Oleh: Fadh Ahmad Arifan
Topik gelar Habib dan Sayyid belum selesai dibicarakan hingga kini. Majalah Tabligh termasuk media cetak kedua setelah majalah Tempo yang secara khusus membahasnya. Jika Tempo hanya mengambil sudut pandang pihak yang rata-rata dari organisasi NU, maka Majalah Tabligh di edisi kali ini mengambil sudut pandang dari Muhammadiyah.
Sebatas data yang berhasil dihimpun, artikel Prof. Syafiq A. Mughni dalam Majalah MATAN edisi Januari 2021 adalah satu-satunya tulisan yang terbit untuk menjelaskan sosok Habib atau Sayyid. Dalam artikel berjudul ‘Habaib’ tersebut belum menyuguhkan bagaimana sikapnya memandang keberadaan para habib ini. Atas dasar itu, tulisan yang terbit kali ini melengkapi diskursus seputar habib.
“Dari mana habib berasal? tentu dari bahasa Arab,” tulis Ahmad Taufik dalam majalah Tempo edisi 9 Februari 2009. Hubb, ahabbah-yuhibbu-hubban, menurut Kamus Arab-Inggris-Indonesia terbitan Al Maarif, Bandung, berarti cinta atau mencintai. Sementara Sayyid berasal dari saadah, ya siidu, siyadah yang berarti pimpinan atau ketua yang melayani (umat). Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka memaknai sayyid sebagai tuan atau sebutan untuk keturunan Rasulullah Muhammad SAW. Kamus Besar memperjelas kata itu dengan ‘sayidani’ yang berarti ‘tuan yang dua’, sebutan untuk dua cucu Nabi, yaitu Hassan dan Hussein.
Masih menurut Ahmad Taufik, di Indonesia kita mengenal Al-Attas (yang berarti bersin atau bangkis), As-Saqaf (atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid, besi/pandai besi), Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, Habsyah), Al-Jufri, dan sebagainya. Nama belakang itu berasal dari panggilan, profesi, atau asal-muasal, seperti nama marga di Tapanuli, Makassar, atau Jawa.
Mereka punya semacam “keistimewaan” yang tidak dimiliki kiai, ajengan bahkan seorang Buya. Misalnya, mereka punya konsep kafa’ah yang berbeda dengan ijma’ ulama. Dengan konsep kafaah versi mereka, ‘Syarifah’ putri seorang Habib atau Sayyid hanya dinikahkan dengan putra seorang Habib, bukan dengan anak diluar golongan mereka. Kasus seperti ini menimpa kawan saya yang dulunya aktivifis PMII dan anak seorang kiai di pulau garam. Dia menjalin hubungan dengan seorang syarifah asal Bangil, hanya saja orang tua syarifah tadi tak merestui sama sekali.
Tapi tak semua perempuan bergelar syarifah menjalani tradisi nyeleneh itu. Teringat saya akan Fessy Alwi Assegaf. Mantan penyiar metro TV ini dinikahi Taufik Basari, politikus partai Nasdem. Selain Fessy, jangan lupa Rahma Sarita Al-Jufri. Jika dilihat marga yang tersemat, Rahma tergolong ‘syarifah’. Namun mantan presenter Metro TV ini tercatat pernah dinikahi seorang perwira polisi.
Di Muhammadiyah, orang bergelar habib apalagi bermodal mengaku-ngaku keturunan Nabi tidak laku. Mereka dianggap warga biasa saja. Sebagaimana yang saya saksikan saat PDM kota Malang mengundang Habib ahmad zein al-Kaff dalam sebuah kajian. Jamaah dan elit Muhammadiyah hanya berjabat tangan dengan beliau, tanpa diciumi tangannya apalagi dipeluk peluk tubuhnya. Berbeda dengan gelar Buya. Gelar prestisius ini tidak bisa sembarangan disandang elit Muhammadiyah. Baru buya Hamka dan buya Sutan Mansur yang pantas menyandangnya. Tentu karena reputasi akhlak dan keilmuannya, bukan karena tiba-tiba dimunculkan begitu saja.
Lembaran sejarah menunjukkan gelar habib malah ditentang organisasi al-Irsyad. Ini organisasi yang mewadahi warga Arab yang juga tak pernah mengaku-ngaku keturunan Nabi. Oh ya, sosok Munir bin Thalib pernah jadi anggota al-Irsyad di kota Batu, Jawa Timur. Reputasinya hingga kini harum tanpa bermodal mengaku-ngaku keturunan Nabi. Selain al-Irsyad, ada ulama seperti Ahmad Hassan dari Persatuan Islam (Persis) yang tak suka dengan budaya feodal ini.
Lain halnya di kalangan Nahdlatul Ulama, PERTI, al-Khairat dan sebagian tarekat sufi, para habib ini laku keras. Dihormati mati-matian melebihi rasa hormatnya kepada kiainya. Misalnya kalau kiai dan habib datang ke acara pengajian, pasti yang diburu barokahnya adalah sang habib.
Ada tokoh nasional yang sebetulnya bagi kalangan NU, PERTI dan al-Khairat perlu dipanggil habib atau sayyid. Yang terkenal adalah Raden Saleh, pelukis tersohor abad 19 M. Tak pernah sekalipun menyebut dirinya ‘Habib’. Dikutip dari majalah Tempo edisi 13 September 2010, nama asli beliau yakni Sayid Salih bin Husain bin Yahya. Kakeknya orang Hadramaut yang mengawini putri Bupati Lasem. Selain Raden Saleh, seorang anggota keluarga Ba’abud di Pekalongan bahkan mengganti namanya menjadi Raden Suroatmojo.
Serupa dengan Raden Saleh, Kiai Abdul Hamid di Pasuruan, tokoh kharismatik yang dianggap waliyullah di NU tak pernah melabeli dirinya habib atau sayyid. Padahal beliau punya marga Basyaiban. Quraish Shihab juga tidak pernah menonjolkan gelar habibnya ketika meniti karir sebagai ahli tafsir hingga menjadi Menteri Agama. Sama halnya dengan Alwi Shihab, saudara kandung Quraish yang punya dua gelar Ph.D di Universitas Ain Syams, Mesir dan Universitas Temple, Amerika serikat. Sepanjang menjadi akademisi dan politisi, tak pernah sekalipun menonjolkan gelar ‘Habib’ atau ‘Sayyid’.
“Tidak usah berkata dirimu habib, menyatakan profesor, saya doktor. Biar dari kegiatanmu orang berkata Oh ini wajar dinamai Habib, ini wajar jadi profesor,” ujar Quraish saat menjawab pertanyaan salah satu putrinya di kanal Youtube.
Akhir kata sebelum menyudahi topik habib ini, satu hal yang tak banyak disadari kebanyakan orang Indonesia, Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khatamul Anbiya tak punya anak laki-laki yang hidup hingga dewasa, menikah dan beranak pinak. Ada dua hikmah dibalik keputusan Allah ta’ala. Pertama, jika putra Rasul dibiarkan hidup, pasti akan dianggap Nabi penerus risalah beliau. Kedua, untuk mengantisipasi kelompok tertentu di masa depan yang menyalahgunakan nama besarnya.
Lantas para habib ini nasabnya sambung ke siapa?. Bukankah di tradisi bangsa Arab itu garis keturunan dari jalur laki-laki?. Marilah jalani tes DNA untuk membuktikannya! Wallahu’allam. (*)
Penulis adalah alumnus Studi Ilmu Agama Islam, UIN Malang. Kini aktif sebagai pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di Malang

















