Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Menjelang pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malaysia di UMSU, Senin kemarin, saya mendapat pengalaman kecil yang menarik. Saat makan siang di lantai tiga Gedung Induk UMSU, saya diperkenalkan oleh Dr. Hasrudy Tanjung kepada Rektor Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong, Papua Barat Daya, Prof. Dr. Sirojjuddin bersama Wakil Rektor, Dr. Josmen.
Perkenalan yang awalnya sederhana itu ternyata segera berubah menjadi percakapan yang akrab. Kami berbicara tentang banyak hal, diselingi canda renyah dan tentu saja obrolan akademis. Mungkin karena sama-sama berada dalam keluarga besar Muhammadiyah, suasananya terasa seperti bertemu teman lama, meskipun baru pertama kali berkenalan.
Saya mengawali dengan pertanyaan sederhana: sejak kapan berada di Medan dan berapa lama perjalanan dari Sorong?
Prof. Sirajuddin yang asli Jawa Barat itu menjelaskan bahwa beliau baru tiba di Medan sehari sebelumnya. Perjalanan dari Sorong ke Medan memakan waktu sekitar enam jam, dengan biaya tiket pesawat sekali jalan sekitar sepuluh juta rupiah.
Saya kemudian menanyakan kabar Prof. Rustamadji , Rektor UNIMUDA sebelumnya, yang beberapa tahun lalu pernah datang ke Tebing Tinggi. Percakapan pun semakin cair. Dari satu cerita berpindah ke cerita lainnya.
Pembicaraan makin berenergi setelah hadir Ketua PDM Serdang Bedagai, Akhyar, M.SP., dan Wakil Rektor UMSU Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Faisal Piliang . Perbincangan yang sejak awal sudah akrab itu semakin hidup.
Kami kemudian melanjutkan obrolan sekitar tiga puluh menit di kantin UMSU, masih dalam suasana santai. Tidak ada sekat formal antara rektor, wakil rektor, pimpinan persyarikatan dan kami yang sedang berbincang. Jabatan tetap ada, tetapi suasananya lebih kepada perjumpaan antar manusia yang sama-sama memiliki perhatian terhadap pendidikan dan Muhammadiyah. Pertemuan itu semakin hangat dan lengkap dengan kehadiran Maestro Sihaloho sahabat kami dan redaktur Media Tajdid dan Cerdas UMSU .
Yang menarik perhatian saya adalah cerita Prof. Sirajuddin tentang perkembangan UNIMUDA Sorong. Saat ini jumlah mahasiswanya sekitar 8.000 orang. Sebagian besar adalah masyarakat Papua, dengan latar belakang agama Islam, Katolik, dan Protestan.
UNIMUDA bukan hanya sedang membangun perguruan tinggi, tetapi juga menjalankan pendidikan dalam konteks masyarakat yang sangat beragam. Menurut penjelasan beliau, moderasi beragama di sana berjalan secara natural dan harmoni tetap terjaga dengan saling menghargai.
Di sinilah saya merasa ada pelajaran penting.
Kita sering berbicara tentang moderasi beragama dengan istilah-istilah akademis yang panjang. Padahal dalam praktiknya, moderasi mungkin sesederhana kemampuan menghormati orang lain yang berbeda keyakinan, tanpa harus kehilangan keyakinan kita sendiri.
Berbeda bukan berarti bermusuhan. Beriman bukan berarti harus mencurigai yang berbeda.
Justru di situlah pendidikan menemukan maknanya.
Prof. Sirajuddin juga bercerita bahwa UNIMUDA Sorong banyak belajar kepada UMSU. Saya tentu senang mendengarnya. Sebab bagi saya, perguruan tinggi Muhammadiyah tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Ada yang memiliki pengalaman lebih panjang dalam bidang tertentu, ada yang memiliki keunggulan berbeda, dan semuanya dapat saling belajar.
Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan yang luas. Karena itu, keunggulan sebuah perguruan tinggi semestinya tidak berhenti menjadi kebanggaan institusinya sendiri, tetapi bisa menjadi pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan kepada yang lain.
