Oleh: Yulia Herliani
Ada kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan kabar, ada kata-kata yang digunakan untuk menghibur, dan ada pula kata-kata yang sejak dahulu dipercaya mampu melakukan sesuatu. Dalam kebudayaan Nusantara, terutama dalam tradisi lisan, batas antara bahasa dan tindakan tidak selalu tegas. Mantra, rajah, jangjawokan, doa, dan berbagai bentuk tuturan ritual memperlihatkan bahwa manusia pernah menempatkan kata bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai bagian dari hubungan antara dirinya, alam, dan sesuatu yang dipercayainya berada di luar dirinya.
Di dalam kebudayaan Sunda, warisan semacam itu memiliki sejarah yang panjang. Ia hidup dalam berbagai bentuk tuturan dan praktik masyarakat, meskipun sebagian di antaranya kini semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Modernisasi, perubahan sistem kepercayaan, pendidikan formal, urbanisasi, dan perkembangan teknologi perlahan mengubah cara masyarakat memandang bahasa tradisional.
Namun, bagi penyair Heri Isnaini, perubahan zaman tidak serta-merta membuat mantra kehilangan daya tariknya. Melalui sejumlah karya puisinya, terutama Singlar Rajah Asihan, Heri memperlihatkan ketertarikannya terhadap wilayah yang mempertemukan mantra, tradisi Sunda, spiritualitas, dan puisi modern. Ia tidak menghadirkan mantra sebagai benda kebudayaan yang dipajang kembali dalam bentuk lama. Mantra justru dipindahkan ke ruang lain: ruang puisi. Perpindahan itu menarik karena mengandung persoalan yang lebih besar daripada sekadar pilihan tema.
Mengapa seorang penyair modern masih membutuhkan mantra?
Dalam percakapan sehari-hari, kita terbiasa menganggap kata sebagai alat untuk menyampaikan maksud. Kita mengatakan “hujan” untuk menyebut hujan, “datang” untuk menyatakan kedatangan, dan “pergi” untuk menyatakan keberangkatan. Hubungan antara kata dan kenyataan seolah-olah cukup sederhana. Mantra bekerja dengan logika yang berbeda.
Dalam tradisi ritual, kata tidak hanya menunjuk sesuatu. Pengucapan kata merupakan bagian dari tindakan itu sendiri. Bunyi, pengulangan, irama, susunan kata, dan situasi pengucapan menjadi bagian dari keseluruhan praktik. Karena itulah mantra tidak dapat sepenuhnya dipahami hanya sebagai kumpulan kata yang memiliki arti leksikal.
Ketika logika semacam itu masuk ke dalam puisi, terjadi perubahan fungsi. Puisi tidak menjadi mantra dalam pengertian ritual, tetapi memperoleh kemungkinan baru dalam memperlakukan bahasa. Kata dapat menjadi bunyi sebelum menjadi pengertian.
Pengulangan dapat membangun suasana. Simbol dapat bekerja tanpa harus segera diterjemahkan. Puisi menjadi pengalaman bahasa, bukan semata-mata penyampaian pesan. Di sinilah ketertarikan Heri terhadap mantra menjadi penting untuk dibaca. Ia tidak sekadar mengambil kosakata tradisional, tetapi berhadapan dengan pertanyaan tentang daya bahasa.
Apa yang dapat dilakukan kata? Apa yang terjadi ketika kata tidak hanya digunakan untuk mengatakan sesuatu, tetapi juga untuk menghadirkan suasana, ingatan, keyakinan, bahkan kegelisahan manusia?
Pertanyaan tersebut membuat hubungan antara mantra dan puisi modern menjadi lebih kompleks. Judul Singlar Rajah Asihan sendiri sudah membuka pintu menuju wilayah kebudayaan Sunda. “Rajah” mengingatkan pada bentuk tuturan yang dalam tradisi tertentu berkaitan dengan perlindungan, permohonan, atau kekuatan simbolik, sementara “asihan” membawa asosiasi pada pengasihan atau daya yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia.
Di dalam buku puisi, unsur-unsur tersebut memasuki dunia yang berbeda. Pembaca tidak datang untuk melakukan ritual. Ia datang untuk membaca, merasakan, menafsirkan, dan mungkin mempertanyakan kembali hubungan dirinya dengan kata-kata yang digunakan penyair.
Sebuah mantra yang dipindahkan ke dalam puisi mengalami semacam transformasi kebudayaan. Ia kehilangan sebagian fungsi ritualnya, tetapi memperoleh kemungkinan estetis. Apa yang sebelumnya berkaitan dengan keyakinan dan praktik tertentu dapat berubah menjadi simbol, metafora, irama, atau struktur pengalaman puitik.
