Oleh: Dr. Sihabum Mubin, S.Pd., M.Si.
Ketua Pimda 024 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Palembang
Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang diselenggarakan di Semarang pada 6–9 Agustus 2026 mengusung tema “Berakar Tradisi, Menuju Organisasi Modern, Mandiri, dan Mendunia.” Tema tersebut tidak sekedar menjadi slogan organisasi atau arah kebijakan lima tahunan, melainkan sebuah panggilan untuk melakukan transformasi paradigma.
Di tengah perubahan global yang ditandai oleh revolusi digital, kecerdasan artifisial (artificial intelligence), serta kompetisi berbasis pengetahuan, Tapak Suci dituntut untuk tidak hanya mempertahankan warisan tradisinya, tetapi juga membangun masa depan melalui penguatan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.Transformasi tersebut sesungguhnya selaras dengan jati diri Muhammadiyah. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Persyarikatan ini dibangun di atas pondasi tajdid, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Muhammadiyah tidak pernah memandang ilmu sebagai sesuatu yang terpisah dari agama. Sebaliknya, ilmu merupakan instrumen untuk mewujudkan dakwah, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Prinsip tersebut kembali ditegaskan dalam Risalah Islam Berkemajuan (Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2023), yang menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai bagian integral dari misi membangun masyarakat Islam yang maju,unggul, dan berkeadaban.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Mehdi Golshani (2011) yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam tidak pernah bebas nilai. Ilmu harus berakar pada tauhid, dibimbing oleh etika, dan diarahkan untuk kemaslahatan manusia.
Dengan demikian, pengembangan organisasi berbasis pengetahuan bukan sekadar kebutuhan manajerial, tetapi juga merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Islam.
Landasan tersebut memiliki akar yang sangat kuat dalam Al-Qur’an. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. bukanlah perintah membangun kekuatan fisik ataupun kekuasaan politik, melainkan perintah membaca. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. “(QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5). Ayat ini menegaskan bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan.
Karena itu, membangun Tapak Suci sebagai organisasi modern harus dimulai dari pembangunan budaya literasi, penelitian, dan pengembangan ilmu. Allah Swt kembali menegaskan: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9).
Menurut Nata (2016), kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu merupakan fondasi pembentukan manusia beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial. Oleh karena itu, penguatan budaya riset di lingkungan Tapak Suci bukanlah agenda tambahan, melainkan implementasi langsung dari nilai-nilai pendidikan Islam.
Dalam konteks itulah tema Muktamar XVI memperoleh makna yang lebih mendalam. “Berakar Tradisi” berarti menjaga identitas dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri Tapak Suci. Namun, akar yang kuat harus diiringi dengan kemampuan bertumbuh. Organisasi yang hanya menjaga tradisi tanpa mengembangkan pengetahuan akan mengalami stagnasi.
Sebaliknya, organisasi yang mampu mengintegrasikan tradisi dengan ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan memberi kontribusi bagi peradaban.
Selama lebih dari enam dekade, Tapak Suci telah membuktikan eksistensinya sebagai perguruan pencak silat Islam yang melahirkan ribuan kader, pendekar, pelatih, dan atlet berprestasi. Prestasi tersebut merupakan modal sosial yang sangat besar.
Akan tetapi, kekuatan terbesar Tapak Suci sesungguhnya tidak terletak pada jumlah medali atau luasnya jaringan organisasi, melainkan pada sistem pendidikan yang dikembangkannya. Di setiap gelanggang latihan berlangsung proses pembentukan manusia secara utuh. Seorang siswa tidak hanya belajar teknik bela diri, tetapi juga belajar disiplin, tanggung jawab, keberanian, persaudaraan, kepemimpinan, dan pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut ditanamkan secara berkesinambungan melalui latihan fisik, pembinaan mental, pendidikan akhlak, serta penguatan spiritual.
Dengan demikian, gelanggang sesungguhnya merupakan ruang pendidikan yang memadukan aspek jasmani, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dalam satu proses pembelajaran yang integral.
Pandangan inilah yang menjadi salah satu temuan utama penelitian disertasi penulis berjudul Konstruksi Integrasi Ilmu Transdisipliner dalam Pencak Silat Tapak Suci sebagai Sistem Pengetahuan Holistik di Pimda 024 Palembang (Mubin, 2026).
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Tapak Suci tidak dapat dipahami hanya sebagai organisasi olahraga atau perguruan bela diri, melainkan sebagai sistem pengetahuan holistik (holistic knowledge system) yang membentuk manusia melalui integrasi pengalaman tubuh, pembinaan akal, pendidikan karakter, penguatan spiritual, dan interaksi sosial.