Saya pun menyampaikan, semoga suatu saat ada kesempatan berkunjung ke Sorong.
Saya katakan sambil bercanda, perjalanan ke Sorong itu terasa berkali-kali lipat dibandingkan kalau kita berkunjung ke Malaysia atau Thailand. Tetapi justru di situlah kita kembali diingatkan: begitu luasnya Indonesia.
Kadang kita lebih mengenal negara lain daripada daerah di negeri sendiri. Kita mudah membuat rencana ke luar negeri, sementara Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan atau bahkan daerah-daerah lain di Indonesia masih menjadi halaman yang belum sempat kita baca.
Padahal Indonesia bukan hanya luas secara geografis. Indonesia juga kaya dengan manusia, budaya, agama, bahasa dan pengalaman sosial yang berbeda-beda.
Menariknya, kami kemudian berpisah ketika acara pelantikan dimulai. Setelah itu kami tidak lagi berjumpa sampai acara penutupan. Tidak ada percakapan panjang berikutnya, tidak ada agenda khusus, apalagi pertemuan yang direncanakan.
Namun, pertemuan singkat itu terasa cukup berkesan.
Seolah-olah sebuah meja makan di UMSU telah menghubungkan Sumatera Utara dan Papua dengan jarak ribuan kilometer.
Begitulah mungkin makna silaturahmi. Tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang. Kadang hanya beberapa puluh menit, tetapi meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang.
Saya juga melihat sesuatu yang menarik dari perjumpaan tersebut. Rektor UNIMUDA masih sangat muda, sekitar 39 tahun, sementara Wakil Rektornya sekitar 38 tahun. Masih muda, tetapi sudah memikul amanah memimpin perguruan tinggi dengan ribuan mahasiswa di kawasan Indonesia Timur yang memiliki tantangan sosial dan geografis tersendiri.
Ini mengingatkan saya bahwa regenerasi bukan sekadar mengganti orang tua dengan orang muda. Regenerasi adalah memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk membuktikan bahwa mereka mampu memikul amanah, tentu dengan tetap belajar dari pengalaman generasi sebelumnya.
Ada energi muda, ada pengalaman, ada teknologi, ada tantangan zaman. Semuanya perlu dipertemukan.
Dan menariknya, perjumpaan itu tidak terjadi di ruang rapat yang kaku. Ia bermula di meja makan dan berlanjut di kantin.
Kadang-kadang forum yang paling serius justru tidak selalu terjadi di ruang rapat. Di meja makan, orang bisa berbicara lebih cair, tertawa lebih lepas dan mengenal manusia di balik jabatan.
Dari Sorong ke Medan, saya mendapat pelajaran kecil: jarak geografis boleh jauh, tetapi silaturahmi dapat membuat kita merasa dekat. Perbedaan agama boleh ada, tetapi saling menghargai membuat kita tetap dapat berjalan bersama. Dan usia boleh muda, tetapi amanah tidak mengenal batas usia.
Mungkin inilah salah satu wajah Muhammadiyah yang menarik untuk terus kita kembangkan: pendidikan yang maju, kader yang energik, perjumpaan yang terbuka, dan kehidupan yang mampu menghadirkan harmoni di tengah keberagaman.
Indonesia terlalu luas untuk hanya dikenal dari peta. Ia perlu dikenal melalui perjumpaan.
Dan Muhammadiyah, dengan jaringan pendidikan dan dakwahnya dari barat sampai timur Indonesia, memiliki kesempatan besar untuk menjadi jembatan perjumpaan itu.
Semoga sukses selalu Pak Rektor Prof. Dr. Sirajuddin dan UNIMUDA Sorong dalam melanjutkan dakwah Islam berkemajuan di bumi Papua. Mudah-mudahan kita kembali berjumpa di lain waktu. Bisa jadi bukan di Sorong atau Medan, tetapi di Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara.
Siapa tahu, obrolan di meja makan UMSU yang hanya berlangsung sekitar tiga puluh menit itu menjadi awal dari silaturahmi yang lebih panjang.(*)
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni

