Dengan demikian, Heri tidak sedang mengulang tradisi secara mentah. Ia melakukan apa yang sering dilakukan sastra terhadap kebudayaan: mengambil sesuatu yang diwariskan, memindahkannya ke dalam konteks baru, lalu memberinya kemungkinan makna yang lain. Tradisi, dengan demikian, tidak selalu bertahan karena bentuknya tidak berubah. Kadang-kadang tradisi justru bertahan karena ia sanggup berubah.
Sunda yang Tidak Berhenti pada Ornamen
Ada kecenderungan dalam pembicaraan mengenai sastra lokal untuk menjadikan kebudayaan sebagai semacam ornamen. Nama tempat, makanan tradisional, pakaian, kesenian, atau kosakata daerah dimasukkan ke dalam karya, lalu karya tersebut dianggap otomatis merepresentasikan budaya lokal.
Persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Kehadiran kebudayaan dalam karya sastra tidak hanya dapat dilihat dari apa yang disebutkan, tetapi juga dari bagaimana sebuah karya memandang dunia. Dalam konteks Heri Isnaini, perhatian terhadap mantra menarik justru karena ia menyentuh lapisan yang lebih dalam daripada sekadar penggunaan istilah Sunda. Ia menyentuh cara tradisi memandang hubungan manusia dengan bahasa.
Dalam dunia modern, bahasa semakin banyak diperlakukan sebagai informasi. Kata dikirim melalui pesan singkat, dikompresi menjadi judul, dipadatkan menjadi tagar, dan diproduksi kembali oleh mesin. Dalam tradisi mantra, kata mempunyai hubungan yang berbeda dengan kehidupan. Kata tidak hanya menjelaskan dunia; kata dapat menjadi bagian dari usaha manusia menghadapi dunia. Perbedaan cara memandang bahasa tersebut membuat puisi Heri dapat dibaca sebagai perjumpaan antara dua zaman. Zaman ketika kata dipercaya memiliki daya. Dan zaman ketika kata berubah menjadi data.
Penyair di Antara Tradisi dan Teknologi
Persoalan ini menjadi semakin menarik ketika ditempatkan dalam konteks perkembangan kecerdasan artifisial. Hari ini, mesin dapat menghasilkan puisi dalam hitungan detik. Pengguna cukup memberikan perintah, menentukan tema, memilih gaya, kemudian sebuah teks puitik dapat muncul di layar. Produksi bahasa menjadi semakin mudah.
Akan tetapi, kemudahan produksi bahasa sekaligus melahirkan pertanyaan yang lebih tua: apakah semua bahasa yang indah otomatis menjadi puisi? Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada mantra. Mantra mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya persoalan susunan kata. Ada pengalaman manusia di belakangnya, ada keyakinan, ingatan budaya, tubuh, suara, situasi, dan hubungan sosial yang membuat sebuah tuturan memiliki makna.
Dalam konteks inilah karya Heri dapat dibaca kembali. Ketertarikannya terhadap mantra bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu, tetapi dapat dipahami sebagai usaha untuk mempertanyakan kembali apa yang terjadi pada bahasa ketika bahasa memasuki dunia modern.
Apakah kata masih memiliki daya ketika ia beredar terlalu cepat? Apakah puisi masih mampu menciptakan pengalaman ketika kata-kata dapat diproduksi oleh mesin? Dan apakah tradisi masih dapat berbicara ketika generasi baru semakin jauh dari ruang kebudayaan yang melahirkannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat mantra tiba-tiba terasa tidak terlalu jauh dari zaman kita.
Dalam perjalanan kepenyairannya, Heri Isnaini tidak hanya menulis tentang mantra. Karya-karyanya juga memperlihatkan ketertarikan pada hujan, alam, waktu, cinta, spiritualitas, dan berbagai pengalaman batin. Ritus Hujan, misalnya, membawa pembaca kepada dunia simbolik yang kemudian terus berkembang dalam karya-karya berikutnya. Sementara Singlar Rajah Asihan memperlihatkan perhatian yang lebih kuat terhadap wilayah tradisi dan bahasa yang memiliki akar kebudayaan lokal.
Perjalanan itu kemudian dapat dibaca melalui buku-buku berikutnya, termasuk Manunggaling Kawula Gusti dan Montase: Sepilihan Sajak. Jika seluruh buku tersebut ditempatkan dalam satu garis perjalanan, tampak bahwa perhatian terhadap tradisi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan pencarian makna yang lebih luas. Pada titik ini, mantra dapat dibaca sebagai salah satu pintu masuk menuju dunia kepenyairan Heri.
Bukan tujuan akhir. Ia adalah jalan untuk kembali bertanya tentang manusia.
