Oleh: Maestro Sihaloho
Di negeri yang gemar berpesta
rakyat datang membawa hajat:
sepotong nasi,
sekolah yang layak,
upah yang cukup,
dan hidup tanpa takut esok hari.
Sementara di gedung-gedung tinggi,
para penguasa membawa syahwat
jabatan ingin lebih lama,
kuasa ingin lebih luas,
kursi ingin diwariskan,
panggung ingin dikuasai.
Katanya,
kita berjalan menuju kesejahteraan.
Katanya,
rakyat adalah tuan.
Tapi anehnya,
tuan sering berdiri di antrean bantuan,
sementara pelayan
sibuk meraup cuan dan menghitung keuntungan.
Rakyat meminta jalan,
mereka membangun panggung.
Rakyat meminta pekerjaan,
mereka membangun citra.
Rakyat meminta keadilan,
mereka membangun pagar
di sekeliling kekuasaan.
Hajat rakyat sederhana:
perut kenyang,
anak sekolah,
rumah tak bocor,
masa depan tak kabur.
Syahwat penguasa berbeda:
kursi, kuasa,
pujian, pengawalan,
dan tepuk tangan
yang tak pernah kenyang.
Di atas mimbar,
janji ditabur seperti hujan.
Di bawah mimbar,
rakyat tetap menjemur harapan
yang tak kunjung kering.
Jangan salahkan rakyat
jika suatu hari
hajat berubah jadi amarah.
Sebab perut yang lapar
tak selamanya bisa disuap pidato.
Dan rakyat yang terlalu lama
dipaksa menelan janji
akhirnya belajar satu hal:
bahwa kekuasaan yang mabuk syahwat
sering lupa
bahwa kursi memiliki kaki,
dan kaki itu bisa ditarik
oleh tangan rakyat.
Maka ingatlah,
wahai para pemilik kuasa:
Jangan terlalu lama berpesta
di atas lapar mereka.
Sebab sejarah punya cara sendiri
mengakhiri pesta
bukan dengan tepuk tangan,
melainkan dengan
jatuhnya tirai.
Lubuk Pakam, Ultimo Agustus 2026














