Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Menjelang pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara, salah satu ikhtiar besar yang terus diupayakan Persyarikatan adalah menyukseskan implementasi SatuMu, sebuah platform digital yang menghimpun dan mengintegrasikan data Muhammadiyah dari seluruh Indonesia. Kehadiran SatuMu diharapkan menjadi fondasi lahirnya Satu Data Muhammadiyah, sehingga keberadaan, peran, dan kontribusi Persyarikatan dapat dipotret secara utuh dan akurat. Melalui sistem ini akan diketahui berbagai informasi penting, mulai dari jumlah anggota, amal usaha, struktur organisasi, hingga potensi yang dimiliki pada setiap tingkatan, dari ranting, cabang, daerah, wilayah, sampai Pimpinan Pusat. Data yang akurat akan menjadi dasar dalam memetakan kekuatan, mengenali kelemahan, serta menyusun langkah-langkah strategis bagi kemajuan Muhammadiyah di masa depan.
Program sebesar ini tentu layak kita dukung dan sukseskan bersama. Dalam proses pelaksanaannya mungkin masih dijumpai berbagai kendala, baik karena keterbatasan sumber daya manusia, kesiapan teknologi, maupun proses penyesuaian di masing-masing daerah. Namun, setiap perubahan besar memang selalu membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen bersama. Yang terpenting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan merupakan ikhtiar untuk menghadirkan tata kelola Persyarikatan yang semakin tertib, profesional, transparan, dan berkemajuan.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara kita berkomunikasi, belajar, bekerja, hingga mengelola organisasi kini semakin bergantung pada teknologi informasi. Organisasi yang mampu memanfaatkan teknologi dengan baik akan bergerak lebih cepat, mengambil keputusan lebih tepat, serta memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada anggotanya.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang telah melintasi lebih dari satu abad kembali menunjukkan kemampuannya membaca perkembangan zaman. Jika dahulu KH. Ahmad Dahlan melakukan pembaruan melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial, maka hari ini semangat pembaruan itu diwujudkan pula melalui transformasi digital. Dakwah tidak lagi hanya dilakukan melalui mimbar, sekolah, rumah sakit, dan universitas, tetapi juga melalui tata kelola organisasi yang modern dan berbasis data.
SatuMu bukan sekadar aplikasi, melainkan sebuah ekosistem digital yang menghubungkan berbagai layanan penting dalam Persyarikatan. Platform ini merupakan tindak lanjut dari amanah Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta untuk mewujudkan Satu Data Muhammadiyah. Sayangnya, di sebagian tempat masih ada warga Persyarikatan yang belum mengetahui bahwa SatuMu adalah keputusan Muktamar, bukan program yang tiba-tiba muncul atau sekadar kebijakan sesaat. Kehadirannya merupakan hasil keputusan tertinggi Persyarikatan yang lahir melalui proses permusyawaratan. Karena itu, keberhasilan implementasi SatuMu bukan hanya menjadi tanggung jawab Pimpinan Pusat, tetapi merupakan amanah bersama seluruh tingkatan Muhammadiyah, mulai dari ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga pusat.
Melalui e-KTAM, data keanggotaan Muhammadiyah dikelola secara nasional sehingga setiap anggota memiliki identitas digital yang terhubung dengan aktivitas organisasinya. Hal ini akan memudahkan proses pendataan, pelayanan, hingga pengembangan kader secara lebih terarah.
Tidak hanya itu, SatuMu juga menghadirkan DOM (Direktori Organisasi Muhammadiyah) yang menjadi pusat pengelolaan struktur organisasi. Melalui sistem ini, pembentukan kepengurusan baru, mutasi kepengurusan, hingga pembaruan data organisasi dapat dilakukan secara lebih cepat, rapi, dan terdokumentasi. Organisasi yang besar memerlukan administrasi yang tertib, sebab administrasi yang baik merupakan salah satu penopang keberhasilan gerakan.
Dalam aspek keuangan, hadir pula IuranMu, sebuah sistem yang dirancang agar pengelolaan iuran anggota menjadi lebih transparan, terverifikasi, dan terdistribusi secara digital hingga ke seluruh jenjang kepemimpinan. Selama ini, persoalan administrasi iuran sering menjadi tantangan di berbagai organisasi. Dengan sistem digital, akuntabilitas dan kepercayaan dapat semakin diperkuat.
