Oleh: Marta Pujiono
Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, mahasiswa sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk mengejar indeks prestasi, sertifikat, kompetensi, dan berbagai capaian yang dapat menunjang masa depan karier. Semua itu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang lebih mendasar “mahasiswa seperti apa yang sedang kita bentuk melalui Ortom Tapak Suci ”
Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kita berbicara tentang kader Muhammadiyah. Sebab, pendidikan tidak semata-mata menghasilkan orang pintar, tetapi juga harus melahirkan manusia yang memiliki karakter, integritas, keberanian moral, kepedulian sosial, dan kesediaan untuk mengabdi.
Dalam konteks inilah Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang memiliki posisi yang strategis. Tapak Suci tidak semestinya hanya dipahami sebagai aktivitas bela diri mahasiswa saja . Di balik latihan fisik dan jurus-jurus yang dipelajari, terdapat proses pendidikan karakter, pembentukan mental, penguatan ukhuwah, dan yang tidak kalah penting adalah kaderisasi.
Dari Gelanggang menuju Kepemimpinan
Seorang pemimpin tidak lahir hanya karena memiliki jabatan. Kepemimpinan tumbuh dari kebiasaan mengambil tanggung jawab, kemampuan mengendalikan diri, keberanian menghadapi tantangan, serta kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Gelanggang Tapak Suci sesungguhnya adalah salah satu laboratorium kecil untuk proses tersebut.
Latihan yang berulang mengajarkan disiplin. Kegagalan dalam pertandingan mengajarkan ketangguhan. Kemenangan mengajarkan kerendahan hati. Instruksi pelatih melatih kepatuhan terhadap proses, sementara kebersamaan dengan sesama anggota menumbuhkan rasa saling menghargai.
Di sinilah bela diri menemukan makna pendidikannya. Kekuatan tidak dimaksudkan untuk menaklukkan orang lain, melainkan pertama-tama untuk menaklukkan ego diri sendiri.
Nilai ini sangat penting dalam mempersiapkan pemimpin umat. Umat membutuhkan pemimpin yang kuat tetapi tidak kasar, tegas tetapi tidak arogan, berani tetapi tetap memiliki kebijaksanaan. Pemimpin semacam itu tidak cukup dibentuk melalui ruang kuliah. Ia membutuhkan pengalaman, pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang memungkinkan karakter tumbuh.
Cerdas dalam Berpikir, Tegas dalam Bertindak
Mahasiswa yang tergabung di Tapak Suci adalah bagian dari komunitas intelektual kampus. Karena itu, kekuatan fisik harus berjalan beriringan dengan kecerdasan berpikir.
Kita membutuhkan generasi yang tidak mudah terprovokasi, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dan tidak mudah mengikuti arus informasi tanpa kemampuan melakukan verifikasi. Di tengah derasnya informasi digital, kecerdasan bukan sekadar kemampuan menghafal pengetahuan, tetapi kemampuan membaca realitas secara kritis.
Namun kecerdasan saja belum cukup.
Pengetahuan tanpa keberanian untuk bertindak dapat berhenti sebagai wacana. Sebaliknya, keberanian tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi tindakan yang gegabah.
Karena itu, Siswa dan Kader Tapak Suci perlu dibentuk menjadi pribadi yang “Cerdas dalam berpikir dan tegas dalam bertindak”. Berpikir sebelum bertindak, tetapi tidak takut bertindak ketika kebenaran dan kemaslahatan membutuhkan keberanian.
Inilah karakter yang dibutuhkan di tengah kehidupan masyarakat yang kompleks.
Akademik dan Nonakademik Tidak Perlu Dipertentangkan
Ada anggapan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi atau mengikuti kegiatan olahraga akan kehilangan fokus terhadap akademik. Pandangan semacam ini perlu ditinjau kembali.
Justru organisasi dan aktivitas nonakademik dapat menjadi ruang pendidikan yang melengkapi pembelajaran di kelas.
Di ruang kuliah, mahasiswa memperoleh teori. Di organisasi, mereka belajar mengimplementasikan teori tersebut dalam kehidupan nyata. Di ruang latihan, mereka belajar disiplin. Dalam pertandingan, mereka belajar menghadapi tekanan. Dalam kepanitiaan, mereka belajar bekerja sama. Dalam kegagalan, mereka belajar bangkit.
Karena itu, tantangannya bukan memilih antara akademik atau nonakademik, melainkan bagaimana menciptakan keseimbangan.
Mahasiswa Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang perlu didorong menjadi mahasiswa yang berprestasi di dua arena: “unggul secara akademik sekaligus matang secara organisatoris dan sosial”.
Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki nilai akademik tinggi. Dunia juga membutuhkan manusia yang mampu berkomunikasi, bekerja dalam tim, memimpin, menyelesaikan masalah, serta memiliki daya tahan menghadapi perubahan.
Tapak Suci dan Masa Depan Kader Ideologis Muhammadiyah
Ada dimensi yang lebih besar dari sekadar prestasi olahraga. Tapak Suci adalah salah satu organisasi otonom Muhammadiyah. Karena itu, keberadaannya memiliki hubungan erat dengan agenda kaderisasi Persyarikatan.
Kita tidak ingin melahirkan atlet semata. Kita ingin melahirkan Kader
Kader yang memahami bahwa Muhammadiyah bukan sekadar nama organisasi, tetapi sebuah gerakan dakwah, pendidikan, sosial, dan pembaruan yang membutuhkan generasi penerus.
Kaderisasi ideologis menjadi semakin penting ketika generasi muda menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat. Identitas mudah berubah, perhatian mudah berpindah, dan keterikatan terhadap organisasi dapat melemah apabila tidak dibangun melalui proses yang bermakna.
