Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Saya mendapatkan informasi rencana dan persiapan kunjungan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga menteri Pendidikan dasar dan menengah RI KH Abdul Mu’ti ke kepulauan Simeulue. Sayapun mencari informasi jejak dan perkembangan Muhammadiyah di Kepulauan yang indah itu
Ada banyak cara melihat perjalanan Muhammadiyah. Tidak hanya dari universitas, rumah sakit, sekolah atau amal usaha yang besar, tetapi juga dari tempat-tempat yang jauh dari pusat perhatian. Simeulue adalah salah satunya.
Simeulue merupakan kabupaten kepulauan di sisi barat Provinsi Aceh. Untuk mencapainya dapat melalui jalur laut dari Singkil, Labuhan Haji, Meulaboh dan Calang, Aceh Jaya, atau melalui jalur udara dengan akses perjalanan melalui Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, maupun Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar. Kondisi geografis ini tentu membuat perjalanan dakwah, pendidikan dan pengembangan organisasi memiliki tantangan tersendiri.
Namun justru di tengah kondisi kepulauan itulah Muhammadiyah tumbuh.
Berdasarkan data yang saya lihat, terdapat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Simeulue, 9 Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan sedikitnya 29 Pimpinan Ranting Muhammadiyah.
Sembilan cabang tersebut adalah PCM Kampung Oie, Labuhan Bajau, Nasreuhe, Salang, Sibigio, Simeulue Barat, Simeulue Tengah, Simeulue Timur dan Sinabang.
Sementara ranting yang tercatat antara lain PRM Putra Jaya, Sefoyan, Sibau, Sinabang, Suak Buluh, Suka Jaya, Suka Karya, Suka Maju, Ujung Tinggi, Lakubang, Lamayang, Lambaya, Lattik, Lauke, Laure-E, Linggi, Luan Sorep, Lugu, Pulau Siumat, Air Dingin, Air Pinang, Amaiteng Mulia, Amiria Bahagia, Dihit, Ganting, Kampung Aie, Kota Batu, Kuala Makmur dan Kuta Baru.
Nama-nama itu bukan sekadar daftar administrasi organisasi. Di balik setiap nama kampung terdapat orang-orang yang pernah menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, harta dan pengabdian untuk menjaga Muhammadiyah tetap hidup.
Jejak yang Belum Selesai Ditulis
Sampai sekarang belum ada catatan resmi yang memastikan kapan Muhammadiyah pertama kali hadir di Simeulue. Berdasarkan penuturan para tokoh Muhammadiyah setempat, ada yang menyebut sejak sekitar tahun 1950-an, bahkan ada pula yang menyebut kemungkinan sudah hadir sejak tahun 1940-an.
Keterangan tentang tahun 1940-an tentu masih perlu ditelusuri dan dibuktikan melalui penelitian sejarah. Tetapi ada konteks menarik yang tidak boleh diabaikan. Pada masa lalu Simeulue dikenal sebagai pulau penghasil cengkeh yang terkenal. Aktivitas perdagangan dan hubungan masyarakat dengan berbagai daerah tentu membuka ruang bagi mobilitas manusia, gagasan dan jaringan keagamaan.
Bisa jadi, jalur perdagangan dan perantauan ikut menjadi salah satu pintu masuk gagasan pembaruan Islam ke pulau ini.
Karena itu, sejarah Muhammadiyah di Simeulue layak ditelusuri lebih serius. Sejarah organisasi tidak selalu tersimpan dalam arsip resmi. Kadang ia hidup dalam ingatan para tokoh, cerita keluarga, foto lama, dokumen sekolah dan kisah para perintis.
Anak-Anak Simeulue yang Pergi Menuntut Ilmu
Salah satu jalur penting perkembangan Muhammadiyah tampaknya melalui pendidikan.
Menurut penuturan para tokoh Muhammadiyah, dahulu banyak anak-anak Simeulue pergi menuntut ilmu ke Medan dan Padang Panjang. Mereka meninggalkan pulau, belajar jauh dari kampung halaman, kemudian kembali membawa ilmu dan pengalaman.
Padang Panjang sendiri memiliki tradisi pendidikan Islam dan kaderisasi Muhammadiyah yang kuat. Kulliyatul Muballighin Muhammadiyah Padang Panjang menjadi salah satu tempat penggemblengan kader mubaligh. Buya Hamka juga pernah mengajar dan menggembleng banyak orang dalam tradisi pendidikan Islam di Padang Panjang.
Mereka yang pergi belajar mungkin pulang membawa ijazah, tetapi boleh jadi juga membawa gagasan pembaruan, semangat dakwah dan cita-cita membangun masyarakat.
Mereka pergi mencari ilmu.
Kemudian pulang untuk mengabdi.
Begitulah salah satu cara peradaban dibangun.
Dari Ranting menuju Sekolah
Hari ini jejak perjuangan itu terlihat semakin nyata. Di Kota Sinabang terdapat kompleks Sekolah Muhammadiyah dari TK sampai SMA.
Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah di Simeulue tidak hanya membangun struktur organisasi, tetapi juga membangun kesinambungan pendidikan dari anak usia dini hingga pendidikan menengah.
Di sinilah pendidikan menjadi investasi peradaban. Anak-anak yang belajar hari ini kelak dapat menjadi guru, dokter, pengusaha, birokrat, ulama, ilmuwan atau pemimpin masyarakat.
Sekolah hari ini adalah pemimpin masa depan.
Menarik pula bahwa Ketua PDM Kabupaten Simeulue saat ini, Fauzan, M.Ag., berasal dari Batusangkar, Sumatera Barat. Ini memperlihatkan bahwa Muhammadiyah tidak dibatasi oleh asal daerah. Yang menyatukan para kader bukan tempat kelahiran, tetapi nilai, visi dan pengabdian.
Jangan Hanya Melihat Gedung Besar
Dari Simeulue saya kembali diingatkan bahwa ukuran kemajuan Muhammadiyah jangan hanya dilihat dari gedung yang besar.
Kita tentu bangga melihat universitas, rumah sakit, sekolah dan amal usaha yang berkembang. Tetapi jangan lupa bahwa semuanya berawal dari akar.
Ranting adalah akar Muhammadiyah.
Sebuah ranting yang sederhana tetapi hidup bisa lebih berarti daripada gedung besar yang tidak lagi memiliki denyut jamaah.
Di balik ranting ada guru, mubaligh, tokoh masyarakat, donatur, kader dan keluarga yang mungkin tidak pernah masuk berita. Mereka bekerja dalam kesunyian, tetapi dari tangan merekalah sejarah sering kali dibangun.
Menunggu Babak Baru di Simeulue
Perjalanan panjang itu kini sedang menuju momentum baru.
Pada akhir Agustus 2026 direncanakan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, KH Abdul Mu’ti, berkunjung ke Pulau Simeulue.
Jika terlaksana, kunjungan tersebut tentu bukan sekadar agenda seorang pejabat atau pimpinan organisasi. Ia dapat menjadi momentum bersejarah bagi pendidikan dan Muhammadiyah di Pulau Simeulue.
Bayangkan perjalanan sejarahnya.
Dulu anak-anak Simeulue pergi jauh ke Medan dan Padang Panjang untuk mencari ilmu. Kini di tanah sendiri telah berdiri kompleks pendidikan Muhammadiyah dari TK sampai SMA.
Dulu para perintis menanam benih. Kini benih itu tumbuh menjadi PDM, 9 cabang dan sedikitnya 29 ranting. Dan besok, anak-anak yang belajar di sekolah Muhammadiyah Simeulue akan menentukan wajah pulau tersebut.
Simeulue dan Pelajaran tentang Peradaban
Simeulue mengajarkan bahwa jauh dari pusat bukan berarti jauh dari kemajuan. Pulau bukan berarti terisolasi dari peradaban.
Dari pulau, gagasan dapat bergerak.
Dari perdagangan, manusia dan pengetahuan dapat berkelana.
Dari pendidikan, kader dapat lahir.
Dari ranting, gerakan tetap membumi.
Dan dari sekolah, masa depan disiapkan.
Karena itu, ketika melihat nama-nama cabang seperti Kampung Oie, Labuhan Bajau, Nasreuhe, Salang, Sibigio, Simeulue Barat, Simeulue Tengah, Simeulue Timur dan Sinabang, lalu membaca nama-nama ranting yang tersebar hingga pelosok pulau, saya tidak hanya melihat struktur organisasi.
Saya melihat jejak perjuangan manusia.
Ada yang mungkin sudah wafat, tetapi amalnya masih dirasakan. Ada yang dahulu mengajar, kini muridnya menjadi penggerak. Ada yang mewakafkan tanah, kini berdiri sekolah atau tempat dakwah. Ada yang pergi belajar jauh, lalu pulang membangun kampung.
Kita sebenarnya tidak memiliki sejarah. Kita hanya menerima amanah dari mereka yang lebih dahulu menanam.
Tugas kita adalah merawatnya agar tidak berhenti pada satu generasi.
Jika akhir Agustus nanti KH Abdul Mu’ti benar-benar menjejakkan kaki di Pulau Simeulue, kunjungan itu akan menjadi bagian menarik dari mata rantai sejarah tersebut: dari para perintis yang menanam benih sejak puluhan tahun lalu, para kader yang menghidupkan cabang dan ranting hari ini, hingga generasi baru yang akan membawa pendidikan dan Muhammadiyah menuju masa depan.
Dari pulau, ilmu bergerak. Dari ranting, kader tumbuh. Dari sekolah, masa depan disiapkan. Dari generasi ke generasi, cahaya Muhammadiyah terus menyala.
Simeulue bukan sekadar pulau di ujung barat Indonesia. Ia adalah salah satu halaman kecil yang ikut menulis sejarah besar Muhammadiyah dan pendidikan Indonesia. (*)