Dengan perspektif tersebut, gelanggang tidak lagi dipahami sekadar sebagai tempat latihan jurus, melainkan sebagai laboratorium pendidikan, ruang pembentukan karakter, sekaligus arena produksi pengetahuan. Dari gelanggang lahir pengalaman, dari pengalaman lahir pengetahuan, dan dari pengetahuan lahir kebijaksanaan yang membentuk peradaban.
Dari Transdisiplinaritas menuju Sistem Pengetahuan Holistik
Cara pandang tersebut sejalan dengan paradigma transdisiplinaritas yang dikembangkan oleh Basarab Nicolescu. Menurut Nicolescu (2002), realitas manusia tidak dapat dijelaskan secara utuh hanya melalui satu disiplin ilmu. Kehidupan manusia merupakan ruang perjumpaan berbagai dimensi—fisik,intelektual, sosial, budaya, moral, dan spiritual—yang saling berinteraksi membentuk satu kesatuan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap manusia menuntut pendekatan yang mampu menghubungkan berbagai disiplin ilmu secara integratif.
Gagasan tersebut diperkuat oleh Edgar Morin (2008), yang menjelaskan bahwa kompleksitas kehidupan menuntut cara berpikir yang tidak terjebak pada pemisahan-pemisahan disiplin ilmu secara kaku. Menurutnya, pendidikan abad ke-21 harus membangun kemampuan menghubungkan berbagai bentuk pengetahuan (connecting knowledge) agar manusia mampu memahami realitas secara utuh. Dalam konteks Tapak Suci, pendekatan ini menunjukkan bahwa latihan pencak silat tidak dapat dipandang semata-mata sebagai aktivitas olahraga, melainkan sebagai proses pendidikan yang mengintegrasikan ilmu keolahragaan, psikologi, pendidikan, budaya, kesehatan, dan nilai-nilai keislaman.
Perspektif tersebut semakin diperkaya oleh fenomenologi Maurice Merleau-Ponty. Merleau-Ponty (2012/1945) menjelaskan bahwa tubuh bukan sekadar objek biologis, melainkan subjek yang mengalami, memahami, dan memberi makna terhadap dunia. Tubuh adalah media utama manusia berinteraksi dengan kehidupan. Karena itu, setiap gerakan tidak hanya menghasilkan aktivitas fisik,tetapi juga membentuk pengalaman, kesadaran, dan cara berpikir.
Dalam latihan Tapak Suci, tubuh bukan hanya dilatih agar kuat, cepat, dan terampil. Tubuh juga dididik agar mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, menjunjung sportivitas, serta menumbuhkan keberanian yang dilandasi akhlak mulia. Dengan demikian, setiap jurus sesungguhnya mengandung dimensi pendidikan yang melampaui aspek teknis bela diri.
Pandangan ini memiliki kesesuaian dengan pemikiran Imam Al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali (2013), tujuan pendidikan bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs) sehingga manusia mencapai keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah Swt. Pendidikan yang ideal bukan sekadar menghasilkan manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang beradab dan berkepribadian luhur.
Senada dengan itu, Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1995) menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan insan adabi, yaitu manusia yang mampu menempatkan ilmu, iman, dan amal secara proporsional. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan adab sebagai fondasi peradaban. Nilai inilah yang sesungguhnya menjadi ruh pendidikan Tapak Suci sejak awal berdirinya.
Temuan penelitian penulis (Mubin, 2026) memperlihatkan bahwa seluruh dimensi tersebut hadir secara nyata dalam proses latihan Tapak Suci. Pengalaman tubuh, refleksi intelektual, pembinaan spiritual, pembentukan karakter, serta interaksi sosial berlangsung secara bersamaan dan saling menguatkan. Berdasarkan temuan tersebut, penulis merumuskan konsep Embodied Living Knowledge System (ELKS) sebagai model konseptual yang menjelaskan Tapak Suci sebagai sistem pengetahuan holistik. Konsep ELKS memandang bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui membaca buku atau mengikuti perkuliahan, tetapi juga lahir melalui pengalaman hidup yang dijalani secara sadar, direfleksikan secara kritis, dan diinternalisasikan menjadi karakter.
Dalam Tapak Suci, setiap latihan, ujian kenaikan tingkat, pertandingan, pengabdian organisasi, hingga interaksi antara guru dan siswa merupakan proses produksi pengetahuan yang berlangsung secara terus-menerus.
