Oleh: Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Tak sengaja saya justru memancing sebuah dialog, berawal dari tulisan Saudara Amrizal yang mungkin secara jarak jauh dari pandangan, tetapi dekat di hati. Dari Kota Jogja, tulisan itu kemudian bersambut dengan percakapan para kader di Sumatera Utara.
Bermula dari istilah ikan besar, ikan kecil dan kolam, percakapan ringan itu perlahan mengarah kepada Muhammadiyah. Begitulah menariknya percakapan para kader; sering berlangsung tanpa sekat, tanpa melihat status sosial maupun posisi struktural.
Dari canda dan perbedaan pandangan justru tampak kepedulian yang sama: bagaimana Muhammadiyah tetap tumbuh, berkemajuan, dan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ada yang mengatakan, kalau sudah mumpuni dan siap lahir batin, maka seseorang harus berani menjadi ikan besar di kolam yang besar. Sebuah ungkapan yang dalam konteks tertentu tentu ada benarnya. Kader Muhammadiyah memang harus memiliki keberanian untuk berkembang, memperluas kapasitas dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
Tetapi saya kemudian bergurau, bagaimana kalau sebaliknya? Kadang ikan tidak bisa besar karena ikan besar yang lain tidak membagi makanan.
Dari sinilah diskusi menjadi menarik.
Dalam dunia perikanan, mungkin memang tidak ada istilah membagi makanan. Telusuri luasnya lautan, sepanjang alur sungai, di setiap riaknya dan di balik batu mungkin ada makanan. Ikan harus mencari sendiri dan bertahan hidup.
Tetapi apakah logika itu bisa kita terapkan begitu saja dalam Muhammadiyah?
Menurut saya, tidak sesederhana itu. Muhammadiyah bukan laut bebas tempat semua ikan berebut makanan. Muhammadiyah adalah organisasi kader yang dibangun dengan nilai, adab, ukhuwah dan semangat ta’awun.
Kompetisi tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Bahkan kompetisi yang sehat diperlukan. Kader harus didorong untuk menjadi lebih baik, lebih berilmu, lebih profesional, lebih kreatif dan lebih siap menerima amanah.
Tetapi kompetisi berbeda dengan perebutan.
Kompetisi membuat kita berusaha menjadi lebih baik. Perebutan yang tidak sehat justru membuat kita berusaha agar orang lain tidak menjadi lebih baik.
Kompetisi melahirkan prestasi. Perebutan kepentingan dapat melahirkan intrik.
Kompetisi memperbesar kapasitas kader. Perebutan yang kehilangan etika justru dapat mempersempit ruang organisasi.
Dalam percakapan itu ada yang mengatakan, kalau sesama kader untuk berebut sebenarnya sudah tidak perlu dibicarakan lagi, apalagi kalau sudah mengikuti Darul Arqam. Muhammadiyah ke depan justru akan menghadapi tantangan yang semakin banyak.
Saya memahami maksudnya. Tetapi justru karena kita sesama kader, dan terlebih lagi karena pernah melalui proses perkaderan, persoalan seperti ini menurut saya perlu terus dibicarakan.
Apalagi dialog ini menjadi semakin penting karena tahun depan Muhammadiyah akan memasuki rangkaian permusyawaratan yang sangat menentukan: Muktamar, kemudian Musywil, Musyda, Musycab hingga Musyran.
Di Muhammadiyah, musyawarah selalu berlangsung dengan semangat Islam Berkemajuan, kompetisi yang sehat dan penghargaan atas persaudaraan. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar, tetapi persaudaraan tidak boleh menjadi korban dari perbedaan itu.
Musyawarah bukan sekadar memilih siapa yang akan memimpin. Musyawarah adalah bagian dari proses kaderisasi, evaluasi dan menentukan arah perjalanan organisasi.
Karena itu, kita perlu membangun budaya kompetisi yang sehat sejak sekarang. Jangan sampai momentum permusyawaratan justru dipahami sebagai arena perebutan kekuasaan. Jangan sampai persaudaraan kader menjadi renggang hanya karena perbedaan pilihan.
Musyawarah seharusnya menjadi ruang bertemunya gagasan, kapasitas dan pengabdian, bukan ruang untuk saling menjatuhkan.
Sebab proses suksesi dan regenerasi harus selalu diperhatikan dan diingatkan dengan kewaspadaan.
