Oleh: Yudha Kurniawan
Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY
Kemerdekaan sering kita rayakan dengan upacara, bendera, lagu kebangsaan, dan berbagai perayaan yang mengingatkan kita pada perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan. Setiap Agustus, kita kembali mengenang para pejuang yang mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi sebuah bangsa yang merdeka.
Namun, ada pertanyaan yang barangkali jarang kita ajukan, setelah bangsa ini merdeka, apakah setiap pikiran manusia Indonesia juga telah benar-benar merdeka?
Pertanyaan itu membawa kita pada pengertian kemerdekaan yang lebih dalam. Penjajahan ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk tentara, senjata, dan pendudukan wilayah. Ada penjajahan yang jauh lebih halus, ketika manusia kehilangan keberanian menggunakan akalnya sendiri, ketika ketakutan membuat seseorang menyerahkan nalar kepada sesuatu yang tidak dapat diuji, ketika tradisi diterima bukan karena kebenarannya, melainkan semata-mata karena telah diwariskan turun-temurun.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin telah merdeka sebagai warga negara, tetapi belum sepenuhnya merdeka sebagai manusia. Ia mengalami apa yang dapat disebut sebagai penjajahan intelektualitas.
Ketika Tradisi Membelenggu Pikiran
Indonesia adalah negeri yang kaya kebudayaan. Pencak silat merupakan salah satu warisan kebudayaan yang luar biasa. Di dalamnya terdapat nilai keberanian, kedisiplinan, ketekunan, persaudaraan, pengendalian diri, dan penghormatan kepada sesama.
Tetapi setiap kebudayaan selalu hidup dalam konteks sejarahnya. Di dalam perjalanan panjang pencak silat, pernah tumbuh pula berbagai praktik yang mencampurkan kemampuan bela diri dengan kepercayaan terhadap kesaktian, mantra, benda bertuah, ritual tertentu, atau kekuatan supranatural.
Kita tidak sedang menghakimi seluruh tradisi bela diri Nusantara. Justru sebaliknya, kita perlu menghargai pencak silat sebagai kekayaan kebudayaan bangsa. Yang perlu dikritisi adalah ketika sebuah tradisi membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara ilmu dan mitos, latihan dan kesaktian, keberanian dan ketakutan, kenyataan dan sugesti.
Di titik itulah kebudayaan dapat berubah menjadi belenggu. Sebab sesuatu yang diyakini terus-menerus, apalagi diwariskan dari generasi ke generasi, pada akhirnya dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pernah dipertanyakan.
Maka manusia tidak lagi bertanya, mengapa? Ia hanya berkata, memang sejak dulu begitu. Padahal, kemajuan peradaban selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya.
Barie Irsjad dan Jalan Pembebasan
Dalam konteks inilah sosok Muhammad Barie Irsjad menarik untuk dibaca. Bukan semata-mata sebagai seorang pendekar, tetapi sebagai seorang pelaku kebudayaan yang mencoba melakukan perubahan dari dalam tradisi pencak itu sendiri.
Barie Irsjad tumbuh di Kauman, lingkungan yang sangat dekat dengan tradisi pembaruan Muhammadiyah. Dari lingkungan itulah tumbuh kesadaran bahwa Islam tidak seharusnya membelenggu akal manusia. Sebaliknya, iman justru harus membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.
Kesadaran itu kemudian bertemu dengan dunia pencak yang menjadi jalan hidupnya. Barie tidak meninggalkan pencak silat untuk melawan praktik irasional yang menurutnya bertentangan dengan aqidah. Ia justru masuk lebih dalam ke dunia pencak dan menawarkan cara pandang baru bahwa kemampuan seorang pendekar harus dapat dibangun melalui ilmu, latihan, disiplin, teknik, dan keberanian.
Inilah gagasan yang kemudian menemukan bentuknya dalam pencak silat yang rasional, metodis, dan dinamis. Rasional, karena kemampuan tidak perlu disandarkan pada takhayul. Metodis, karena keterampilan dibangun melalui proses latihan yang terukur dan dapat dipelajari. Dinamis, karena ilmu tidak boleh berhenti pada apa yang diwariskan, tetapi harus terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
Dengan prinsip itu, seorang pesilat tidak membutuhkan kesaktian mistis untuk menjadi tangguh. Ia membutuhkan ilmu dan latihan.
Seorang pendekar tidak perlu ditakuti karena dianggap memiliki kekuatan gaib. Ia dihormati karena memiliki kemampuan yang lahir dari proses panjang.
Di sinilah pencak silat memperoleh makna baru, yaitu kekuatan tubuh dipertemukan dengan kemerdekaan pikiran.
Melawan dengan Kebudayaan
Perjuangan semacam ini menarik karena tidak dilakukan dengan senjata. Barie Irsjad melakukan perlawanan melalui kebudayaan.
Ia masuk ke dalam ruang yang sudah lama menjadi bagian dari masyarakat, lalu mengubah cara masyarakat memandangnya.
Pencak tidak harus identik dengan klenik. Kesaktian tidak harus menjadi syarat seorang pendekar. Kehebatan tidak harus dibangun melalui mantra. Kemampuan dapat diperoleh melalui latihan. Kemenangan dapat dijelaskan melalui teknik. Keberanian dapat tumbuh dari keyakinan kepada Allah dan penguasaan diri.
Dengan demikian, pembaruan yang dilakukan bukan penghancuran kebudayaan. Ia adalah pemurnian sekaligus pembebasan kebudayaan.
