Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Enam Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Sumatera Utara telah ditetapkan sebagai tuan rumah sekaligus daerah penyangga penyelenggaraan Muktamar 49 Muhammadiyah~Aisyiyah tahun 2027, yaitu Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Penetapan ini tentu bukan sekadar pembagian wilayah kerja, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Enam daerah inilah yang nantinya akan menjadi pintu masuk sekaligus wajah Muhammadiyah Sumatera Utara dalam menyambut para peserta dan penggembira Muktamar.
Namun pada hakikatnya, Muktamar bukan hanya menjadi tanggung jawab enam daerah tersebut. Seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Sumatera Utara adalah penyangga yang memiliki peran sesuai dengan kapasitas dan potensinya masing-masing. Sebab, Muktamar adalah hajatan besar Persyarikatan yang hanya akan berhasil apabila dibangun dengan semangat gotong royong, kolaborasi, dan rasa memiliki dari seluruh warga Muhammadiyah.
Muktamar ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi Muhammadiyah Sumatera Utara. Untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, Sumatera Utara dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah. Sebuah kehormatan yang belum tentu mudah terulang dalam waktu dekat. Karena itu, Muktamar ke-49 bukan sekadar agenda lima tahunan, tetapi sebuah peristiwa sejarah yang akan dikenang oleh generasi Muhammadiyah hari ini dan masa depan.
Kesempatan menjadi bagian dari sejarah tentu tidak datang setiap saat. Karena itu, setiap pimpinan, kader, dan warga Persyarikatan memiliki ruang untuk memberi kontribusi, sekecil apa pun. Tidak semua orang akan berdiri di atas panggung, tetapi semua dapat mengambil bagian dalam menyukseskan perhelatan besar ini. Inilah makna ber-Muhammadiyah yang sesungguhnya, bekerja bersama tanpa harus selalu terlihat.
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah pesan WhatsApp dari sahabat kami, Ibrahim Nainggolan, Sekretaris PDM Kota Medan. Pesan itu sederhana, tetapi mengandung semangat yang besar. Beliau mengusulkan agar PDM Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi memanfaatkan momentum setelah acara serah terima STIKes Indah di arena Muktamar untuk duduk bersama membahas penyelenggaraan pengajian gabungan sebagai bagian dari pemanasan menuju Muktamar Muhammadiyah ke-49.
Tentu saja saya menyambut baik usulan tersebut. Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan kami memang telah berbincang ringan mengenai bagaimana daerah-daerah tuan rumah dan penyangga mulai menyiapkan diri, bukan hanya untuk memastikan suksesnya penyelenggaraan Muktamar, tetapi juga menghadirkan suasana yang semarak, menggembirakan, dan mencerminkan semangat Islam Berkemajuan. Maka, gagasan memulai konsolidasi melalui pengajian bersama merupakan langkah yang tepat.
Percakapan kami pun berlanjut. Saudara Ibrahim kemudian menyampaikan gagasan lanjutan yang patut dipertimbangkan. Menurut beliau, pengajian gabungan tersebut dapat dilaksanakan pada November 2026 bertepatan dengan Milad Muhammadiyah. Momentum ini tentu sangat tepat karena dapat menjadi bagian dari syiar Persyarikatan sekaligus membangun atmosfer Muktamar yang semakin terasa.
Beliau juga mengusulkan agar penceramah dihadirkan dari jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah sehingga pengajian tersebut menjadi ruang penguatan ideologi, dakwah, dan wawasan keislaman. Sementara itu, jamaah diharapkan berasal dari seluruh PDM yang telah ditetapkan sebagai daerah tuan rumah dan penyangga. Sebuah gagasan yang sederhana, tetapi memiliki daya dorong yang besar.
Saya melihat usulan tersebut bukan sekadar merencanakan sebuah pengajian. Lebih dari itu, ini adalah latihan membangun sinergi. Sebelum jutaan penggembira datang ke Sumatera Utara, sebelum ribuan tamu memenuhi arena Muktamar, yang lebih dahulu harus hadir adalah semangat kebersamaan di antara pimpinan dan warga Persyarikatan.
Pengajian gabungan dapat menjadi ruang bertemunya pikiran, pengalaman, dan harapan. Di sana akan lahir komunikasi yang lebih cair, saling mengenal antarpimpinan daerah, serta tumbuh rasa saling memiliki terhadap Muktamar. Tidak kalah penting, usulan pembentukan grup komunikasi bersama juga menjadi langkah kecil yang akan memudahkan koordinasi berbagai agenda berikutnya.
Sering kali kita terlalu fokus mempersiapkan bangunan fisik, padahal kekuatan terbesar Muhammadiyah justru berada pada manusianya. Gedung dapat dibangun dalam hitungan bulan, tetapi kebersamaan, kepercayaan, dan kekompakan membutuhkan proses yang terus dirawat. Karena itu, konsolidasi melalui pengajian, silaturahim, dan komunikasi yang intensif merupakan investasi sosial yang nilainya sangat besar.
Saya percaya, apabila enam daerah tuan rumah dan penyangga mampu menjadi contoh dalam membangun kolaborasi, semangat itu akan mengalir ke seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Sumatera Utara. Muktamar pun tidak hanya sukses sebagai sebuah acara, tetapi juga melahirkan warisan berupa jejaring, persaudaraan, dan budaya kerja sama yang akan terus hidup setelah Muktamar berakhir.
Sering kali sejarah tidak dimulai oleh sesuatu yang besar. Ia lahir dari niat yang tulus, dari sebuah percakapan sederhana, dari secangkir kopi, atau bahkan dari sebuah pesan WhatsApp yang mengajak orang-orang baik untuk duduk bersama. Dari situlah tumbuh kepercayaan, lahir kolaborasi, dan terbangun langkah-langkah besar.
Semoga setiap ikhtiar yang dilakukan hari ini menjadi bagian dari amal saleh kolektif kita. Mari menyambut Muktamar 49 Muhammadiyah bukan sekadar sebagai agenda organisasi, tetapi sebagai momentum bersejarah untuk memperkuat ukhuwah, memperluas dakwah, dan meneguhkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan. Dari Sumatera Utara, mari kita bersama-sama menghadirkan Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






