No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Tapak Suci untuk Kemerdekaan Pikiran dari Penjajahan Irasionalitas

21 Agustus 2026
in Muhammadiyah, Nasional, Opini, Ortom, Tapak Suci
Reading Time: 5 mins read
0
A A
0
Gambar Ilustrasi.

Gambar Ilustrasi.

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Yudha Kurniawan

Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY

 

Kemerdekaan sering kita rayakan dengan upacara, bendera, lagu kebangsaan, dan berbagai perayaan yang mengingatkan kita pada perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan. Setiap Agustus, kita kembali mengenang para pejuang yang mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi sebuah bangsa yang merdeka.

Namun, ada pertanyaan yang barangkali jarang kita ajukan, setelah bangsa ini merdeka, apakah setiap pikiran manusia Indonesia juga telah benar-benar merdeka?

Pertanyaan itu membawa kita pada pengertian kemerdekaan yang lebih dalam. Penjajahan ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk tentara, senjata, dan pendudukan wilayah. Ada penjajahan yang jauh lebih halus, ketika manusia kehilangan keberanian menggunakan akalnya sendiri, ketika ketakutan membuat seseorang menyerahkan nalar kepada sesuatu yang tidak dapat diuji, ketika tradisi diterima bukan karena kebenarannya, melainkan semata-mata karena telah diwariskan turun-temurun.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin telah merdeka sebagai warga negara, tetapi belum sepenuhnya merdeka sebagai manusia. Ia mengalami apa yang dapat disebut sebagai penjajahan intelektualitas.

 

Ketika Tradisi Membelenggu Pikiran

Indonesia adalah negeri yang kaya kebudayaan. Pencak silat merupakan salah satu warisan kebudayaan yang luar biasa. Di dalamnya terdapat nilai keberanian, kedisiplinan, ketekunan, persaudaraan, pengendalian diri, dan penghormatan kepada sesama.

Tetapi setiap kebudayaan selalu hidup dalam konteks sejarahnya. Di dalam perjalanan panjang pencak silat, pernah tumbuh pula berbagai praktik yang mencampurkan kemampuan bela diri dengan kepercayaan terhadap kesaktian, mantra, benda bertuah, ritual tertentu, atau kekuatan supranatural.

Kita tidak sedang menghakimi seluruh tradisi bela diri Nusantara. Justru sebaliknya, kita perlu menghargai pencak silat sebagai kekayaan kebudayaan bangsa. Yang perlu dikritisi adalah ketika sebuah tradisi membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara ilmu dan mitos, latihan dan kesaktian, keberanian dan ketakutan, kenyataan dan sugesti.

Di titik itulah kebudayaan dapat berubah menjadi belenggu. Sebab sesuatu yang diyakini terus-menerus, apalagi diwariskan dari generasi ke generasi, pada akhirnya dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pernah dipertanyakan.

Maka manusia tidak lagi bertanya, mengapa? Ia hanya berkata, memang sejak dulu begitu. Padahal, kemajuan peradaban selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya.

 

Barie Irsjad dan Jalan Pembebasan

Dalam konteks inilah sosok Muhammad Barie Irsjad menarik untuk dibaca. Bukan semata-mata sebagai seorang pendekar, tetapi sebagai seorang pelaku kebudayaan yang mencoba melakukan perubahan dari dalam tradisi pencak itu sendiri.

Barie Irsjad tumbuh di Kauman, lingkungan yang sangat dekat dengan tradisi pembaruan Muhammadiyah. Dari lingkungan itulah tumbuh kesadaran bahwa Islam tidak seharusnya membelenggu akal manusia. Sebaliknya, iman justru harus membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.

Kesadaran itu kemudian bertemu dengan dunia pencak yang menjadi jalan hidupnya. Barie tidak meninggalkan pencak silat untuk melawan praktik irasional yang menurutnya bertentangan dengan aqidah. Ia justru masuk lebih dalam ke dunia pencak dan menawarkan cara pandang baru bahwa kemampuan seorang pendekar harus dapat dibangun melalui ilmu, latihan, disiplin, teknik, dan keberanian.

Inilah gagasan yang kemudian menemukan bentuknya dalam pencak silat yang rasional, metodis, dan dinamis. Rasional, karena kemampuan tidak perlu disandarkan pada takhayul. Metodis, karena keterampilan dibangun melalui proses latihan yang terukur dan dapat dipelajari. Dinamis, karena ilmu tidak boleh berhenti pada apa yang diwariskan, tetapi harus terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Dengan prinsip itu, seorang pesilat tidak membutuhkan kesaktian mistis untuk menjadi tangguh. Ia membutuhkan ilmu dan latihan.

Seorang pendekar tidak perlu ditakuti karena dianggap memiliki kekuatan gaib. Ia dihormati karena memiliki kemampuan yang lahir dari proses panjang.

Di sinilah pencak silat memperoleh makna baru, yaitu kekuatan tubuh dipertemukan dengan kemerdekaan pikiran.

