Peserta didik perlu mengetahui bahwa tidak semua teks di internet dapat digunakan secara bebas. Karya sastra memiliki penulis, penerbit, hak cipta, dan kehidupan ekonomi yang perlu dihormati. Mereka juga perlu memahami bahwa membaca karya sastra tidak sama dengan menggulir layar tanpa tujuan. Sastra membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kesediaan untuk tinggal lebih lama di dalam sebuah teks.
Dalam konteks tersebut, kebijakan Sastra Masuk Kurikulum memberikan ruang yang cukup penting. Program tersebut dikaitkan dengan upaya memperkuat budaya literasi, menumbuhkan empati, mengembangkan kreativitas, dan mengasah nalar kritis peserta didik. Kurasi karya juga mempertimbangkan keberagaman daerah, zaman, tema, kelompok, dan bentuk sastra sehingga sastra yang hadir dalam pendidikan tidak berhenti pada sejumlah karya yang dianggap sebagai kanon.
Artinya, tantangan kita bukan memilih antara buku dan layar. Pilihan semacam itu terlalu sederhana. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya ditempatkan dalam sebuah ekosistem pembelajaran yang saling melengkapi. Buku memberi ruang bagi keheningan membaca, sementara media digital membuka ruang bagi interaksi, produksi, dan distribusi. Buku memungkinkan pembaca tinggal dalam teks, sedangkan media digital memungkinkan teks bertemu dengan komunitas yang lebih luas.
Guru kemudian berada di tengah kelindan tersebut. Ia bukan hanya penyampai materi sastra, tetapi juga perlu menjadi pengarah pengalaman membaca. Guru harus cukup akrab dengan teknologi untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang tersedia, tetapi sekaligus cukup sadar bahwa teknologi hanyalah wahana. Yang hendak dibangun tetaplah pengalaman sastra: kemampuan membaca, menafsirkan, merasakan, mempertanyakan, dan menciptakan.
Mungkin di situlah masa depan pembelajaran sastra menemukan bentuknya. Bukan dengan meninggalkan buku demi layar, juga bukan dengan memusuhi teknologi demi mempertahankan tradisi, melainkan dengan mempertemukan keduanya secara proporsional. Sastra membutuhkan teknologi agar dapat menjangkau pembaca baru, tetapi teknologi juga membutuhkan sastra agar manusia tidak kehilangan kedalaman di tengah derasnya arus informasi.
Sebab yang paling penting dari pembelajaran sastra bukanlah apakah puisi dibaca melalui buku atau layar, melainkan apakah setelah membacanya seseorang menjadi lebih peka terhadap bahasa, lebih mampu memahami orang lain, lebih kritis terhadap dunia, dan lebih mampu membaca dirinya sendiri. Di situlah teknologi berhenti menjadi sekadar perangkat dan mulai menjadi bagian dari laku pendidikan.(*)
Bandung, 26 September 2026
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com

















