Oleh: M Risfan Sihaloho
Ada orang yang ketika belum berkuasa begitu rajin berbicara tentang kebenaran. Setelah berkuasa, ia mulai berbicara tentang loyalitas.
Dulu ia gemar mengkritik penguasa. Setelah duduk di kursi kekuasaan, kritik mendadak dianggap sebagai kebencian. Dulu ia meminta orang lain transparan. Setelah memiliki kewenangan, ia menemukan banyak alasan mengapa dirinya tidak perlu transparan.
Dulu ia mengatakan bahwa jabatan adalah amanah. Setelah mendapat jabatan, ia mulai memperlakukan amanah seperti hak milik pribadi.
Di situlah penyakit bernama budak tahta (buta) mulai tumbuh.
Budak tahta bukan semata-mata orang yang menyukai jabatan. Menyukai kekuasaan adalah sesuatu yang manusiawi. Yang berbahaya adalah ketika seseorang kehilangan dirinya sendiri karena kekuasaan: pikirannya ditaklukkan oleh jabatan, nuraninya disandera kepentingan, dan ukuran benar-salah ditentukan oleh apakah sesuatu menguntungkan atau mengancam tahtanya.
Ia memang duduk di atas kursi kekuasaan.Tetapi secara psikologis, justru kursi itulah yang sedang menduduki dirinya.
***
Budak tahta memiliki satu kemampuan luar biasa: ia hampir selalu berhasil membuat dirinya benar.
Jika programnya berhasil, itu bukti kepemimpinannya. Tapi bila programnya gagal, bawahannya dituding yang tidak becus.
Jika anggaran membengkak, ia berdalih karena keadaan yang memaksa.
Jika rakyat protes, rakyat dianggap belum memahami.
Jika media mengkritik, medianya dianggap punya kepentingan.
Jika akademisi bersuara, akademisinya dianggap mencari panggung.
Jika aktivis melawan, aktivisnya dianggap ditunggangi.
Jika oposisi berisik, oposisi disebut tidak move-on.
Tapi jika semua orang akhirnya diam? Itu langsung diklaim sebagai masyarakat yang puas dengan kepemimpinanya.
Sungguh sebuah logika yang mengagumkan. Menciptakan kebisuan, lalu menyebutnya sebagai dukungan. Itulah salah satu seni paling canggih dalam politik kekuasaan.
Budak tahta tidak membutuhkan kebenaran. Ia membutuhkan narasi yang membuat dirinya tetap tampak benar.
***
Kita sering melihat fenomena aneh dalam organisasi, pemerintahan, partai politik, bahkan lembaga sosial-keagamaan: di mana semakin tinggi seseorang naik dalam struktur, semakin sedikit orang yang berani mengatakan bahwa ia salah.
Akhirnya, sang pemimpin hidup dalam istana verbal yang penuh kalimat: “Siap, Pak.”, “Betul, Pak.”, “Luar biasa, Pak.”, “Paten, Pak.”, “Masyarakat sangat mengapresiasi, Pak.”
Padahal lima menit sebelumnya, di luar ruangan, orang-orang sedang mengeluhkan kebijakannya.
Inilah yang dalam psikologi organisasi sering berkaitan dengan fenomena yes-man dan echo chamber: pemimpin hanya dikelilingi informasi dan pendapat yang mengonfirmasi keyakinannya sendiri.
Semakin lama, ia tidak lagi memimpin berdasarkan kenyataan. Ia memimpin berdasarkan laporan yang menyenangkan telinga.
Maka jangan heran jika seorang pemimpin tiba-tiba terkejut ketika mengetahui kenyataan.
Ia merasa semua baik-baik saja. Ternyata tidak.
Ia merasa semua mendukung. Ternyata tidak.
Ia merasa kebijakannya sukses. Ternyata masyarakat sedang mengeluh.
Ia merasa dirinya dicintai. Ternyata orang-orang hanya takut kehilangan akses.
Betapa mahal harga sebuah kebohongan ketika semua orang dibayar untuk mengatakan bahwa kebohongan itu benar.
***
Dalam perspektif psikologi kekuasaan, kekuasaan bukan sekadar kemampuan memerintah orang lain. Ia juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan orang di sekitarnya.
Kekuasaan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Itu baik. Tetapi ketika rasa percaya diri kehilangan rem, ia berubah menjadi overconfidence. Orang mulai percaya bahwa dirinya lebih pintar daripada orang lain. Lebih tahu. Lebih layak. Lebih penting. Lebih pantas menentukan semuanya.