 

Melawan dengan Kebudayaan

Perjuangan semacam ini menarik karena tidak dilakukan dengan senjata. Barie Irsjad melakukan perlawanan melalui kebudayaan.

Ia masuk ke dalam ruang yang sudah lama menjadi bagian dari masyarakat, lalu mengubah cara masyarakat memandangnya.

Pencak tidak harus identik dengan klenik. Kesaktian tidak harus menjadi syarat seorang pendekar. Kehebatan tidak harus dibangun melalui mantra. Kemampuan dapat diperoleh melalui latihan. Kemenangan dapat dijelaskan melalui teknik. Keberanian dapat tumbuh dari keyakinan kepada Allah dan penguasaan diri.

Dengan demikian, pembaruan yang dilakukan bukan penghancuran kebudayaan. Ia adalah pemurnian sekaligus pembebasan kebudayaan.

Pencak tetap hidup. Tradisi tetap dihargai. Tetapi unsur-unsur yang membelenggu akal ditinggalkan.

Di sinilah kita dapat memahami mengapa kehadiran Tapak Suci memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar lahirnya sebuah perguruan pencak silat. Tapak Suci dapat dibaca sebagai salah satu bentuk dakwah kultural, jalan dakwah yang bekerja melalui kebudayaan, bukan dengan memusuhi kebudayaan.

 

Membebaskan Pendekar dari Ketakutan

Ada sebuah ironi dalam dunia bela diri. Seharusnya seorang pesilat dilatih untuk berani. Tetapi jika kekuatan seorang pesilat justru dibangun melalui ketakutan terhadap benda tertentu, mantra tertentu, guru tertentu, atau kekuatan gaib tertentu, bukankah secara tidak sadar ia sedang menciptakan ketergantungan baru?

Seorang manusia yang benar-benar merdeka semestinya tidak hidup dalam ketakutan semacam itu. Silakan menghormati tradisi, tetapi tidak boleh kehilangan akal sehat. Wajib menghormati guru, tetapi tidak boleh menyerahkan seluruh pikirannya. Boleh mencintai kebudayaan, tetapi tidak harus menerima semua unsur kebudayaan tanpa kritik.

Inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan Tapak Suci. Kemerdekaan bukan hanya kemampuan untuk melakukan apa yang kita inginkan. Kemerdekaan juga kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan bertanggung jawab.

Dalam perspektif Muhammadiyah, kemerdekaan berpikir tentu bukan berarti kebebasan tanpa batas. Akal tetap berada dalam bimbingan tauhid dan ilmu. Justru karena bertauhid, manusia dibebaskan dari penghambaan kepada selain Allah. Dan karena berilmu, manusia memiliki kemampuan untuk menguji, menimbang, dan memahami kenyataan.

Karena itu, tauhid dan rasionalitas tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi kekuatan pembebasan.

 

Tapak Suci dan Semangat Berkemajuan

Di sinilah hubungan antara Tapak Suci dan gagasan Islam Berkemajuan menemukan relevansinya.

Islam Berkemajuan tidak mengajak manusia kembali ke masa lalu dengan romantisme yang membelenggu. Ia mengajak manusia mengambil nilai terbaik dari tradisi, membuka diri terhadap ilmu pengetahuan, dan terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.

Semangat itu sejalan dengan watak pencak yang rasional, metodis, dan dinamis. Pesilat belajar dari tradisi, tetapi terus mengembangkan teknik.

Pesilat menghormati guru, tetapi tetap belajar. Pesilat menguasai tubuh, tetapi juga harus mengendalikan emosi. Pesilat berani menghadapi lawan, tetapi tidak mencari permusuhan.

Dan yang paling penting, pesilat tidak menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Kekuatan justru harus melahirkan tanggung jawab.

Karena itu, pendidikan Tapak Suci sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi pendidikan karakter yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman dengan membentuk manusia yang beriman, berilmu, disiplin, berani, rasional, rendah hati, dan mampu mengendalikan diri.

 

Kemerdekaan yang Harus Terus Diperjuangkan

Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade. Tetapi pekerjaan memerdekakan manusia belum selesai.

Kita masih berhadapan dengan berbagai bentuk irasionalitas. Informasi palsu mudah dipercaya. Mitos mudah menyebar. Ketakutan mudah dimanfaatkan. Bahkan di tengah kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan, manusia masih dapat terjebak pada cara berpikir yang tidak kritis.

Karena itu, perjuangan memerdekakan pikiran justru semakin penting. Dalam konteks ini, warisan gagasan Barie Irsjad menjadi relevan untuk dibaca kembali. Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk menemukan pesan yang dapat dibawa ke masa depan.

Bahwa kebudayaan dapat menjadi jalan pembebasan. Bahwa bela diri dapat menjadi pendidikan. Bahwa seorang pendekar tidak hanya harus kuat tubuhnya, tetapi juga merdeka pikirannya.

BACA JUGA

Manuver 3 Periode, Shohib: Indonesia Bukan Milik Mereka Saja!

