Oleh: Nashrul Mu’minin, S.Pd., C.PW
Muktamar Tapak Suci Putera Muhammadiyah ke-16 yang dibuka pada Jumat, 7 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) bukan hanya agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, forum tertinggi ini menjadi momentum untuk menjawab satu pertanyaan penting: apakah Tapak Suci siap melakukan lompatan besar, atau justru berjalan di tempat?
Pertanyaan inilah yang menjadikan muktamar tahun ini memiliki makna jauh lebih strategis dibanding sekadar pertemuan lima tahunan.
BACA JUGA 🔎 Dari Gelanggang Menuju Peradaban: Rekonstruksi Tapak Suci sebagai Organisasi Berbasis Pengetahuan
Ratusan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia bersama delegasi dari Jerman, Pakistan, Singapura, dan Timor Leste hadir mengenakan seragam merah kebanggaan Tapak Suci. Pembukaan dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP Tapak Suci Putera Muhammadiyah Awan Hariono, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., para pendekar, pimpinan wilayah, serta tamu undangan. Kehadiran para tokoh tersebut menegaskan bahwa muktamar ini bukan sekadar urusan internal, melainkan menyangkut masa depan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang memiliki pengaruh besar dalam pembinaan generasi muda.
Persoalan utama yang harus dijawab bukan lagi tentang siapa yang akan memimpin, melainkan ke mana Tapak Suci akan dibawa. Dunia pencak silat telah berubah menjadi bagian dari diplomasi budaya, industri olahraga, pendidikan karakter, hingga jejaring internasional. Jika organisasi tidak memiliki arah transformasi yang jelas, maka perkembangan tersebut akan sulit diikuti.
Selama ini Tapak Suci dikenal sebagai perguruan yang berhasil memadukan bela diri, dakwah Islam, dan pendidikan akhlak. Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Generasi muda hidup di era digital yang menuntut organisasi bergerak lebih cepat, lebih terbuka terhadap inovasi, dan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembinaan kader.
Karena itu, muktamar harus menjadi ruang evaluasi yang jujur. Apakah sistem kaderisasi sudah mampu melahirkan pemimpin baru? Apakah pelatih telah dibekali kompetensi pendidikan modern? Apakah organisasi telah memiliki tata kelola yang profesional, transparan, dan adaptif? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan kualitas Tapak Suci pada masa mendatang.
Internasionalisasi juga menjadi isu penting. Kehadiran peserta dari empat negara menunjukkan bahwa Tapak Suci telah melampaui batas nasional. Namun, pengakuan internasional harus diikuti dengan peningkatan mutu organisasi, standar pelatihan, sertifikasi pelatih, kurikulum, dan diplomasi olahraga agar perkembangan tersebut tidak berhenti sebagai simbol semata.
Di sisi lain, Tapak Suci harus tetap menjaga jati dirinya sebagai perguruan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Modernisasi tidak boleh menghapus identitas. Justru nilai-nilai Islam harus menjadi fondasi dalam setiap inovasi yang dilakukan sehingga kemajuan organisasi tetap berjalan seiring dengan penguatan akhlak.
Tantangan berikutnya adalah regenerasi. Banyak organisasi besar kehilangan pengaruh bukan karena kekurangan anggota, melainkan karena gagal menyiapkan kader penerus. Muktamar menjadi kesempatan untuk melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga memiliki visi global dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi Muhammadiyah, sekolah, pemerintah, IPSI, dan komunitas internasional juga harus diperkuat. Kerja sama tersebut akan membuka ruang riset olahraga, peningkatan prestasi atlet, pengembangan teknologi latihan, hingga perluasan dakwah melalui jalur olahraga.
Allah Swt. berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah kekuatan semampu kalian.” (QS. Al-Anfal: 60).
Ayat ini mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak hanya dibangun melalui fisik, tetapi juga melalui ilmu, organisasi, strategi, dan persatuan.
Rasulullah saw. bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيف
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Kekuatan yang dimaksud mencakup kualitas iman, akhlak, intelektual, dan kemampuan memimpin perubahan.
Novelty yang paling dinantikan dari Muktamar ke-16 adalah lahirnya peta jalan baru Tapak Suci menuju organisasi bela diri Islam berkelas dunia. Bukan hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga menjadi pusat kaderisasi, inovasi pendidikan karakter, dan diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Jika forum ini mampu menghasilkan keputusan strategis yang berani, maka Muktamar ke-16 akan dikenang sebagai titik balik kebangkitan Tapak Suci. Namun jika hanya menghasilkan pergantian kepemimpinan tanpa arah pembaruan, kesempatan emas itu akan berlalu begitu saja.
Karena itu, publik Muhammadiyah menaruh harapan besar kepada para muktamirin. Semarang hari ini bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya para pendekar, melainkan ruang lahirnya gagasan besar yang akan menentukan wajah Tapak Suci pada dekade-dekade mendatang.
Sejarah selalu mencatat bahwa organisasi besar bertahan bukan karena usia, melainkan karena kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Muktamar Tapak Suci Putera Muhammadiyah ke-16 harus menjadi awal transformasi tersebut—menjadikan Tapak Suci semakin modern, semakin mendunia, dan semakin kokoh sebagai gerakan dakwah, kaderisasi, serta pembinaan karakter bangsa. (*)







