Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Rencana kunjungan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., pada 25–26 Agustus 2026 terus dimatangkan oleh Pemerintah Kabupaten Simeulue bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Simeulue. Kunjungan ini terasa begitu istimewa karena Simeulue merupakan kabupaten kepulauan di Provinsi Aceh yang berada di Samudera Hindia dan termasuk kawasan terluar Indonesia. Daerah ini dikenal memiliki bentang alam yang indah, kekayaan pesona bahari yang memikat, serta masyarakat yang beragam dengan kehidupan yang rukun dan harmonis. Bagi masyarakat Simeulue, kehadiran Mendikdasmen bukan sekadar kunjungan pejabat negara, melainkan momentum untuk membangkitkan semangat, menumbuhkan optimisme, sekaligus mempertegas kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan keluarga besar Muhammadiyah. Di daerah yang selama ini menghadapi berbagai tantangan geografis, kehadiran seorang menteri menjadi pesan bahwa tidak ada sejengkal wilayah Indonesia yang boleh tertinggal dalam memperoleh perhatian, terutama di bidang pendidikan.
Semangat itu tampak dalam audiensi yang dilakukan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Simeulue, Fauzan, S.Ag., M.H., didampingi Sekretaris Usman, S.Pd.I., dan Wakil Ketua Bidang Pendidikan Maulana Malik Safii, S.Si., dengan Sekretaris Daerah Simeulue, Asludin, S.E., M.Kes., pada Rabu, 5 Agustus 2026. Pertemuan tersebut membahas berbagai persiapan menyambut kehadiran Mendikdasmen yang dijadwalkan membuka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal se-Aceh, sekaligus meninjau sejumlah sekolah penerima Dana Revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pemerintah Kabupaten Simeulue menyambut hangat rencana kunjungan tersebut. Sekretaris Daerah menyampaikan rasa syukur atas dipilihnya Simeulue sebagai lokasi penyelenggaraan Rakorwil sekaligus berharap kunjungan Mendikdasmen dapat membawa perhatian yang lebih besar terhadap kemajuan pendidikan di daerah 3T. Harapan itu lahir dari kenyataan bahwa daerah kepulauan memiliki tantangan yang berbeda dengan wilayah daratan, baik dalam aspek akses, pemerataan tenaga pendidik, sarana prasarana, maupun pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Kunjungan Prof. Abdul Mu’ti memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memenuhi agenda pemerintahan. Selain menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, beliau adalah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dikenal memiliki semangat, karakter, dan gaya kepemimpinan yang khas. Kesederhanaannya, keluasan wawasan, kemampuan berkomunikasi yang menyejukkan, serta konsistensinya dalam memajukan dunia pendidikan menjadikan beliau sosok yang dicintai dan dihormati. Tidak mengherankan jika kehadirannya selalu dinantikan, bukan hanya oleh warga Muhammadiyah, tetapi juga oleh masyarakat luas yang melihat beliau sebagai figur pemersatu, pendidik, dan negarawan yang mengedepankan ilmu pengetahuan, dialog, serta kemajuan bangsa.
Muhammadiyah sendiri sejak kelahirannya lebih dari satu abad yang lalu telah menjadikan pendidikan sebagai salah satu pilar utama gerakan dakwah. Sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Muhammadiyah berdiri di berbagai penjuru negeri sebagai bukti bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bagian dari ibadah. Kehadiran Prof. Abdul Mu’ti di Simeulue karena itu juga menjadi simbol bahwa Muhammadiyah tidak pernah memandang jauh atau dekatnya suatu daerah. Selama ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan pendidikan, di situlah Muhammadiyah berusaha hadir memberi manfaat.
Audiensi antara Pemerintah Kabupaten Simeulue dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah juga memberikan pelajaran penting tentang arti kolaborasi. Kemajuan pendidikan tidak mungkin diwujudkan hanya oleh pemerintah atau organisasi masyarakat secara sendiri-sendiri. Sinergi, saling mendukung, dan kesamaan visi merupakan modal utama untuk menghadirkan perubahan yang nyata. Ketika pemerintah dan Muhammadiyah berjalan beriringan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya sekolah-sekolah yang lebih baik, tetapi juga masa depan generasi penerus bangsa.
Lebih dari itu, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Simeulue kepada Indonesia. Selama ini Simeulue dikenal karena keindahan alamnya, keramahan masyarakatnya, dan kearifan lokal Smong yang menjadi pelajaran dunia dalam mitigasi bencana tsunami. Kini, Simeulue juga ingin dikenal sebagai daerah yang terus bergerak membangun kualitas pendidikan dan sumber daya manusianya.
Semoga kunjungan Mendikdasmen nanti tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi awal lahirnya perhatian, kebijakan, dan program yang semakin berpihak kepada daerah-daerah kepulauan dan kawasan terluar Indonesia. Sebab, membangun Indonesia tidak cukup hanya dari pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga harus dimulai dari pulau-pulau yang menjadi beranda terdepan negeri ini.
Dari Simeulue, kita belajar bahwa letak geografis tidak pernah membatasi cita-cita. Pulau yang berdiri teguh di tepian Samudera Hindia ini mengajarkan bahwa harapan akan selalu menemukan jalannya ketika pemerintah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah bergandengan tangan.
Pada hakekatnya , kemajuan Indonesia tidak hanya diukur dari megahnya pembangunan di ibu kota, tetapi juga dari senyum anak-anak yang belajar dengan penuh semangat di ruang-ruang kelas yang berada jauh di ujung negeri. Ketika cahaya pendidikan menyinari Simeulue, sesungguhnya cahaya itu juga sedang menerangi masa depan Indonesia. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