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UMSU Sukses Gelar Workshop Fotografi

Sinergi LDK PWM dan FKPT Jatim: Rangkul Sahabat Deradikalisasi lewat Dialog Kebangsaan

KKJ Kecam Aksi Pengancaman Jurnalis oleh ‘Pengawal’ Airlangga Hartarto di Kejagung

LLHPB PP ‘Aisyiyah Jaring Masukan Terkait Penyusunan Modul Lingkungan

IMM Ingatkan Walikota Evaluasi Serius RSUD Padangsidimpuan

Dan bahwa dakwah tidak selalu harus berlangsung di mimbar. Dakwah dapat hadir di gelanggang, di padepokan, di ruang latihan, dan di tengah kebudayaan masyarakat.

Barie Irsjad dengan pencak silatnya, dan kemudian Tapak Suci dengan gerakannya, memperlihatkan satu kemungkinan penting, yakni melawan penjajahan intelektualitas dapat dilakukan melalui kebudayaan.

Bukan dengan membenci tradisi, melainkan dengan menyucikan dan mencerdaskannya. Bukan dengan memusuhi masyarakat, melainkan dengan membebaskan mereka. Bukan dengan mengganti ketakutan lama dengan ketakutan baru, melainkan dengan menghadirkan ilmu.

Pada akhirnya, kemerdekaan yang paling hakiki bukan sekadar ketika tanah air bebas dari penjajah. Kemerdekaan yang lebih dalam adalah ketika manusia berani berpikir, mampu menggunakan akal, teguh dalam tauhid, terbuka terhadap ilmu, dan tidak mudah diperbudak oleh ketakutan yang irasional.

Barangkali itulah salah satu makna terdalam dari jejak seorang pendekar. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana mengepalkan tangan. Ia mengajarkan bagaimana membebaskan pikiran. Dirgahayu 81 tahun kemerdekaan Indonesia. (*)

Tags: HUT RI 81M Barie IrsjadTapak SuciTapak Suci Putera MuhammadiyahYudha Kurniawan
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Upacara HUT ke-81 RI di Malaysia Diikuti Hampir 1.000 WNI, Wakil Dubes RI Serukan Cinta Tanah Air Tanpa Syarat
'Aisyiyah

Upacara HUT ke-81 RI di Malaysia Diikuti Hampir 1.000 WNI, Wakil Dubes RI Serukan Cinta Tanah Air Tanpa Syarat

by Mujaddid
24 Agustus 2026
19
Muktamar Tapak Suci: Sukses Menjaga Demokrasi, Memperkuat Persaudaraan, dan Menatap Dunia
Internasional

Muktamar Tapak Suci: Sukses Menjaga Demokrasi, Memperkuat Persaudaraan, dan Menatap Dunia

by Mujaddid
18 Agustus 2026
91
Ketum PP Muhammadiyah: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Jadi Agenda Utama
Kebangsaan

Ketum PP Muhammadiyah: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Jadi Agenda Utama

by Mujaddid
17 Agustus 2026
31
81 Tahun: Sudah Berapa Persen Merdeka Kita?
Nasional

81 Tahun: Sudah Berapa Persen Merdeka Kita?

by Mujaddid
19 Agustus 2026
38
Gebyar HUT RI 81 dan Syiar Muktamar 49 Muhammadiyah, PRM Titi Papan Gelar Beragam Kegiatan
Daerah

Gebyar HUT RI 81 dan Syiar Muktamar 49 Muhammadiyah, PRM Titi Papan Gelar Beragam Kegiatan

by Mujaddid
16 Agustus 2026
36
Semarak HUT RI ke-81, UMSU Gelar Turnamen Mini Soccer Piala Rektor 2026
Daerah

Semarak HUT RI ke-81, UMSU Gelar Turnamen Mini Soccer Piala Rektor 2026

by Mujaddid
16 Agustus 2026
17
Lembaga Dakwah Komunitas Wilayah Muhammadiyah Jatim Gelar Dialog Kebangsaan Perkuat NKRI
Daerah

Lembaga Dakwah Komunitas Wilayah Muhammadiyah Jatim Gelar Dialog Kebangsaan Perkuat NKRI

by Mujaddid
7 Agustus 2026
13
Gelanggang yang Menempa Kader Muhammadiyah
Muhammadiyah

Gelanggang yang Menempa Kader Muhammadiyah

by Mujaddid
23 Juli 2026
128
PP Tapak Suci Selenggarakan Penataran Pelatih dan Wasit-Juri Nasional 2025
Nasional

PP Tapak Suci Selenggarakan Penataran Pelatih dan Wasit-Juri Nasional 2025

by Mujaddid
13 Desember 2025
34
Santri Tapak Suci PPRU Sakatiga Ukir Prestasi Gemilang di Kejuaraan Internasional
Internasional

Santri Tapak Suci PPRU Sakatiga Ukir Prestasi Gemilang di Kejuaraan Internasional

by Mujaddid
21 September 2025
57

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.