No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Wujudkan Kemandirian Ekonomi Daerah: Pemda Gali Potensi Pengelolaan Usaha Daerah

31 Agustus 2026
in Daerah, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Affan Al Quddus, S.Sos. M.Si

 

Selama lebih dari 25 tahun otonomi daerah berjalan, kita masih terjebak pada satu pola yang sama: APBD besar, tapi ekonomi rakyat jalan di tempat. Kemiskinan turunnya lambat, pengangguran lulusan baru menumpuk, dan PAD masih 80% bertumpu pada pajak dan transfer pusat.

Padahal, otoritas dan kewenangan Otonomi Daerah seharusnya menjadi pintu percepatan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita penduduk. Tapi faktanya, banyak kepala daerah masih menunggu. Menunggu investor, menunggu proyek pusat, menunggu “hujan emas”.

Sudah saatnya pola itu diubah. Jika investor tak kunjung datang, maka Pemda harus berani menjadi investor bagi daerahnya sendiri.

 

Paradoks Daerah Kaya, Rakyat Tetap Miskin

Ambil contoh Sumatera Utara. BPS Sumut 2024 mencatat PDRB ADHB Sumut tembus Rp 1.003 Triliun. Kita punya sawit, kopi, karet, perikanan, pariwisata. Secara sumber daya kita kaya.

BACA JUGA

Andi Syahputra yang Berseteru dengan Putri Bupati Labusel Protes di Polda Sumut

Empat Prodi UMSU Sukses Raih Akreditasi Internasional FIBAA

Seorang Kader Tapak Suci Jadi Korban Pengeroyokan, LBH PDM Medan Desak Polisi Tangkap Pelaku

Kabar Musyda IMM Sumut di Langkat, Zulham: “Itu Hoaks, Dalam Waktu Dekat Akan Ditertibkan”

Agama yang Menenangkan, Bukan Memenangkan

Ketua PWM Jabar Ajak Seluruh Komponen Persyarikatan Bangun Organisasi Lebih Bermarwah dan Berkemajuan

Tapi lihat sisi lain. Tingkat kemiskinan Sumut masih 8,11% dan lebih dari 60% komoditas unggulan kita dijual dalam bentuk bahan mentah. Nilai tambahnya lari ke pabrik dan brand di luar daerah.

Mengapa? Karena Pemda belum memiliki kendali langsung atas sektor-sektor produktif. Kita hanya jadi penonton: menarik pajak, memberi izin, lalu berharap multiplier effect datang sendiri.

Model ini sudah gagal. Jalan keluarnya ada di tangan Pemda sendiri: Mendirikan dan Mengelola BUMD yang Profesional dan Produktif. Selama ini citra BUMD buruk. Identik dengan rugi, sarang titipan politik, dan hanya jadi pengelola air, pasar, dan parkir. Padahal di banyak negara, BUMD/BUMN daerah adalah lokomotif utama pembangunan.

 

Fokus solusi: BUMD Bukan Lagi “Anak Tiri”, Tapi “Mesin Pertumbuhan”

Yang harus dilakukan kepala daerah:

Pertama, Berani Inisiatif Tanpa Menunggu Investor Jangan lagi beralasan “tidak ada investor”. Buat visibility study sendiri. Hitung kelayakan bisnisnya. Jika komoditas kopi Gayo harganya 3x lipat setelah di roasting, maka Pemda harus berani bangun pabrik roasting. Jika ikan tangkap melimpah tapi busuk karena tidak ada cold storage, maka Pemda harus bangun cold storage.

Kedua, BUMD Harus Berbasis Komoditas Produktif dan Bernilai Bisnis. Fokus BUMD baru bukan lagi di sektor jasa. Tapi langsung di sektor hulu yang padat modal dan menyerap tenaga kerja: BUMD Pengolahan Sawit dan Oleokimia; BUMD Cold Storage, Pengalengan dan Ekspor Perikanan; BUMD Agribisnis Kopi, Kakao, dan Rempah Terintegrasi; BUMD Energi Baru Terbarukan berbasis potensi daerah

Tujuan pendirian BUMD ini jelas:

1. Meningkatkan PAD secara signifikan. Agar daerah tidak hanya berharap dari pajak. Dengan keuntungan usaha, PAD bisa dipakai untuk sekolah gratis, kesehatan, dan infrastruktur tanpa menunggu DAU/DAK.

2. Membuka Peluang Kerja Masif. Satu pabrik pengolahan dengan investasi Rp 100 Miliar bisa menyerap 500-1000 tenaga kerja langsung. Efeknya berantai ke petani, sopir, dan UMKM.

Kunci BUMD berhasil hanya satu: lepas dari intervensi politik. Direksi direkrut lewat lelang terbuka. Gaji berbasis KPI. Laporan keuangan diaudit publik. Libatkan profesional, bukan tim sukses.Kelola BUMD Secara Profesional dan Transparan

Pertanyaan klasik: “Dari mana duitnya?”
Jawabannya ada di rumah sendiri.

1. Perintahkan BPD: Jadikan BPD sebagai “Bank Pembangunan Daerah” yang fokus menyertai modal BUMD, bukan kredit konsumtif.

2. Alokasikan Penyertaan Modal dari APBD: Alihkan sebagian belanja yang tidak produktif menjadi PMD ke BUMD.

3. Kerja Sama dengan Koperasi Besar dan Dana CSR: Jadikan BUMD sebagai holding yang merangkul Koperasi dan UMKM binaan.

Dengan skema ini, dana masyarakat yang selama ini diputar keluar daerah, bisa kita kunci dan putar untuk membangun pabrik di daerah sendiri.

Otonomi daerah yang hanya mengandalkan kewenangan mengatur tanpa memiliki alat produksi, pada akhirnya hanya akan menjadi isapan jempol semata.

Bagaimana mungkin kita bicara kemandirian fiskal jika semua mesin pencetak uang dikuasai swasta dan pusat? Bagaimana mungkin kita bicara peningkatan pendapatan perkapita jika rakyat hanya jadi buruh dan konsumen.
Pemerintah daerah dengan otoritas Otda hari ini harus berani mengambil alih peran. Berhenti jadi makelar. Mulai jadi pelaku.

 

Penutup

Kemandirian ekonomi daerah tidak akan lahir dari seminar dan MoU. Ia lahir dari cerobong asap pabrik, dari truk cold storage yang keluar masuk, dari kapal ekspor yang berangkat dari pelabuhan daerah.

Maka tuntutan kita hari ini sederhana: Wujudkan Kemandirian Ekonomi. Pemda, Gali dan Kelola Usaha Daerah.

Jika tidak sekarang, kapan lagi? Maka jadilah kepala daerah yang di banggakan rakyat karena amanah dalam mewujudkan kesejahteraan. (*)

Tags: Affan Al-QuddusEkonomi Daerah
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

by Mujaddid
8 September 2026
30
Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM
Daerah

Jangan Biarkan Nias Sendirian: PW Muhammadiyah Sumut Wajib Turun Membangun SDM

by Mujaddid
2 September 2026
49
Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah
Daerah

Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah

by Mujaddid
31 Agustus 2026
14
Ekonomi Umat Tanpa Dominasi Hulu Tak Berdaulat
Islam

Ekonomi Umat Tanpa Dominasi Hulu Tak Berdaulat

by Mujaddid
29 Agustus 2026
33

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.