Pola pikir biasanya tidak lahir begitu saja. Ia sering kali berawal dari realitas. Realitas membentuk perilaku, perilaku yang terus berulang membentuk kebiasaan, dan kebiasaan yang dilakukan secara bersama-sama dapat berkembang menjadi perilaku kolektif.
Karena itu, sesuatu yang awalnya dianggap biasa perlu kita cermati. Jangan sampai perlahan muncul budaya bahwa jabatan harus diperebutkan, kesempatan harus diamankan sendiri, dan kader lain dipandang sebagai pesaing yang harus disingkirkan.
Sesuatu yang terus-menerus dilakukan akhirnya bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Di tengah percakapan itu muncul pula kalimat yang menarik: “Angin berhembus, berhembus ke mana?”
Saya menjawab sambil bercanda, “Ini justru lebih pragmatis, bahkan bisa cenderung oportunis.”
Tentu saja ini bagian dari percakapan ringan. Tetapi ada refleksi penting di dalamnya.
Kita memang harus mampu membaca perubahan zaman. Kita harus adaptif dan tidak boleh kaku. Namun adaptif tidak sama dengan oportunis.
Adaptasi mengubah strategi tanpa kehilangan prinsip. Oportunisme dapat mengubah prinsip demi mengikuti kepentingan.
Kalau arah perjuangan selalu mengikuti ke mana angin berhembus, maka ketika angin berubah, arah kita pun berubah. Ketika kepentingan bergeser, sikap pun bergeser.
Padahal Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki prinsip.
Kader boleh fleksibel dalam strategi, tetapi tidak boleh kehilangan nilai. Kader boleh membaca situasi, tetapi tidak boleh menjadikan situasi sebagai alasan untuk meninggalkan kepantasan dan etika.
Apalagi kita berbicara tentang organisasi dakwah.
Kita tidak sedang mendidik kader hanya agar pandai memenangkan pertarungan. Kita sedang mendidik kader agar mampu memenangkan nilai-nilai kebaikan.
Karena itu, saya kira tidak semua yang diperoleh dalam pelatihan harus diterapkan secara mentah dalam seluruh situasi. Ada konteks yang harus dipahami, ada adab yang harus dijaga, dan ada nilai yang tidak boleh ditinggalkan.
Apalagi sesama kader.
Kalau semua orang berpikir, “Saya harus mendapatkan semuanya. Kalau bukan saya, orang lain yang akan mendapatkannya,” maka organisasi perlahan akan berubah menjadi arena perebutan.
Tetapi kalau cara berpikirnya menjadi, “Saya mendapatkan kesempatan ini, bagaimana agar kader lain juga mendapatkan kesempatan untuk berkembang?”, maka organisasi akan menjadi ruang pertumbuhan bersama.
Di sinilah pentingnya regenerasi.
Regenerasi bukan sekadar mengganti orang lama dengan orang baru. Regenerasi adalah menyiapkan kader yang mampu melanjutkan perjuangan sekaligus memberikan ruang bagi generasi berikutnya.
Begitu pula suksesi.
Suksesi seharusnya bukan pertarungan untuk menentukan siapa yang paling kuat mendapatkan posisi. Suksesi adalah proses memilih siapa yang paling mampu membawa amanah dan memastikan perjuangan tetap berjalan.
Pembicaraan kami kemudian beralih kepada sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan, yaitu Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Di tengah dinamika pergantian pimpinan universitas yang sedang viral itu, ternyata sosok rektor yang ditunjuk menggantikan rektor sebelumnya juga memiliki latar belakang yang menarik bagi kami sebagai kader Muhammadiyah.
Beliau adalah Prof. Ali Rokhman, yang dikenal sebagai kader Muhammadiyah dan Ketua LHKP PDM Banyumas.
Bagi kami, cerita itu menjadi menarik bukan semata-mata karena jabatan rektor, tetapi karena ia kembali membawa kami pada pembicaraan tentang kader, kapasitas dan ruang pengabdian.
Bukankah pada akhirnya kaderisasi memang harus melahirkan manusia yang siap hadir di berbagai ruang kehidupan?
Kader Muhammadiyah tidak harus semuanya berada di dalam struktur Muhammadiyah. Ada yang menjadi akademisi, birokrat, pengusaha, politisi, profesional, guru, dokter dan berbagai profesi lainnya. Yang penting adalah nilai-nilai yang dibawa ketika mereka berada di ruang pengabdian masing-masing.