Dan karena hampir semua orang di sekelilingnya mengangguk, keyakinan itu semakin kuat.
Di sinilah masalah dimulai. Seseorang yang terlalu lama diperlakukan seperti orang paling penting akhirnya bisa lupa bahwa ia sebenarnya hanyalah manusia biasa yang kebetulan sedang memegang jabatan.
Ia mulai mengira tepuk tangan sebagai bukti kebesaran. Padahal bisa saja itu hanya refleks orang-orang yang tahu kapan harus bertepuk tangan.
Ia mengira penghormatan sebagai bukti kualitas. Padahal mungkin orang menghormati jabatannya, bukan dirinya.
Ia mengira orang-orang di sekelilingnya loyal. Padahal sebagian besar hanya penjilat yang sedang mengincar cuan.
Kekuasaan, dengan demikian, bisa menjadi cermin yang berbahaya. Bukan karena cerminnya berbohong, tetapi karena orang yang berdiri di depannya sudah tidak mau melihat noda di wajahnya sendiri.
***
Lord Acton pernah menyampaikan kalimat yang sangat terkenal: “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan absolut cenderung merusak secara absolut.
Kalimat ini tidak berarti setiap orang berkuasa pasti korup atau buruk. Masalahnya adalah manusia memiliki kelemahan. Karena itu kekuasaan membutuhkan batas. Kekuasaan membutuhkan kontrol. Kekuasaan membutuhkan kritik. Kekuasaan membutuhkan oposisi. Kekuasaan membutuhkan mekanisme evaluasi. Dan, yang paling penting, kekuasaan membutuhkan orang-orang yang tidak takut mengatakan: “Anda salah.”
Sayangnya, budak tahta justru membenci semua itu.
Ia ingin pengawasan, tetapi pengawasan yang tidak mengganggu. Ia ingin kritik, tetapi kritik yang sopan dan lembut, hingga nyaris tidak terdengar.
Ia ingin demokrasi, tetapi demokrasi yang bisa dikendalikan dan tidak menghasilkan perbedaan.
Ia ingin musyawarah, tetapi keputusan sudah dibuat sebelum musyawarah dimulai.
Akhirnya demokrasi tinggal dekorasi, rapat menjadi ritual, musyawarah menjadi formalitas, kritik menjadi ancaman, dan keputusan tetap turun dari atas.
Semua tampak demokratis, kecuali hasilnya.
***
Max Weber membedakan berbagai bentuk legitimasi kekuasaan, antara lain legitimasi yang bersumber dari aturan rasional-legal, tradisi, dan karisma.
Persoalannya muncul ketika kekuasaan yang seharusnya bersifat institusional berubah menjadi kekuasaan personal.
Semula orang patuh karena menghormati aturan, namun lama-lama orang patuh karena takut kepada orangnya.
Awalnya yang dihormati adalah lembaga, tapi lama-lama yang dikultuskan adalah pemimpin.
Semula jabatan adalah amanah, lama kelamaan jabatan dianggap warisan.
Di titik itu, institusi mulai mengecil sementara ego pemimpin membesar.
Orang mulai berkata:
“Itu keputusan beliau.”
“Bapak tidak boleh dibantah.”
“Jangan macam-macam dengan pimpinan.”
“Yang penting loyal.”
Kalimat-kalimat semacam ini bukan tanda organisasi yang sehat. Justru itu tanda bahwa institusi sedang mengalami kultus individu.
Ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya adalah institusi, maka kritik terhadap dirinya akan dianggap sebagai serangan terhadap institusi.
Ini trik lama kekuasaan: yakni menyamakan kepentingan pribadi dengan kepentingan lembaga.
Jika kepentingannya diserang, ia mengatakan lembaganya diserang.
Jika kebijakannya dipertanyakan, ia mengatakan kewibawaan lembaga sedang dirusak.
Jika dirinya dikritik, ia mengklaim sedang membela organisasi.
Padahal yang sedang dibela mungkin cuma kursinya.
***
Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa kekuasaan bekerja melalui berbagai bentuk modal: ekonomi, sosial, budaya dan simbolik.
Dalam konteks ini jabatan memberikan modal simbolik. Orang mulai dipanggil dengan gelar kehormatan. Namanya disebut dan disanjung dalam sambutan. Wajahnya muncul di spanduk. Fotografer sibuk mencari sudut terbaik. Orang-orang merasa wajib berdiri ketika ia masuk.