Pencak tetap hidup. Tradisi tetap dihargai. Tetapi unsur-unsur yang membelenggu akal ditinggalkan.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa kehadiran Tapak Suci memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar lahirnya sebuah perguruan pencak silat. Tapak Suci dapat dibaca sebagai salah satu bentuk dakwah kultural, jalan dakwah yang bekerja melalui kebudayaan, bukan dengan memusuhi kebudayaan.
Membebaskan Pendekar dari Ketakutan
Ada sebuah ironi dalam dunia bela diri. Seharusnya seorang pesilat dilatih untuk berani. Tetapi jika kekuatan seorang pesilat justru dibangun melalui ketakutan terhadap benda tertentu, mantra tertentu, guru tertentu, atau kekuatan gaib tertentu, bukankah secara tidak sadar ia sedang menciptakan ketergantungan baru?
Seorang manusia yang benar-benar merdeka semestinya tidak hidup dalam ketakutan semacam itu. Silakan menghormati tradisi, tetapi tidak boleh kehilangan akal sehat. Wajib menghormati guru, tetapi tidak boleh menyerahkan seluruh pikirannya. Boleh mencintai kebudayaan, tetapi tidak harus menerima semua unsur kebudayaan tanpa kritik.
Inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan Tapak Suci. Kemerdekaan bukan hanya kemampuan untuk melakukan apa yang kita inginkan. Kemerdekaan juga kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan bertanggung jawab.
Dalam perspektif Muhammadiyah, kemerdekaan berpikir tentu bukan berarti kebebasan tanpa batas. Akal tetap berada dalam bimbingan tauhid dan ilmu. Justru karena bertauhid, manusia dibebaskan dari penghambaan kepada selain Allah. Dan karena berilmu, manusia memiliki kemampuan untuk menguji, menimbang, dan memahami kenyataan.
Karena itu, tauhid dan rasionalitas tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi kekuatan pembebasan.
Tapak Suci dan Semangat Berkemajuan
Di sinilah hubungan antara Tapak Suci dan gagasan Islam Berkemajuan menemukan relevansinya.
Islam Berkemajuan tidak mengajak manusia kembali ke masa lalu dengan romantisme yang membelenggu. Ia mengajak manusia mengambil nilai terbaik dari tradisi, membuka diri terhadap ilmu pengetahuan, dan terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.
Semangat itu sejalan dengan watak pencak yang rasional, metodis, dan dinamis. Pesilat belajar dari tradisi, tetapi terus mengembangkan teknik.
Pesilat menghormati guru, tetapi tetap belajar. Pesilat menguasai tubuh, tetapi juga harus mengendalikan emosi. Pesilat berani menghadapi lawan, tetapi tidak mencari permusuhan.
Dan yang paling penting, pesilat tidak menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Kekuatan justru harus melahirkan tanggung jawab.
Karena itu, pendidikan Tapak Suci sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi pendidikan karakter yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman dengan membentuk manusia yang beriman, berilmu, disiplin, berani, rasional, rendah hati, dan mampu mengendalikan diri.
Kemerdekaan yang Harus Terus Diperjuangkan
Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade. Tetapi pekerjaan memerdekakan manusia belum selesai.
Kita masih berhadapan dengan berbagai bentuk irasionalitas. Informasi palsu mudah dipercaya. Mitos mudah menyebar. Ketakutan mudah dimanfaatkan. Bahkan di tengah kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan, manusia masih dapat terjebak pada cara berpikir yang tidak kritis.
Karena itu, perjuangan memerdekakan pikiran justru semakin penting. Dalam konteks ini, warisan gagasan Barie Irsjad menjadi relevan untuk dibaca kembali. Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk menemukan pesan yang dapat dibawa ke masa depan.
Bahwa kebudayaan dapat menjadi jalan pembebasan. Bahwa bela diri dapat menjadi pendidikan. Bahwa seorang pendekar tidak hanya harus kuat tubuhnya, tetapi juga merdeka pikirannya.
Dan bahwa dakwah tidak selalu harus berlangsung di mimbar. Dakwah dapat hadir di gelanggang, di padepokan, di ruang latihan, dan di tengah kebudayaan masyarakat.
Barie Irsjad dengan pencak silatnya, dan kemudian Tapak Suci dengan gerakannya, memperlihatkan satu kemungkinan penting, yakni melawan penjajahan intelektualitas dapat dilakukan melalui kebudayaan.
Bukan dengan membenci tradisi, melainkan dengan menyucikan dan mencerdaskannya. Bukan dengan memusuhi masyarakat, melainkan dengan membebaskan mereka. Bukan dengan mengganti ketakutan lama dengan ketakutan baru, melainkan dengan menghadirkan ilmu.
Pada akhirnya, kemerdekaan yang paling hakiki bukan sekadar ketika tanah air bebas dari penjajah. Kemerdekaan yang lebih dalam adalah ketika manusia berani berpikir, mampu menggunakan akal, teguh dalam tauhid, terbuka terhadap ilmu, dan tidak mudah diperbudak oleh ketakutan yang irasional.
Barangkali itulah salah satu makna terdalam dari jejak seorang pendekar. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana mengepalkan tangan. Ia mengajarkan bagaimana membebaskan pikiran. Dirgahayu 81 tahun kemerdekaan Indonesia. (*)

















