Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Ada alasan historis mengapa Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tahun 2027 di Sumatera Utara terasa istimewa.
Muktamar bukan sekadar agenda lima tahunan untuk memilih pimpinan, menyusun program dan mengevaluasi perjalanan Persyarikatan. Muktamar adalah momentum untuk membaca kembali sejarah, melihat keadaan hari ini dan menyiapkan langkah Muhammadiyah menghadapi masa depan.
Apalagi Muktamar ke-49 yang akan berlangsung di Sumatera Utara mengusung tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”
Tema yang sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan cita-cita besar: bagaimana Muhammadiyah melalui dakwah Islam berkemajuan terus ikut mencerdaskan bangsa, mencerahkan kehidupan dan menghadirkan manfaat bagi semesta.
Medan dan Jejak Sejarah Muhammadiyah
Ada catatan sejarah yang menarik. Medan sebenarnya bukan tempat yang baru bagi permusyawaratan besar Muhammadiyah. Pada 19–25 Juli 1939, ketika Indonesia masih berada dalam era Hindia Belanda, Muhammadiyah menyelenggarakan Kongres ke-28 di Medan. Pada masa itu istilah yang digunakan masih “Kongres”, bukan “Muktamar”.
Perubahan istilah itu terjadi kemudian. Pada tahun 1950, dalam permusyawaratan ke-31 di Yogyakarta, istilah “Kongres” berubah menjadi “Muktamar”. Sejak itulah istilah Muktamar digunakan sebagai nama permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah.
Maka ada perjalanan sejarah yang menarik:
- 1939: Kongres ke-28 di Medan.
- 1950: Kongres berubah menjadi Muktamar.
- 1995: Muktamar ke-43 di Banda Aceh.
- 2027: Muktamar ke-49 di Sumatera Utara.
Muktamar ke-49 dengan demikian memiliki makna tersendiri. Medan kembali menjadi tempat permusyawaratan besar Muhammadiyah setelah Kongres 1939, tetapi kali ini dengan nama Muktamar. Rentang waktunya hampir sembilan dekade.
Lebih jauh lagi, Muktamar ke-49 menjadi Muktamar pertama di Pulau Sumatera setelah Muktamar ke-43 di Banda Aceh tahun 1995, sekaligus menjadi momentum kembalinya Muktamar ke Pulau Sumatera setelah era Orde Baru.
Kalau boleh sedikit bernostalgia, Muhammadiyah pernah datang ke Medan pada zaman Hindia Belanda. Kini Muhammadiyah datang kembali ke Sumatera Utara dalam sebuah Indonesia yang sudah merdeka.
Zamannya berubah, tantangannya berubah, tetapi semangat tajdid tidak boleh berhenti.
Gebyar Muktamar Sudah Dimulai
Yang menarik, meskipun Muktamar ke-49 masih sekitar setahun lagi, suasana Muktamar sesungguhnya sudah mulai terasa. Gebyar dan syiarnya sudah berlangsung, dan insya Allah akan terus berlangsung hingga hari pelaksanaannya.
Spanduk mulai terlihat. Logo mulai dikenal. Tema mulai diperbincangkan. Gagasan mulai disampaikan. Berbagai kegiatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Sumatera Utara pun perlahan ikut menjadi bagian dari denyut menuju Muktamar.
Dan memang begitulah seharusnya sebuah Muktamar. Muktamar tidak semestinya baru terasa ketika panggung sudah berdiri dan para tamu mulai berdatangan. Muktamar harus hidup sejak gagasannya mulai dibicarakan.
Syiarnya bukan hanya tentang mempromosikan sebuah agenda, tetapi juga tentang menyebarluaskan nilai, gagasan dan semangat yang dibawa Muktamar.
Karena itu, waktu setahun bukanlah waktu untuk sekadar menunggu. Ia adalah kesempatan untuk menyiapkan gagasan, memperkuat kader, membangun kolaborasi, memperbaiki amal usaha dan memperluas manfaat Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Kalau gebyar Muktamar semakin terasa dari hari ke hari, mudah-mudahan bukan hanya gebyar spanduknya yang semakin banyak, tetapi juga gebyar gagasannya, gebyar dakwahnya, gebyar kaderisasinya dan gebyar manfaatnya.
Sebab yang kita harapkan bukan Muktamar yang ramai hanya selama beberapa hari, kemudian kembali senyap setelah para peserta pulang.
Kita ingin semangat Muktamar menjadi energi yang bertahan jauh lebih lama.