Apa Kata Para Pembaca Karyanya?
Sejumlah penelitian akademik telah menjadikan puisi-puisi Heri Isnaini sebagai objek kajian. Puisi “Rahasia Hujan”, misalnya, pernah dianalisis melalui pendekatan mimetik. Puisi-puisi dalam Montase juga telah dikaji melalui pendekatan strukturalisme, semiotika, stilistika, serta pembacaan terhadap nilai makna dan spiritualitas. Fenomena ini penting karena memperlihatkan bahwa karya Heri tidak hanya berhenti pada proses publikasi. Ia telah memasuki ruang pembacaan lain: ruang akademik.
Namun, pembacaan akademik terhadap karya tidak seharusnya menggantikan suara penyair atau suara pembaca umum. Justru pertemuan berbagai perspektif itulah yang dapat memperlihatkan bagaimana sebuah karya hidup setelah meninggalkan meja penulisnya. Apa yang membedakan penggunaan unsur mantra oleh Heri Isnaini dari sekadar penggunaan simbol budaya Sunda? Pertanyaan tersebut lebih penting daripada meminta kritikus memberikan pujian terhadap penyair. Sebab yang kita perlukan bukan legitimasi kosong, melainkan pembacaan.
Demikian pula pertanyaan kepada penyair lain dapat diarahkan pada persoalan yang lebih luas: Apakah penggunaan mantra dalam puisi kontemporer merupakan bentuk pelestarian tradisi, eksperimen estetis, atau keduanya? Dari jawaban-jawaban itulah posisi kepenyairan Heri dapat dibaca secara lebih objektif.
Tradisi Tidak Selalu Berarti Kembali ke Masa Lalu
Membawa mantra ke dalam puisi modern bukan berarti menolak modernitas. Justru sebaliknya, tindakan tersebut memperlihatkan bahwa modernitas dapat berdialog dengan masa lalu. Heri Isnaini berada dalam situasi yang menarik. Ia hidup sebagai penyair sekaligus akademisi, berada di lingkungan pendidikan tinggi, berhadapan dengan teori sastra, teknologi digital, perkembangan kecerdasan artifisial, dan perubahan perilaku pembaca. Pada saat yang sama, ia kembali kepada bentuk-bentuk bahasa yang berasal dari kebudayaan tradisional.
Pertemuan tersebut membuat puisinya berada di sebuah wilayah antara. Tidak sepenuhnya tradisional. Tidak pula sepenuhnya modern. Di situlah mungkin letak persoalannya. Tradisi bukan benda yang menunggu untuk diselamatkan. Tradisi adalah sesuatu yang terus dinegosiasikan oleh manusia yang hidup pada zaman berbeda. Ketika mantra masuk ke dalam puisi modern, ia mengalami perubahan. Akan tetapi, perubahan tersebut tidak selalu berarti kehilangan. Kadang-kadang, sesuatu justru tetap hidup karena ia menemukan bentuk baru.
Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa Heri Isnaini membawa mantra ke dalam puisi modern?” tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa ia ingin melestarikan budaya Sunda. Jawaban itu terlalu mudah. Yang lebih menarik adalah melihatnya sebagai persoalan tentang bahasa dan ingatan. Mantra membawa ingatan tentang suatu masa ketika manusia memandang kata sebagai sesuatu yang mempunyai daya. Puisi modern membawa kata tersebut ke dalam dunia pembaca yang berbeda, dunia yang lebih individual, rasional, digital, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsir.
Di antara keduanya terdapat Heri Isnaini. Ia tidak harus mengembalikan pembaca kepada dunia mantra sebagaimana adanya. Ia cukup membuka kembali pintunya. Di balik pintu itu terdapat sesuatu yang mungkin selama ini kita lupakan: bahwa bahasa pernah menjadi pengalaman sebelum menjadi informasi. Dan mungkin karena itulah mantra masih menarik bagi puisi.
Bukan karena manusia modern harus kembali menjadi manusia masa lalu, melainkan karena di tengah banjir kata yang semakin deras, manusia masih perlu bertanya apakah semua kata yang kita hasilkan benar-benar mempunyai makna. Pertanyaan itu, pada akhirnya, bukan hanya milik Heri Isnaini. Ia adalah pertanyaan yang sedang dihadapi puisi kontemporer itu sendiri. (*)
Bionarasi Penulis
Yulia Herliani lahir di Bandung, 31 Juli. Saat ini dia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Profita Kota Bandung. Tulisan-tulisannya sudah dipublikasi di beberapa media massa daring. Selain menjadi guru, Yulia sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari ketiga anaknya. Yulia dan keluarga tinggal di Kota Bandung.

