Karena itu, kita tidak boleh hanya sibuk bertanya siapa mendapatkan posisi di dalam Muhammadiyah. Kita juga perlu bertanya: seberapa banyak kader Muhammadiyah yang mampu memberikan kontribusi terbaik ketika berada di ruang publik?
Kita harus belajar dari sejarah Muhammadiyah.
Para pendahulu kita mendirikan sekolah bukan untuk dirinya sendiri. Membangun rumah sakit bukan untuk keluarganya sendiri. Mendirikan berbagai amal usaha bukan untuk kelompok kecilnya sendiri.
Mereka membangun sesuatu yang jauh melampaui kepentingan dirinya.
Karena itu jangan sampai amal usaha yang dibangun dengan semangat pengabdian justru berubah menjadi ruang perebutan kepentingan.
Kita memang membutuhkan ikan besar. Tetapi kita juga membutuhkan kolam yang sehat.
Sebab ikan sebesar apa pun tidak akan banyak berarti kalau kolamnya rusak.
Begitu juga kader sehebat apa pun tidak akan banyak memberi manfaat apabila lingkungan organisasinya penuh kecurigaan, saling menutup jalan dan berebut kepentingan.
Muhammadiyah ke depan justru akan menghadapi tantangan yang semakin besar. Tantangan pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, politik, perubahan generasi dan berbagai persoalan umat membutuhkan energi besar dari seluruh kader.
Jangan sampai energi itu habis hanya karena kita sibuk mempertengkarkan siapa yang mendapatkan kolam dan siapa yang mendapatkan makanan.
Lebih baik kita memperluas kolamnya.
Lebih baik kita memperbanyak ruang tumbuh.
Lebih baik kader yang sudah besar membantu membesarkan kader yang lain.
Dan menariknya, pembicaraan soal ikan dan kolam itu kemudian berakhir dengan sebuah kalimat sederhana tetapi sangat bijak dari Ketua PDM Serdang Bedagai, yang tentu sudah terbiasa menghadapi berbagai situasi dan kondisi dalam perjalanan organisasi:
“Ini realita dan masih berlangsung, yang terpenting tingkatkan kemampuan dan keimanan serta buat yang terbaik sesuai aturan.”
Saya kira ini justru pesan yang sangat penting.
Kita tidak perlu terlalu sibuk mengeluhkan realitas. Realitas memang ada dan akan selalu ada. Yang bisa kita lakukan adalah terus meningkatkan kemampuan, memperkuat keimanan, menjaga integritas dan memberikan yang terbaik sesuai aturan.
Kalimat sederhana itu kemudian saya katakan: ini pesan yang sangat penting. Akan kita dokumentasikan sebagai narasi berkemajuan.
Sebab mungkin inilah cara Muhammadiyah menghadapi kompetisi: bukan dengan menghindarinya, tetapi dengan mempersiapkan kader agar mampu menghadapinya dengan ilmu, iman, etika dan kemampuan terbaik.
Terlebih ketika kita akan memasuki tahun permusyawaratan Muhammadiyah di berbagai tingkatan. Muktamar, Musywil, Musyda, Musycab dan Musyran harus menjadi momentum memperkuat persaudaraan, bukan memperlebar perpecahan.
Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda dalam menjaga persaudaraan.
Boleh berkompetisi, tetapi jangan kehilangan adab.
Boleh memenangkan musyawarah, tetapi jangan sampai kehilangan ukhuwah.
Bukan siapa yang paling cepat mendapatkan ruang, tetapi siapa yang paling mampu menggunakan ruang itu untuk memberi manfaat.
Bukan siapa yang berhasil mengalahkan kader lain, tetapi siapa yang mampu membuat kader lain ikut berkembang.
Bukan sekadar bagaimana menjadi ikan besar di kolam besar, tetapi bagaimana bersama-sama membuat kolam Muhammadiyah semakin luas, sehat dan penuh kehidupan.
Sebab tentu sudah seharusnya, Muhammadiyah bukan tempat kita saling menghabiskan makanan. Muhammadiyah adalah tempat kita bersama-sama menumbuhkan kehidupan. (*)
–

