Dengan perspektif ELKS, gelanggang latihan berubah makna. Ia bukan lagi sekadar tempat mentransfer teknik bela diri, melainkan ruang lahirnya pengetahuan baru. Pengalaman para pendekar, metode latihan para pelatih, nilai-nilai yang diwariskan para guru, hingga praktik dakwah melalui pencak silat merupakan sumber pengetahuan yang memiliki nilai akademik apabila didokumentasikan, diteliti, dan dipublikasikan secara ilmiah. Inilah yang membedakan organisasi berbasis pengetahuan (knowledge-based organization) dari organisasi yang hanya bertumpu pada pengalaman. Organisasi berbasis pengetahuan tidak membiarkan pengalaman berhenti sebagai cerita lisan, tetapi mengubahnya menjadi pengetahuan yang terdokumentasi, dapat diuji, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pengalaman menjadi data, data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi, dan inovasi menjadi kekuatan organisasi. Di sinilah letak tantangan Tapak Suci pada masa depan. Selama ini organisasi telah memiliki kekayaan pengalaman yang luar biasa. Ribuan pelatih, pendekar,dan kader telah melahirkan berbagai metode pembelajaran, strategi pembinaan, pengalaman dakwah, serta praktik pendidikan karakter yang sangat berharga.
Namun, sebagian besar kekayaan tersebut masih tersimpan dalam ingatan para pelatih dan belum terdokumentasikan secara sistematis. Padahal, apabila pengalaman tersebut dihimpun melalui penelitian, ditulis dalam bentuk buku, artikel ilmiah, modul pelatihan, maupun hasil pengabdian kepada masyarakat, Tapak Suci akan memiliki khazanah keilmuan yang tidak hanya bermanfaat bagi organisasi sendiri, tetapi juga bagi dunia pendidikan, olahraga, kebudayaan, dan studi Islam. Dari sinilah Tapak Suci dapat memberikan kontribusi intelektual yang lebih luas bagi Muhammadiyah, bangsa Indonesia, bahkan masyarakat internasional.
Muktamar sebagai Momentum Transformasi
Transformasi menuju organisasi berbasis pengetahuan tidak akan terwujud tanpa perubahan budaya organisasi. Dalam perspektif manajemen modern, Peter Senge (2006) menjelaskan bahwa organisasi yang mampu bertahan dan berkembang adalah learning organization, yaitu organisasi yang terus belajar, menciptakan pengetahuan baru, berbagi pengalaman, dan melakukan inovasi secara berkelanjutan. Organisasi semacam ini tidak bergantung pada individu-individu tertentu, tetapi membangun sistem yang memungkinkan pengetahuan terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya.Konsep tersebut sangat relevan bagi Tapak Suci. Selama lebih dari enam dekade,organisasi ini telah menghimpun pengalaman yang sangat kaya melalui pembinaan kader, latihan, pertandingan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman itu merupakan modal intelektual yang sangat berharga. Namun, modal tersebut baru akan menjadi kekuatan strategis apabila didokumentasikan, diteliti, dipublikasikan, dan dikembangkan menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipelajari secara luas.
Karena itu, Muktamar XVI hendaknya tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan organisasi yang bersifat administratif, tetapi juga melahirkan agenda besar penguatan tradisi keilmuan. Tapak Suci memerlukan langkah-langkah strategis yang berorientasi pada pembangunan pengetahuan,antara lain melalui pembentukan pusat kajian dan pengembangan ilmu, penguatan jejaring penelitian dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA), penyusunan kurikulum berbasis bukti (evidence-based curriculum), digitalisasi arsip dan sejarah organisasi, serta pembudayaan literasi dan publikasi ilmiah dikalangan pelatih, kader, pendekar, dan pimpinan.Langkah-langkah tersebut bukan dimaksudkan untuk mengubah identitas Tapak Suci menjadi lembaga akademik semata.
Sebaliknya, seluruh ikhtiar itu justru menjadi cara untuk menjaga dan mengembangkan tradisi yang telah diwariskan para pendiri. Tradisi yang tidak didokumentasikan akan mudah hilang, sedangkan tradisi yang dikaji dan dikembangkan akan terus hidup serta mampu menjawab tantangan zaman. Dalam perspektif ini, tema Muktamar XVI memperoleh makna yang utuh.Berakar pada tradisi berarti menjaga nilai-nilai keislaman, akhlak, dan semangat perjuangan yang menjadi fondasi Tapak Suci. Menjadi organisasi modern berarti menjadikan ilmu pengetahuan, tata kelola yang baik, dan inovasi sebagai budaya organisasi. Mandiri berarti memiliki kapasitas untuk mengembangkan sumber daya manusia, sistem pendidikan, dan pusat-pusat keilmuan dengan kekuatan sendiri.
