Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Saat ini di Jawa Tengah berlangsung Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang dan Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah di Solo. Dua perhelatan organisasi otonom Muhammadiyah ini bukan sekadar forum permusyawaratan dan pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi gambaran bagaimana Persyarikatan menyiapkan generasi masa depan.
Saya menganalogikan Tapak Suci dan Nasyiatul Aisyiyah seperti dua busur panah Muhammadiyah.
Tapak Suci menempa keberanian, kedisiplinan, ketangguhan dan karakter melalui tradisi kependekarannya. Nasyiatul Aisyiyah mempunyai ruang yang berbeda: menjadi tempat perempuan muda bertumbuh, belajar, berorganisasi dan mempersiapkan kepemimpinan.
Di hadapan peserta Muktamar Nasyiatul Aisyiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan pesan yang kuat: perempuan muda harus memimpin peradaban masa depan.
Pesan ini menunjukkan bahwa perempuan muda Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi penerus. Mereka harus dipersiapkan menjadi pemimpin, penggerak perubahan dan bagian penting dalam membangun masa depan.
Begitu pula Tapak Suci. Kader tidak cukup hanya kuat secara fisik, tetapi juga harus kuat karakter, beradab dan memiliki tanggung jawab.
Dua-duanya berbeda, tetapi mempunyai tujuan yang sama: menyiapkan anak-anak panah Muhammadiyah agar melesat menuju masa depan.
Sebab organisasi yang besar bukan hanya yang memiliki banyak amal usaha dan program, tetapi yang mampu memastikan adanya generasi yang siap melanjutkan perjuangan.
Kita tidak membutuhkan kader yang semuanya sama. Ada yang tumbuh melalui Tapak Suci, Nasyiatul Aisyiyah, IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, ‘Aisyiyah dan berbagai ruang kaderisasi lainnya. Jalannya boleh berbeda, tetapi ruh pengabdiannya harus tetap sama.
Anak panah yang baik bukan hanya yang melesat cepat, tetapi yang memiliki arah.
Begitu pula kader Muhammadiyah. Tidak cukup pintar, berani atau memiliki jabatan. Ia harus memiliki arah perjuangan, akhlak dan kesediaan untuk mengabdi.
Muktamar 49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Sumatera Utara tahun 2027 nanti adalah amanah yang lebih besar. Tetapi dari Semarang dan Solo kita sudah diingatkan: masa depan Persyarikatan selalu dimulai dari kaderisasi hari ini.
Dua busur. Dua karakter. Tetapi satu tujuan.
Menyiapkan generasi Muhammadiyah agar melesat lebih jauh, lebih kuat dan lebih bermanfaat bagi umat, bangsa dan kemanusiaan. (*)

















