Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Ada sesuatu yang menarik perhatian saya ketika melihat logo Milad Muhammadiyah ke-114 dan Tanwir Muhammadiyah yang akan berlangsung di Kota Palu, Sulawesi Tengah Pada 19-21 November 2026 Di dalam logo tersebut terdapat daun kelor.
Bagi sebagian orang mungkin itu hanya bagian dari desain. Tetapi bagi saya, sebuah simbol sering kali bisa menjadi pintu masuk untuk merenungkan sesuatu yang lebih besar.
Kelor adalah tanaman yang sederhana. Ia dekat dengan kehidupan masyarakat, relatif mudah tumbuh, tetapi memiliki banyak manfaat. Dari sesuatu yang tampak sederhana itu, ternyata tersimpan nilai yang cukup dalam: kesederhanaan, ketahanan, kesehatan, keberlanjutan dan kemanfaatan.
Menariknya, filosofi itu terasa selaras dengan pembicaraan kami di ruang Rektor UMSU, Sabtu sore kemarin. Kami berbicara tentang pimpinan Muhammadiyah dan bagaimana seorang pimpinan semestinya tidak harus tampil mewah atau merasa istimewa karena amanah yang sedang diembannya.
Yang lebih penting justru bagaimana seorang pimpinan menjadi pribadi yang sederhana, tetapi kaya manfaat bagi umat dan bangsa.
Seorang pimpinan boleh sederhana dalam penampilan, tetapi luas dalam pikiran. Sederhana dalam gaya hidup, tetapi besar dalam pengabdian. Tidak terlalu banyak berbicara tentang dirinya, tetapi kehadirannya dapat dirasakan melalui kerja, keteladanan dan manfaat yang ditinggalkannya.
Muhammadiyah sejak awal bukanlah gerakan untuk membesarkan pribadi. Yang hendak dibesarkan adalah dakwah, umat, bangsa dan kemanusiaan. Karena itu, amanah kepemimpinan seharusnya tidak dipahami sebagai fasilitas untuk mendapatkan keistimewaan, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbesar manfaat.
Usia Muhammadiyah yang kini telah mencapai 114 tahun, dengan segala dinamika, tantangan dan perannya dalam perjalanan umat dan bangsa, tentu diharapkan terus selaras dengan filosofi daun kelor tersebut.
Muhammadiyah harus terus tumbuh, tetapi tidak kehilangan akar. Harus berkembang, tetapi tetap sehat. Harus besar, tetapi tidak kehilangan kesederhanaan. Dan yang paling penting, harus terus memberi manfaat dari generasi ke generasi.
Daun kelor juga dapat dimaknai sebagai lambang keberlanjutan dan kesehatan. Dua hal yang sangat fundamental dalam kehidupan sebuah gerakan.
Keberlanjutan berarti Muhammadiyah tidak hanya memikirkan apa yang dicapai hari ini, tetapi juga bagaimana kaderisasi, kepemimpinan, amal usaha, dakwah dan sistem persyarikatan dapat terus berjalan setelah generasi kita selesai menjalankan amanah.
Sementara kesehatan gerakan bukan hanya soal sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara ideologi, kaderisasi, kepemimpinan, manajemen, keuangan, komunikasi dan hubungan sosial. Organisasi yang besar pun membutuhkan perawatan. Sebab yang besar belum tentu selalu sehat, dan yang sederhana belum tentu kecil manfaatnya.
Namun filosofi daun kelor ini tentu tidak hanya untuk pimpinan Muhammadiyah.
Ia juga menjadi refleksi bagi seluruh warga Muhammadiyah.
Tidak semua orang harus menjadi pimpinan. Ada yang mengajar, berdakwah, mengelola amal usaha, menjadi profesional, mengurus masjid, membina keluarga, menjadi relawan, membangun usaha, mendampingi masyarakat, atau menjalankan tugasnya sebagai warga negara dengan baik.
Semua memiliki ruang untuk memberi manfaat.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan siapa yang berada di atas dan siapa yang menjadi pimpinan. Padahal sebuah gerakan sesungguhnya hidup karena banyak orang yang bekerja di bawah permukaan, tidak selalu terlihat, tidak selalu disebut namanya, tetapi terus berbuat.
Seperti daun kelor. Ia tidak selalu menjadi pusat perhatian, tetapi manfaatnya nyata.
Bahkan lebih luas lagi, filosofi ini sesungguhnya dapat menjadi renungan bagi umat Islam. Islam tidak mengajarkan kita untuk sekadar menjadi besar di hadapan manusia, tetapi menjadi manusia yang membawa kemanfaatan.
Tidak harus menjadi tokoh untuk berbuat baik. Tidak harus memiliki jabatan untuk memberi manfaat. Tidak harus terkenal untuk meninggalkan kebaikan.
Boleh jadi kita bukan siapa-siapa dalam pandangan manusia, tetapi menjadi sesuatu yang berarti bagi keluarga, tetangga, jamaah, masyarakat dan bangsa.
Tanwir sendiri merupakan ruang untuk melihat persoalan dengan lebih terang dan menentukan arah gerakan. Maka simbol daun kelor terasa semakin menarik. Ia seakan menyampaikan pesan sederhana: bertumbuhlah, tetapi tetap berakar; jadilah sehat, bertahanlah, dan teruslah memberi manfaat.
Di tengah perjalanan Muhammadiyah yang sudah 114 tahun, pesan seperti ini terasa penting.
Sebab tantangan organisasi ke depan mungkin bukan hanya bagaimana menjadi semakin besar, tetapi bagaimana memastikan kebesaran itu tetap sehat dan bermanfaat. Bukan hanya bagaimana membangun banyak amal usaha, tetapi bagaimana amal usaha benar-benar menjadi amal yang menghadirkan kemaslahatan. Bukan hanya bagaimana melahirkan banyak kader, tetapi bagaimana melahirkan kader yang memudahkan dan menguatkan langkah Muhammadiyah.
Dan bukan hanya bagaimana mendapatkan posisi, tetapi bagaimana menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya ketika posisi itu datang.
Mungkin di situlah kita perlu belajar dari daun kelor.
Tidak harus tampil istimewa untuk menjadi berarti. Tidak harus besar untuk menjadi bermanfaat.
Yang diperlukan adalah terus tumbuh, memiliki akar yang kuat, menjaga kesehatan, mampu bertahan dalam perubahan zaman, dan memberi manfaat sebanyak mungkin.
Pada akhirnya, orang mungkin tidak selalu mengingat berapa banyak jabatan yang pernah kita sandang. Tetapi kebaikan yang kita tinggalkan bisa hidup jauh lebih lama daripada jabatan itu sendiri.
Maka Milad Muhammadiyah ke-114 dan Tanwir di Palu bukan sekadar momentum memperingati usia dan bermusyawarah menentukan arah. Ia juga bisa menjadi kesempatan untuk bercermin:
Apakah kita masih sederhana?
Apakah kita masih sehat sebagai gerakan?
Apakah kita masih mampu bertumbuh?
Apakah kita sedang menyiapkan keberlanjutan?
Dan yang paling penting, apakah kehadiran kita masih memberi manfaat?
Mungkin itulah pesan sederhana dari daun kelor yang ada dalam logo tersebut.
Sederhana pribadinya, luas pikirannya, sehat gerakannya, berkelanjutan perjuangannya, tulus pengabdiannya, dan kaya manfaat bagi umat, bangsa dan semesta.
Itulah refleksi ringan saya sore ini. Semoga kita tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Muhammadiyah, tetapi juga ikut memastikan agar perjalanan itu terus menghadirkan cahaya dan kemanfaatan bagi kehidupan. (*)