Adapun mendunia bukan hanya diukur dari bertambahnya cabang di berbagai negara, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kontribusi intelektual yang diakui dalam percaturan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan di tingkat global. Di sinilah konsep Embodied Living Knowledge System (ELKS) memperoleh relevansinya. ELKS bukan sekadar model konseptual hasil penelitian, melainkan tawaran paradigma untuk melihat Tapak Suci sebagai organisasi yang menghasilkan, mengembangkan, dan mentransformasikan pengetahuan melalui pengalaman hidup, pembinaan karakter, penguatan spiritual, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan paradigma ini, setiap gelanggang bukan hanya menjadi tempat berlatih jurus, tetapi juga menjadi ruang belajar, ruang refleksi,ruang penelitian, dan ruang lahirnya inovasi. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. al-Ṭabarānī). Hadis tersebut mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukan semata-mata prestasi pribadi atau kebesaran organisasi, melainkan sejauh mana ilmu dan amal yang dimiliki menghadirkan manfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, apabila pengetahuan yang lahir dari gelanggang mampu melahirkan karya ilmiah, model pendidikan, inovasi pembinaan, dan penguatan karakter yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan, maka Tapak Suci telah menjalankan salah satu misi luhur Islam, yaitu membangun peradaban melalui ilmu dan amal.
Pada akhirnya, Muktamar XVI hendaknya dikenang bukan hanya sebagai forum permusyawaratan tertinggi organisasi, tetapi sebagai titik tolak lahirnya paradigma baru pengembangan Tapak Suci. Dari gelanggang tidak hanya lahir pendekar yang tangguh, tetapi juga pendidik, peneliti, inovator, intelektual, dan pemimpin yang menjadikan ilmu sebagai jalan dakwah. Apabila paradigma ini diwujudkan secara konsisten, Tapak Suci tidak hanya akan semakin kokoh sebagai perguruan pencak silat Islam yang berakar kuat pada tradisi, tetapi juga tampil sebagai organisasi pembelajar yang menghasilkan gagasan, penelitian, dan inovasi bagi kemajuanumat.
Dengan demikian, cita-cita “Berakar Tradisi, Menuju Organisasi Modern, Mandiri, dan Mendunia” tidak berhenti sebagai tema Muktamar, melainkan menjelma menjadi gerakan nyata yang mengantarkan Tapak Suci dari gelanggang menuju peradaban. Sebab, sebagaimana moto Tapak Suci yang telah menjadi ruh perjuangan sejak awal berdirinya, “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.” Di atas fondasi iman dan akhlak itulah ilmu pengetahuan dikembangkan, tradisi dipelihara, inovasi dilahirkan, dan peradaban dibangun. Itulah hakikat Tapak Suci sebagai gerakan dakwah, pendidikan, dan ilmu pengetahuan dalam bingkai Islam Berkemajuan.
Daftar Pustaka
- Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
- Al-Ghazali. (2013). Ihya’ ‘Ulum al-Din (Vol. 1). Beirut: Dar al-Kutubal-‘Ilmiyyah.
- Al-Qur’an al-Karim.Al-Ṭabarānī. (1994). Al-Mu’jam al-Awsaṭ. Kairo: Dār al-Ḥaramayn.
- Golshani, M. (2011). Issues in Islam and Science. Tehran: Institute for Humanitiesand Cultural Studies.
- Merleau-Ponty, M. (2012). Phenomenology of Perception (D. A. Landes, Trans.).London: Routledge. (Original work published 1945).
- Morin, E. (2008). On Complexity. Cresskill, NJ: Hampton Press.
- Mubin, S. (2026). Konstruksi Integrasi Ilmu Transdisipliner dalam Pencak SilatTapak Suci sebagai Sistem Pengetahuan Holistik di Pimda 024 Palembang(Disertasi Doktor, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang).
- Nata, A. (2016). Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Kencana.
- Nicolescu, B. (2002). Manifesto of Transdisciplinarity. Albany, NY: State University of New York Press.
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2023). Risalah Islam Berkemajuan.Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
- Senge, P. M. (2006). The Fifth Discipline: The Art and Practice of the LearningOrganization (Rev. ed.). New York: Doubleday.
BIODATA PENULIS
Dr. Sihabum Mubin, S.Pd., M.Si., P.Ka merupakan Pendekar Kepala sekaligus sebagai Ketua Pimpinan Daerah (Pimda) 024 Tapak Suci Putera Muhammadiyah kota Palembang. Ia menyelesaikan pendidikan doktor pada Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Raden Fatah Palembang dengan disertasi berjudul “Konstruksi Integrasi Ilmu Trans disipliner dalam Pencak Silat Tapak Suci Sebagai sistem Pengetahuan Holistik di Pimda 024 Palembang. “Saat ini penulis mulai aktif menulis artikel ilmiah dan artikel pemikiran yang berfokus pada pendidikan Islam, integrasi ilmu, pencak silat Tapak Suci, tasawuf, serta pengembangan organisasi berbasis pengetahuan. Melalui tulisan-tulisannya, penulis berupaya menghadirkan gagasan yang menghubungkan kajian akademik dengan praktik organisasi dan dakwah Muhammadiyah.Email: sihabummubin.fis@gmail.com

