Islam Berkemajuan dan Gerakan Pencerahan
Mendakwahkan Islam berkemajuan bukan sekadar menyampaikan ceramah dari mimbar ke mimbar.
Dakwah harus hadir dalam bentuk ilmu pengetahuan, pendidikan yang bermutu, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga, kepedulian sosial serta keberanian menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa.
Sekolah adalah dakwah. Universitas adalah dakwah. Rumah sakit adalah dakwah. Pemberdayaan ekonomi adalah dakwah. Kaderisasi adalah dakwah. Bahkan mengelola organisasi dengan amanah, profesional dan transparan pun merupakan bagian dari dakwah.
Sebab Islam yang berkemajuan bukan Islam yang hanya terdengar suaranya, tetapi Islam yang terlihat manfaatnya.
Di sinilah tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” menemukan relevansinya.
Bangsa yang cerdas tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang memperoleh gelar akademik. Kecerdasan harus melahirkan kemampuan membaca persoalan, mencari solusi, menghargai perbedaan dan menggunakan ilmu untuk kemaslahatan.
Sementara semesta yang bercahaya bukan berarti seluruh persoalan kehidupan tiba-tiba selesai. Ia adalah cita-cita agar kehidupan manusia semakin tercerahkan oleh ilmu, iman, akhlak, keadilan dan kemanusiaan.
Muktamar ke-49 juga menjadi momentum penting bagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk melihat masa depan Persyarikatan secara lebih utuh. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam mencerdaskan bangsa, memberdayakan masyarakat dan menghadirkan dakwah yang nyata.
Karena itu, Muktamar jangan sampai hanya menjadi panggung pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, Muktamar harus menjadi ruang pertukaran gagasan dan pembaruan gerakan.
Muhammadiyah perlu terus bertanya: apakah pendidikan kita sudah menjawab kebutuhan zaman? Apakah kaderisasi kita mampu melahirkan generasi yang tangguh? Apakah amal usaha kita semakin memberi dampak? Apakah dakwah kita mampu menjangkau generasi digital? Apakah ekonomi umat semakin berdaya? Dan apakah kehadiran Muhammadiyah benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin lebih penting daripada sekadar siapa yang nanti duduk di kursi pimpinan.
Sebab pimpinan akan berganti. Generasi akan berganti. Zaman akan berganti.
Tetapi misi Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya harus terus berjalan.
Dari Medan 1939 ke Sumatera Utara 2027
Sumatera Utara tentu tidak ingin hanya dikenal sebagai tuan rumah yang sukses secara teknis. Kita ingin Muktamar ke-49 meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada spanduk, panggung dan dokumentasi.
Kita ingin ada gagasan. Ada gerakan. Ada kaderisasi. Ada pencerahan. Ada amal nyata. Dan ada warisan pemikiran untuk generasi setelah kita.
Sebab kalau pada tahun 1939 Muhammadiyah pernah datang ke Medan membawa semangat pembaruan di zaman Hindia Belanda, maka pada tahun 2027 Muhammadiyah kembali ke Sumatera Utara dengan tantangan yang jauh berbeda.
Dari Kongres menuju Muktamar. Dari zaman kolonial menuju Indonesia merdeka. Dari perjuangan menghadapi keterbelakangan menuju perjuangan menghadapi kompleksitas zaman.
Dan hari ini, bahkan sebelum Muktamar itu tiba, gebyar dan syiarnya sudah mulai dinyalakan. Semoga nyala itu bukan sekadar kemeriahan, tetapi menjadi cahaya yang menerangi gagasan, menguatkan kaderisasi, memperluas dakwah dan menambah manfaat Muhammadiyah bagi masyarakat.
Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya
Maka menyambut Muktamar ke-49 bukan berarti kita hanya menghitung hari menuju November 2027. Kita sedang menyiapkan sebuah momentum sejarah. Momentum untuk mendakwahkan Islam berkemajuan, memperkuat gerakan pencerahan, mencerdaskan bangsa dan menghadirkan Muhammadiyah yang semakin bermanfaat bagi umat, bangsa dan kemanusiaan semesta.
Muktamar masih setahun lagi, tetapi semangatnya sudah dimulai hari ini. Semoga dari Sumatera Utara lahir bukan hanya Muktamar yang sukses, tetapi juga gagasan-gagasan besar untuk Indonesia yang maju, berkeadaban dan tercerahkan.
Selamat datang Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Sumatera Utara menyambut. Sejarah menyaksikan. Masa depan menanti. Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. (*)
















