Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Sipirok adalah sebuah kota kabupaten, tepatnya ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan. Kota yang berhawa sejuk ini menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan Medan dengan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Dari Medan, Sipirok berjarak sekitar 349 kilometer dan dapat ditempuh melalui perjalanan darat sekitar delapan jam. Meski perjalanan cukup panjang, rasa lelah seolah terbayar ketika memasuki kawasan perbukitan yang hijau dengan udara yang segar dan menenangkan.
Sejak dahulu, Sipirok dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Sumatera Utara. Hingga kini, Kopi Sipirok tetap memiliki cita rasa khas yang dicari para penikmat kopi. Letaknya yang berada di dataran tinggi dengan suhu yang relatif dingin menjadikan kopi yang tumbuh di daerah ini memiliki karakter tersendiri. Menikmati secangkir kopi panas di Sipirok terasa semakin nikmat ketika ditemani pisang goreng atau makanan khas daerah yang dikenal dengan nama panggelong, yakni penganan dari tepung beras ketan yang disiram gula aren. Sederhana, tetapi menghadirkan kenikmatan yang sulit dilupakan.
Namun, Sipirok bukan hanya dikenal karena kopinya. Kota ini juga menyimpan jejak sejarah yang penting tentang kehidupan beragama di Indonesia. Di pusat kota berdiri berdampingan dua rumah ibadah bersejarah yang menjadi simbol nyata toleransi dan kerukunan.
Masjid Raya Sri Alam yang dibangun pada tahun 1926 berdiri dengan arsitektur bergaya Melayu yang anggun. Tepat di sebelahnya berdiri Gereja HKBP yang telah ada sejak tahun 1861 dengan arsitektur bergaya Eropa. Kedekatan dua bangunan bersejarah tersebut bukan sekadar persoalan letak, tetapi juga menjadi lambang bahwa masyarakat Sipirok telah lama hidup dalam suasana saling menghormati di tengah perbedaan keyakinan.
Sipirok juga memiliki catatan penting dalam sejarah Kekristenan di Tanah Batak. Di daerah ini terdapat gereja yang berkaitan dengan pelayanan misionaris Ludwig Ingwer Nommensen, tokoh yang dikenal luas sebagai penyebar agama Kristen di Tanah Batak. Untuk mengenang perjalanan sejarah tersebut, pada tahun 2011 Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan membangun monumen peringatan 150 tahun Kekristenan di luar Angkola.
Di sisi lain, kehidupan Islam di Sipirok juga berkembang dengan subur melalui berbagai lembaga pendidikan, masjid, pesantren, dan organisasi kemasyarakatan. Salah satunya adalah Muhammadiyah. Berdasarkan berbagai penelusuran, Muhammadiyah diperkirakan telah berkembang di Sipirok sejak sekitar tahun 1940-an atau bahkan sebelumnya. Sayangnya, hingga kini dokumentasi sejarah yang lengkap masih perlu terus ditelusuri agar perjalanan dakwah para pendahulu tidak hilang ditelan zaman.
Sipirok juga memiliki tempat istimewa dalam sejarah bangsa Indonesia. Dari daerah inilah lahir Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sekaligus Pahlawan Nasional. Tidak banyak yang mengetahui bahwa keluarga beliau memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah Sipirok. Orang tua beliau dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di daerah tersebut. Fakta ini menjadi bagian menarik dari sejarah yang patut terus digali dan diwariskan kepada generasi muda.
Selain itu, Sipirok juga merupakan tanah kelahiran Raja Inal Siregar, Gubernur Sumatera Utara yang sangat dikenal dengan semboyan “Marsipature Huta Na Be”, sebuah ajakan untuk membangun kampung halaman dengan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap daerah asal.
Bagi saya, Sipirok bukan sekadar sebuah kota kecil di Tapanuli Selatan. Ia adalah perpaduan antara sejarah, budaya, religiusitas, pendidikan, dan semangat kebangsaan. Kota ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan akar tradisi, dan perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Justru dari keberagaman itulah tumbuh kekuatan untuk saling menghormati dan bekerja sama. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