Sementara itu, JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum) akan menjadi pusat berbagai keputusan, peraturan, dan dokumen hukum Muhammadiyah. Kehadiran sistem ini akan memudahkan setiap pimpinan memperoleh rujukan yang sama sehingga tata kelola organisasi semakin seragam dan memiliki kepastian administrasi.
SatuMu juga terintegrasi dengan aplikasi MASA, sehingga proses administrasi keanggotaan, pembayaran, maupun berbagai layanan lainnya dapat dilakukan dalam satu sistem yang saling terhubung. Inilah gambaran organisasi modern yang mengedepankan efisiensi tanpa mengurangi nilai-nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.
Sesungguhnya, data bukan sekadar angka-angka dalam komputer. Di balik setiap data terdapat wajah-wajah kader yang selama ini berjuang dengan ikhlas, terdapat amal usaha yang melayani masyarakat, terdapat masjid yang memakmurkan umat, sekolah yang mencerdaskan bangsa, rumah sakit yang melayani kemanusiaan, serta berbagai gerakan sosial yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan Muhammadiyah.
Karena itu, Satu Data Muhammadiyah bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa organisasi besar harus dikelola dengan baik. Data yang lengkap akan membantu pimpinan menyusun kebijakan yang lebih tepat, menentukan prioritas program, memperkuat pengkaderan, memperluas dakwah, hingga mempercepat pelayanan kepada masyarakat.
Lebih jauh lagi, data yang valid akan memperlihatkan wajah Muhammadiyah yang sebenarnya. Dari data tersebut akan terlihat jumlah anggota aktif, perkembangan ranting dan cabang, persebaran amal usaha, potensi kader, hingga wilayah-wilayah yang masih memerlukan perhatian khusus. Dengan demikian, setiap kebijakan tidak lagi hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di era sekarang, banyak keputusan penting lahir dari kekuatan data. Dunia usaha menggunakannya untuk membaca pasar, pemerintah menggunakannya untuk menyusun kebijakan, perguruan tinggi memanfaatkannya untuk penelitian, dan organisasi modern menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan tentu tidak boleh tertinggal dalam hal ini.
Sebagai warga Persyarikatan, kita patut memberikan dukungan penuh terhadap implementasi SatuMu. Jika hari ini masih ada proses penyesuaian, kendala teknis, atau keterbatasan di lapangan, hendaknya dipandang sebagai bagian dari proses belajar bersama. Yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan saling membantu agar seluruh ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga pusat dapat berjalan dalam satu sistem yang sama.
Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49, keberhasilan SatuMu akan menjadi salah satu warisan penting bagi masa depan Persyarikatan. Muktamar bukan hanya momentum memilih pimpinan, tetapi juga momentum memperkuat fondasi organisasi agar semakin adaptif menghadapi perubahan zaman. Muktamar juga menjadi saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa Muhammadiyah mampu mengelola organisasi besar ini dengan tata kelola digital yang modern, profesional, dan terpercaya.
Pada akhirnya, kekuatan Muhammadiyah tidak hanya diukur dari banyaknya amal usaha, luasnya jaringan organisasi, atau besarnya jumlah anggota. Kekuatan itu juga ditentukan oleh kemampuan mengelola seluruh potensi tersebut secara profesional, transparan, dan berbasis data. Ketika data tertata dengan baik, keputusan akan semakin berkualitas. Ketika organisasi dikelola secara modern, pelayanan akan semakin optimal. Dan ketika seluruh warga Persyarikatan bergerak dalam satu sistem, Muhammadiyah akan semakin kokoh sebagai gerakan dakwah yang mencerahkan umat, memajukan bangsa, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.
SatuMu bukan sekadar tentang digitalisasi. Ia adalah ikhtiar menyatukan langkah, menyatukan data, dan menyatukan visi. Sebab organisasi yang besar memerlukan data yang akurat, organisasi yang maju memerlukan tata kelola yang profesional, dan organisasi yang ingin bertahan melintasi zaman harus berani bertransformasi. Semoga ikhtiar ini menjadi salah satu bekal terbaik Muhammadiyah menyongsong abad kedua yang semakin mencerahkan Indonesia dan semesta. (*)
.