Tapak Suci memiliki modal besar untuk menjawab tantangan tersebut. Nilai iman, akhlak, disiplin, persaudaraan, keberanian, dan pengabdian dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan kesadaran bermuhammadiyah secara lebih kontekstual.
Dengan demikian, latihan Tapak Suci tidak berhenti pada pembentukan tubuh yang kuat, tetapi bergerak menuju pembentukan ‘kader ideologis yang memiliki komitmen terhadap umat dan Persyarikatan”.
PDM Kota Palembang dan Rumah Besar Ortom
Kaderisasi tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan ekosistem.
Dalam konteks tersebut, PDM Kota Palembang, memiliki posisi strategis sebagai rumah besar yang dapat mempertemukan berbagai potensi kader Muhammadiyah. Organisasi otonom memiliki karakter dan medan perjuangan masing-masing, tetapi semuanya berada dalam satu rumah perjuangan.
Sinergi antara PDM dan Ortom bukan sekadar agenda administratif. Ia merupakan kebutuhan strategis untuk memastikan kaderisasi berjalan berkelanjutan.
Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang dapat menjadi salah satu pintu masuk kaderisasi mahasiswa Muhammadiyah. Dari kampus, kader-kader muda dapat dikenalkan pada tradisi perjuangan Persyarikatan, kemudian diberi ruang untuk berkembang sesuai minat, kompetensi, dan bidang pengabdiannya.
Dengan ekosistem yang sehat, kader tidak merasa berjalan sendirian. Mereka mengetahui ke mana harus bertumbuh setelah menyelesaikan pendidikan di kampus.
Tapak Suci sebagai Ruang Tumbuh Kader Umat
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang hanya sibuk membuat kegiatan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu membuat anggotanya (bertumbuh)
Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang harus menjadi ruang semacam itu.
Ruang untuk belajar. Ruang untuk gagal. Ruang untuk memperbaiki diri. Ruang untuk berprestasi. Ruang untuk berdiskusi. Ruang untuk memimpin. Dan yang paling penting, ruang untuk menemukan makna pengabdian.
Kaderisasi tidak selalu lahir dari forum-forum formal. Sering kali ia tumbuh dari percakapan sederhana antara senior dan junior, dari keteladanan seorang pelatih, dari pengalaman mengelola kegiatan, atau dari seorang anggota yang tetap hadir ketika organisasi sedang menghadapi kesulitan.
Karena itu, setiap anggota harus dipandang sebagai manusia yang sedang bertumbuh, bukan sekadar sebagai peserta latihan atau bagian dari struktur organisasi.
Jika ruang tumbuh itu tersedia, UKMK Tapak Suci bukan hanya menghasilkan anggota yang terampil dalam bela diri, tetapi juga generasi muda yang siap menjadi bagian dari solusi bagi persoalan umat.
Ukhuwah: Energi yang Menjaga Gerakan
Di atas semua program dan prestasi, ada satu hal yang sering kali menentukan panjang pendeknya usia sebuah organisasi:
Prestasi dapat membuat sebuah organisasi dikenal. Tetapi ukhuwah membuat orang merasa memiliki.
Senior dan junior perlu dipertemukan dalam relasi yang sehat. Senior memberikan keteladanan, bukan sekadar instruksi. Junior menghormati senior, tetapi juga diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan mengambil peran. Sebab kaderisasi bukan proses mencetak manusia dengan pola yang seragam.
Kaderisasi adalah proses menemukan dan mengembangkan potensi manusia agar mampu memberikan manfaat terbaik.
Ukhuwah juga berarti tidak membiarkan seorang anggota berjalan sendirian. Ketika ada yang berprestasi, kita rayakan bersama. Ketika ada yang gagal, kita kuatkan. Ketika ada yang mulai menjauh, kita rangkul kembali.
Di situlah organisasi menjadi rumah.
Bertumbuh Bersama, Bukan Berjalan Sendiri
Pada akhirnya, berbicara tentang Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang berarti berbicara tentang lebih dari sekadar bela diri.
Kita sedang berbicara tentang karakter, kepemimpinan, intelektualitas, prestasi, kaderisasi, ukhuwah, dan masa depan umat.
Tapak Suci memiliki kesempatan untuk menjadi ruang yang mempertemukan semua unsur tersebut. Mahasiswa ditempa agar kuat secara fisik, cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kokoh secara spiritual, dan luas dalam pengabdian.
PDM Kota Palembang sebagai rumah besar Ortom memiliki peran untuk memperkuat ekosistem tersebut. Sementara Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang dapat mengambil posisi sebagai ruang tumbuh kader-kader muda yang kelak mengisi berbagai lini kehidupan.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah organisasi kader bukan hanya berapa banyak anggotanya, berapa banyak medali yang diraih, atau seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak manusia yang berhasil ditumbuhkan menjadi pribadi yang lebih baik dan seberapa besar manfaat yang mereka berikan setelah keluar dari organisasi.
Dari gelanggang kita belajar disiplin. Dari organisasi kita belajar memimpin.
Dari kampus kita belajar berpikir. Dari ukhuwah kita belajar berbagi. Dan dari Muhammadiyah kita belajar bahwa ilmu, iman, dan amal harus berjalan bersama.
Bertumbuh bersama Tapak Suci UIN Raden Fatah Palembang. Karena kader yang kuat bukan hanya mereka yang mampu berdiri di atas podium kemenangan, tetapi mereka yang setelah menang tetap rendah hati, setelah berhasil tetap mengabdi, dan setelah menjadi pemimpin tetap berpihak kepada umat. (*)
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana MBK UAD Yogyakarta