Begitulah. Semua itu perlahan menciptakan ilusi kebesaran.
Padahal ada perbedaan mendasar antara dihormati karena kualitas dan dihormati karena posisi. Yang pertama melekat pada manusia dan yang kedua melekat pada kursi.
Masalahnya, budak tahta sering gagal membedakannya. Ia mengira dirinya hebat karena semua orang berdiri ketika ia masuk. Padahal mereka berdiri karena jabatan yang dibawanya.
Cobalah kembali ke ruangan yang sama, setelah masa jabatan selesai. Lalu perhatikan:
masihkah semua orang berdiri untuknya?
Itulah ujian paling jujur bagi sebuah kekuasaan.
***
Budak tahta sebenarnya mudah dikenali.
Pertama, ia tidak tahan dikritik. Kritik dianggap kebencian.
Kedua, ia mencintai pujian. Semakin banyak penjilat di sekelilingnya, semakin nyaman hidupnya.
Ketiga, ia menganggap loyalitas lebih penting daripada kompetensi. Orang pintar tetapi kritis dianggap berbahaya. Dan orang bodoh tetapi patuh dianggap setia.
Maka organisasi dan institusi perlahan dipenuhi manusia yang kompetensinya seragam: pandai mengangguk dan lihai menunduk.
Keempat, ia sulit meminta maaf. Sebab baginya, mengakui kesalahan berarti kehilangan wibawa. Padahal sering kali yang membuat pemimpin kehilangan wibawa bukan kesalahannya, melainkan ketidakmampuannya mengakui kesalahan.
Kelima, ia mulai merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus. Jabatan menjadi tiket untuk segala macam privilese; didahulukan, dihormati, dilayani, difasilitasi, bahkan melulu dibenarkan.
Keenam, ia mulai mencurigai orang yang tidak memujinya. Mereka yang tidak hadir dianggap tidak loyal. Mereka yang berbeda pendapat dianggap lawan. Mereka yang diam dianggap menyimpan agenda. Dan mereka yang kritis dianggap musuh.
Akhirnya ia tidak punya kawan. Kalaupun ada, yang tersisa hanyalah orang-orang yang kebetulan sedang dan masih membutuhkan sesuatu darinya.
Ketujuh, ia kehilangan kemampuan introspeksi. Ini yang paling berbahaya. Ia rajin mengevaluasi orang lain, tetapi lupa mengevaluasi dirinya.
Ia sibuk mencari kesalahan bawahan, tetapi tidak pernah bertanya: “Jangan-jangan sumber masalahnya adalah saya?”
Pertanyaan sederhana itu sering terlalu berat bagi seorang budak tahta.
***
Semakin seseorang menjadi budak kekuasaan, semakin besar ketakutannya kehilangan kekuasaan.
Ia mulai melihat pergantian sebagai ancaman. Regenerasi dianggap kudeta. Kritik dianggap pembangkangan. Orang baru dianggap pesaing. Dan orang pintar dianggap ancaman.
Maka ia mulai membangun benteng, membuat lingkaran dalam, memelihara orang-orang loyal, mengontrol informasi, mengatur akses, dan mengelola citra.
Dan perlahan organisasi atau institusi berubah menjadi kerajaan kecil; ada raja, ada istana, ada hulubalang, ada juru bicara, ada penyair istana, ada pasukan tepuk tangan, dan tentu saja ada rakyat.
Bedanya, rakyat di zaman modern biasanya tidak menyebut dirinya rakyat. Mereka menyebutnya anggota, bawahan, pegawai, kader, warga, atau konstituen. Tetapi struktur feodalnya kadang tetap sama.
***
Kita sering mengatakan bahwa kekuasaan itu berbahaya. Tidak selalu. Yang berbahaya adalah kekuasaan tanpa koreksi.
Pemimpin yang kuat belum tentu buruk. Yang buruk adalah pemimpin yang merasa dirinya tidak mungkin salah.
Pemimpin yang tegas belum tentu otoriter. Yang berbahaya adalah pemimpin yang menganggap semua perbedaan sebagai pembangkangan.
Pemimpin yang percaya diri belum tentu narsistik. Yang berbahaya adalah pemimpin yang membutuhkan seluruh ruangan untuk terus-menerus mengatakan bahwa dirinya hebat.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak menjadi besar hanya karena memiliki banyak orang yang tunduk kepadanya. Justru kebesaran seorang pemimpin terlihat dari kemampuannya menciptakan ruang agar orang lain berani berbeda tanpa harus takut dihukum.
