Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Ada orang-orang yang hadir dalam sejarah bukan sekadar menjadi saksi, tetapi ikut menentukan arah perjalanan sebuah bangsa. Soekarno dan Mohammad Hatta adalah dua di antaranya. Keduanya kemudian dikenal sebagai Dwi Tunggal.
Dwi Tunggal bukan berarti Soekarno dan Hatta selalu memiliki pandangan yang sama. Justru sejarah menunjukkan keduanya memiliki karakter dan pemikiran yang berbeda. Soekarno adalah orator yang mampu menggerakkan massa dan membangkitkan keberanian. Hatta adalah intelektual yang tenang, tekun membaca, sistematis dalam berpikir dan kuat memegang prinsip.
Jika Soekarno kuat dalam menggerakkan, Hatta kuat dalam memperdalam gagasan.
Namun sejarah tidak membutuhkan keduanya menjadi sama. Perbedaan itu justru bertemu pada satu cita-cita besar: Indonesia merdeka.
Pada 17 Agustus 1945, keduanya berdiri dalam momentum yang menentukan. Soekarno membacakan Proklamasi, Hatta mendampinginya. Nama keduanya kemudian tercatat sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia.
Tetapi Dwi Tunggal tidak berlangsung selamanya. Perbedaan pandangan tentang demokrasi, kekuasaan dan arah negara akhirnya membawa keduanya pada jalan politik yang berbeda. Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada 1956.
Dari sini kita belajar bahwa berbeda pendapat tidak selalu berarti bermusuhan. Dalam perjuangan, seseorang dapat berbeda pandangan dengan sahabatnya tetapi tetap menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Ada ungkapan yang menarik: setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.
Soekarno dan Hatta telah menyelesaikan tugas zamannya. Mereka membuka pintu kemerdekaan. Tugas generasi berikutnya adalah mengisi kemerdekaan itu.
Kini, 81 tahun Indonesia merdeka, berbagai persoalan bangsa masih mendera. Kemiskinan, ketimpangan, korupsi, pendidikan, kualitas sumber daya manusia, penegakan hukum, kesenjangan antarwilayah, hingga tantangan teknologi dan disinformasi masih menjadi pekerjaan rumah.
Namun, persoalan yang belum selesai bukan alasan untuk kehilangan harapan. Tidak ada pemimpin yang sempurna dan tidak ada negara yang sempurna. Yang penting adalah kemauan untuk terus memperbaiki kekurangan.
Mencintai Indonesia bukan berarti mengatakan semuanya sudah baik. Mengkritik pemerintah juga tidak otomatis berarti membenci negara. Kritik justru dapat menjadi bagian dari kecintaan apabila dilakukan dengan niat memperbaiki.
Di sinilah pemimpin dan kepemimpinan menjadi wajah Indonesia.
Apa yang dilakukan pemimpin, bagaimana ia berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan rakyat, menghadapi kritik dan menyikapi perbedaan, akan ikut menentukan wajah bangsa di mata rakyat maupun dunia.
Kepemimpinan bukan sekadar persoalan jabatan. Ia adalah tentang keteladanan.
Pemimpin tidak harus selalu benar, tetapi harus bersedia belajar. Tidak harus sempurna, tetapi harus memiliki integritas. Tidak cukup pandai berbicara, tetapi juga harus mampu mendengar. Tidak hanya membuat kebijakan, tetapi juga mampu menjelaskan dan mengedukasi rakyat.
Bangsa sebesar Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu merawat persatuan di tengah perbedaan.
Soekarno dan Hatta memberi contoh bahwa kepemimpinan tidak harus seragam. Soekarno dengan keberanian dan kemampuan menggerakkan bangsa. Hatta dengan ketenangan, intelektualitas, kesederhanaan dan kekuatan prinsip.
Keduanya berbeda, tetapi pernah berdiri bersama untuk Indonesia.
Soekarno-Hatta dan Muhammadiyah
Menariknya, perjalanan Soekarno juga memiliki kedekatan historis dengan Muhammadiyah, terutama ketika ia berada di Bengkulu dan berinteraksi dengan lingkungan serta tokoh-tokoh Muhammadiyah. Pergulatan intelektual dan keislamannya menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang Soekarno dalam memahami bangsa dan agama.
Sementara Hatta memiliki titik temu dengan nilai-nilai yang juga menjadi perhatian Muhammadiyah: pendidikan, pencerdasan, ekonomi kerakyatan, kemandirian, etika sosial dan kehidupan kebangsaan.
Di sinilah kita melihat bahwa Indonesia dibangun oleh banyak arus pemikiran. Islam, nasionalisme, pendidikan, intelektualitas dan gerakan sosial tidak selalu harus dipertentangkan. Semuanya dapat menjadi energi untuk membangun bangsa.
Muhammadiyah kemudian merumuskannya dalam semangat Islam Berkemajuan: Islam yang mendorong manusia untuk berilmu, beramal, berkemajuan dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Semangat itu menemukan relevansinya dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.”
Bangsa yang cerdas bukan hanya bangsa yang banyak orang berpendidikan, tetapi bangsa yang mampu menggunakan ilmu untuk menyelesaikan persoalan. Semesta yang bercahaya bukan hanya tentang kemajuan di pusat-pusat kota, tetapi cahaya pendidikan, kesejahteraan, keadilan dan kesempatan yang dirasakan dari Sabang sampai Merauke, dari Aceh sampai Papua.
Maka, setelah 81 tahun merdeka, mungkin kita tidak membutuhkan Soekarno dan Hatta yang baru.
Kita membutuhkan manusia-manusia Indonesia yang berani seperti Soekarno, berpikir mendalam seperti Hatta, memiliki integritas, mencintai bangsa, terbuka terhadap perbedaan dan bersedia bekerja untuk kepentingan yang lebih besar.
Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan alasan untuk saling menjatuhkan.
Sebab kemerdekaan bukan pekerjaan satu generasi.
Soekarno dan Hatta telah mengerjakan bagian mereka.
Kini giliran kita mengerjakan bagian kita.
Orangnya boleh berganti, masanya boleh berubah, tetapi cita-cita tentang Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan bermartabat harus tetap hidup.
Semoga Indonesia terus menjadi rumah besar yang kokoh dan kukuh. Semoga para pemimpin mampu menjadi wajah bangsa yang menghadirkan keteladanan, persatuan, keadilan dan harapan.
Dan semoga semangat Islam Berkemajuan terus mendorong kita untuk mencerdaskan bangsa dan membuat semesta bercahaya.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

















