TAJDID.ID~Surabaya 🔳 Syukur alhamdulilah di suasana memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 81 pada tahun 2026 ini, kami dari Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur menggelar Dialog Kebangsaan sebagai bentuk komitmen untuk berpartisipasi menguatkan nasionalisme untuk kemajuan dan kejayaan bangsa yang berdaulat, adil makmur dan sejahtera.
Demikian disampaikan Ust Achmad Tholhah selaku Ketua LDK PWM Jatim, pada acara Dialog Kebangsaan pada hari Kamis (7/8/2026) di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di jalan Kertomenanggal Surabaya.
Lanjut beliau, Dialog Kebangsaan ini menghadirkan Komunitas Pejuang Damai, yang berasal dari eks Narapidana Teroris, yang sudah kesekian kalinya melakukan penguatan wawasan kebangsaan dalam rangka merawat
dan menjaga NKRI, sebagaimana yang menjadi kebijakan Muhammadiyah, bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila merupakan Darul Ahdi Wasyahadah untuk diwujudkan dan dilaksanakan dengan sebaik baiknya.
“Semoga dengan kegiatan Dialog Kebangsaan ini Komunitas Pejuang Damai semakin kuat mencintai NKRI dan terus berkarya dengan baik untuk mengisi kemerdekaan yang sudah diraih”. Jelasnya.
Dr. HM. Sholihin Fanani selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dalam sambutannya menegaskan, Jangan mengajarkan Muhammadiyah tentang NKRI, karena Muhammadiyah yang melahirkan NKRI.
“Dan kita harus berhati hati dalam bernarasi, kehadiran KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk memperkuat bangsa Indonesia dibidang pendidikan dan kesehatan” . Jelasnya.
Muhammad Afdillah Ph.D selaku anggota LDK PWM Jawa Timur sebelum dialog dibuka memaparkan materi dengan judul Menjadi Indonesia Memaknai Agama, Kebhinekaan dan Konsensus NKRI. Lebih jauh beliau menyampaikan, Muhammadiyah menegaskan bahwa NKRI berdasarkan Pancasila adalah hasil konsensus nasional (Darul Ahdi) yang sah secara Islami. Muhammadiyah memilih jihad konstitusional dan pembuktian melalui amal usaha (Darul Syahadah), dari pada berjuang mendirikan negara Islam secara formal.
Lanjut beliau, dalam Islam menepati janji dan konsensus adalah perintah agama yang sangat mendasar. Indonesia adalah arena bagi umat Islam untuk berlomba lomba memberikan kesaksian tentang kebaikan Islam, melalui kontribusi nyata, membangun peradaban keadilan, Kesejahteraan dan keharmonisan.
“Identitas keindonesiaan harus dijaga dengan menyadari bahwa NKRI adalah hasil konsensus nasional yang melibatkan peran besar dari tokoh tokoh Islam”. Jelasnya.
Muhammadiyah menawarkan Islam Berkemajuan sebagai jalan tengah (Wasyatiyyah) yang menyeimbangkan kemurnian aqidah dengan modernitas.
Identitas keindonesiaan akan rapuh jika rakyat masih terbelenggu oleh kemiskinan dan kebodohan. Kemakmuran dan keadilan adalah musuh sejati dari ideologi ekstremis. Di era modern pembelaan terhadap negara tidak lagi melalui angkat Senjata, melainkan melalui jalur hukum dan peradaban untuk memastikan kebijakan negara tidak melenceng dari cita cita kemerdekaan. Pesannya.
Suasana dialog begitu aktif dan interaktif, meski sudah berjalan dua jam lebih peserta sangat antusias dengan diskusi kebangsaan. Meski ada perbedaan pandang antar peserta dan antara peserta dan pemateri, mereka antusias untuk mendengarkan dan belajar.
Komunitas Pejuang Damai dalam dialog tersebut membeberkan pengalaman saat itu, dan mampu memberikan argumentasi konstruktif sebagai bentuk peran kebangsaan wujud kesaksian menebar kebaikan, kedamaian dan persatuan. (*)
Penulis : Andi Hariyadi

