Pemimpin yang matang tidak membutuhkan seratus orang yang berkata “Anda benar.”
Ia membutuhkan setidaknya satu orang yang berani berkata: “Maaf, Anda keliru.”
Dan ia masih bisa menjawab: “Jelaskan kepada saya mengapa.”
Itulah tanda bahwa manusia masih menguasai tahta. Bukan sebaliknya.
***
Ada satu hal yang sering dilupakan manusia ketika sedang berkuasa: bahwa semua kursi memiliki masa pakai. Ada masa dilantik. Ada masa dipuja. Ada masa dikawal. Ada masa difoto. Ada masa dipanggil “Yang Terhormat”. Dan ada masa ketika semua itu selesai.
Lantas, pengawal pulang, kamera pergi, karangan bunga menghilang, spanduk diturunkan, telepon mulai sepi, dan orang-orang yang dahulu berebut duduk di sebelahnya mulai mencari kursi lain.
Pada saat itulah seseorang akan mengetahui apakah selama ini ia benar-benar memiliki pengikut atau hanya memiliki orang-orang yang memanfaatkan jabatannya.
Sebab kekuasaan adalah ujian yang aneh. Ketika naik, ia memperlihatkan siapa yang menjadi temanmu. Ketika turun, ia memperlihatkan siapa yang sebenarnya hanya menjadi teman jabatanmu.
Karena itu, jangan terlalu mabuk ketika berada di atas. Di bawah sana ada kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli siapa yang sedang duduk di kursi kekuasaan.
Dan sejarah memiliki kebiasaan yang kejam: ia selalu mengganti nama-nama besar dengan nama-nama baru.
***
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah apakah seseorang memiliki kekuasaan.
Persoalannya adalah: siapa yang menguasai siapa?
Apakah manusia menggunakan kekuasaan? Atau kekuasaan menggunakan manusia?
Apakah ia duduk di atas tahta? Atau sebenarnya ia sedang duduk di bawah bayang-bayang tahta?
Sebab ketika seseorang sudah tidak mampu menerima kritik, tidak mampu mengakui kesalahan, tidak mampu mendengar suara berbeda, merasa selalu benar, merasa berhak atas segala sesuatu, dan menganggap jabatan sebagai identitas dirinya, maka sesungguhnya ia bukan lagi penguasa.
Ia adalah budak. Budak dari ambisi. Budak dari pujian. Budak dari ketakutan. Budak dari citra. Dan terutama: budak dari kursi yang ia kira miliknya.
Padahal kursi itu tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia hanya sedang meminjamnya dari waktu. Dan waktu tidak pernah memperpanjang kontrak untuk siapa pun.
Maka jangan terlalu sombong ketika duduk di atas. Jangan terlalu kejam kepada mereka yang berada di bawah. Jangan membungkam orang yang mengingatkan. Dan jangan menganggap kritik sebagai penghinaan.
Sebab orang yang berani mengatakan “Anda salah” mungkin jauh lebih mencintai Anda daripada seratus orang yang setiap hari berkata “Anda benar”.
Dan ketika suatu hari tahta itu harus ditinggalkan, pertanyaan paling penting bukan lagi: “Berapa lama saya berkuasa?”. Tetapi: “Apa yang tersisa dari diri saya setelah kekuasaan itu dicabut?”
Jika jawabannya hanya jabatan, gelar, fasilitas, pengawal dan orang-orang yang dulu memuji, maka barangkali selama ini kita bukan sedang menyaksikan seorang pemimpin. Kita sedang menyaksikan seorang manusia yang berhasil mendapatkan tahta, tetapi gagal menyelamatkan dirinya dari perbudakan.
Sebab tahta yang paling berbahaya bukanlah tahta yang membuat orang lain tunduk. Tahta yang paling berbahaya adalah tahta yang membuat pemiliknya lupa bahwa ia juga manusia—bisa salah, bisa jatuh, bisa diganti, dan pada akhirnya, harus turun.
Dan ketika ia akhirnya turun, semoga yang tersisa bukan pertanyaan: “Mengapa kekuasaan saya berakhir?”
Melainkan pertanyaan yang jauh lebih mengerikan: “Mengapa selama berkuasa saya sampai kehilangan diri saya sendiri?”. (*)

















